Guru, Dunia Buku, dan Kemajuan Pendidikan

Oktober 21, 2020

 

Dr. Ngainun Naim

 


 

Saya bahagia sekali membaca buku dengan judul Membangun Pembelajaran Inspiratif yang ditulis oleh Bapak Mohamad Ansori ini. Buku ini, menurut saya, sangat mencerahkan. Ditulis oleh praktisi yang setiap hari bergulat dengan pembelajaran. Ada begitu banyak hal menarik dan penting dalam buku ini.

Pak Mohamad Ansori merupakan seorang anggota Grup WA Ma’arif Menulis. Grup ini beranggotakan para guru Ma’arif Tulungagung, meskipun ada beberapa yang berasal dari luar Tulungagung. Fokus utama grup ini adalah membudayakan menulis. Setiap hari selalu saja ada tulisan yang diunggah oleh para anggota grup untuk dibaca, dikomentari, dan dibagi.

Grup ini dibuat pada 11 Maret 2020. Karya bersama dalam bentuk antologi sudah tiga buah. Tentu ini merupakan capaian yang lumayan untuk sebuah grup. Karya mandiri sudah ada beberapa, termasuk karya yang ditulis oleh Mohamad Ansori ini.

Sebagai mentor grup, saya berusaha memberikan semangat menulis kepada para anggota. Hal ini saya lakukan nyaris setiap hari. Saya sangat berharap buku demi buku akan lahir dari grup ini. Kondisi grup memang dinamis, tetapi sejauh ini masih menunjukkan spirit untuk terus produktif dan menghasilkan karya demi karya.

Buku karya Mohamad Ansori ini penting karena mengangkat satu aspek yang sangat penting dalam dunia pendidikan, yakni pembelajaran. Substansi pendidikan terletak pada aspek ini. Pembelajaran yang dilaksanakan secara baik akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tercapainya tujuan pendidikan. Pembelajaran yang memungkinkan tercapainya tujuan tersebut adalah pembelajaran inspiratif sebagaimana diangkat dalam buku ini.

Kunci penting pembelajaran inspiratif terletak di tangan guru. Guru adalah kunci dalam dunia pendidikan. Kemajuan pendidikan tidak akan tercapai tanpa peranan guru. Sebagai kunci, tugas guru adalah “membuka ruang” agar berbagai potensi anak bangsa bisa diberdayakan secara maksimal.

Sesungguhnya peranan penting guru ini sudah menjadi pengetahuan umum. Meskipun demikian tidak semua guru mampu menjalankan tugasnya secara optimal. Ada banyak faktor yang menjadi penghambatanya.

Salah satunya adalah perubahan zaman yang berlangsung sedemikian cepat. Perubahan merupakan hal yang tidak mungkin untuk dihindari. Sikap yang realistis adalah menghadapi perubahan sebagai realitas yang harus disikapi secara kritis-konstruktif.

Adanya pandemi Covid-19 adalah contoh nyata bagaimana perubahan berlangsung sedemikian dahsyat. Dunia pendidikan pun merasakan pengaruhnya yang sungguh luar biasa. Pembelajaran di ruang kelas tidak mungkin lagi dilaksanakan sebagaimana kondisi sebelum pandemi. Pada titik inilah guru dan semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dituntut untuk bersikap kreatif.

Pembelajaran secara online sebagai konsekuensi pandemi memang tidak selalu mudah. Persoalan demi persoalan mengiringi pelaksanaan pembelajaran. Mengeluh tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru langkah-langkah kreatif dan inovatif yang menjadi jawabannya.

Kreativitas tidak terjadi begitu saja. Butuh proses belajar yang berkesinambungan. Guru yang kreatif adalah guru yang terus belajar. Jika seorang guru berhenti belajar maka pengetahuan, sikap, dan wawasannya juga statis. Kecil kemungkinan bagi dikembangkannya kreativitas bagi guru yang berhenti belajar.

Belajar bisa dilakukan secara formal dengan melanjutkan studi. Bagi guru yang sudah menempuh jenjang sarjana, mengambil kesempatan untuk kuliah lagi dengan menempuh jenjang magister merupakan bentuk belajar yang penting. Begitu juga yang sudah magister bisa menempuh jenjang doktor. Lewat studi lagi itu diharapkan wawasan dan pengetahuan seorang guru meningkat yang pada ujungnya bisa meningkatkan kreativitas.

Jika studi lanjut tidak memungkinkan maka guru bisa melakukan belajar secara mandiri. Membaca buku, ikut seminar, dan cara-cara lain yang memungkinkan tambahnya ilmu harus terus dilakukan. Lewat belajar secara berkelanjutan diharapkan kualitas keilmuan seorang guru bisa meningkat.

Kegiatan lain yang juga penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri guru adalah menulis. Ya, menulis—artikel, buku, atau esai—memiliki peranan signifikan dalam konteks peningkatan kualitas diri. Menulis merupakan rangkaian tidak terpisah dari membaca.

Membaca yang diikuti dengan menulis merupakan aktivitas yang sifatnya produktif. Seseorang tidak akan bisa menulis tanpa memiliki budaya membaca. Menulis pada hakikatnya mereproduksi pengetahuan yang telah diperoleh dari aktivitas membaca. Seorang guru yang aktif menulis secara otomatis akan aktif membaca. Konsekuensinya kualitas dirinya akan meningkat.

Menulis dan membaca sesungguhnya merupakan dunia yang tidak terpisah dari kehidupan guru. Aktivitas mengajar adalah aktivitas membaca dan menulis. Pada waktu tertentu guru juga harus menulis untuk kepentingan pembelajaran atau kepangkatan. Realitas ini menunjukkan bahwa dunia literasi (membaca dan menulis) sesungguhnya sangat erat dengan dunia guru.

Persoalannya, aktivitas literasi masih sangat jarang dilakukan oleh guru. Jika pun ada yang melakukannya, jumlahnya terbatas. Dari ribuan guru yang ada di Tulungagung, misalnya, jumlah guru yang mau dan mampu menulis tidak sampai dalam hitungan ratusa. Padahal sesungguhnya para guru itu memiliki potensi untuk menulis.

Potensi itu bisa diibaratkan dengan modal pasif. Ia tidak akan banyak bermanfaat jika tidak digunakan dan diberdayakan. Praktik menulis dan terus menulis merupakan cara efektif untuk memberdayakan potensi menulis.

Mohamad Ansori merupakan sedikit dari guru yang mau dan mampu menulis. Beliau merupakan guru yang potensial. Sebelum masuk di grup WA Ma’arif Menulis, beliau jarang menulis. Semenjak bergabung, beliau menulis nyaris setiap hari. Bahkan setiap hari bisa lebih dari satu tulisan.

Buku ini merupakan kreativitas Pak Mohamad Ansori dalam mengolah tulisan demi tulisan yang ada di blog. Sebagai mentor di grup, saya sangat berbahagia. Sungguh, jika semakin banyak guru yang mau dan mampu menulis maka kemajuan dunia pendidikan Indonesia akan semakin cepat terwujud. Secara pribadi saya menyampaikan selamat kepada Bapak Mohamad Ansori atas terbitnya buku ini. Semoga kawan-kawan yang lain segera menyusul.

 

Tulungagung, 21 Oktober 2020

 

Dr. Ngainun Naim, Dosen IAIN Tulungagung. Aktif dalam kegiatan literasi. Beberapa bukunya yang bertema literasi adalah Proses Kreatif Penulisan Akademik (2017), The Power of Writing (2015), Spirit Literasi: Membaca, Menulis dan Transformasi Diri (2019) dan Literasi dari Brunei Darussalam (2020).

 

16 komentar:

  1. Alhamdulillah...semoga semakin banyak yang bisa menerbitkan buku

    BalasHapus
  2. Mantab Prof... Dari mentor yang luar biasa lahirlah penulis yang luar biasa...

    BalasHapus
  3. Alhamdulilah smg kita tetap kreatif menukus. Terima kasih Bapak inspiraainya

    BalasHapus
  4. Trimakasih pak ilmu dan motivasinya,

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah. Terima kasih sudah menjadi mentor dan motivator terbaik kami di IAIN Bone dalam menulis.

    BalasHapus
  6. Semoga literasi berkembang tak kenal henti

    BalasHapus
  7. Sebagai anggota group bersama p Ansori.... Saya sungguh bahagia dan bangga atas lahirnya buku indah ini.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.