Ini Budi, Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi

Maret 12, 2021

 

Ngainun Naim

 


Bagi generasi sebelum tahun 1990-an dapat dipastikan akrab dengan judul tulisan ini. Ya, kalimat tersebut merupakan bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia. Kalimat itu begitu sederhana tetapi begitu besar pengaruhnya. Begitu melegenda.

Sebagian besar anak Indonesia yang menempuh pendidikan dasar sejak kelas 1 sampai kelas 6 pasti belajar Bahasa Indonesia. Buku bercover tiga anak sekolah berwarna biru itu begitu melegenda. Kami semua mendapatkan pinjaman buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Tetiba ingatan saya kembali ke masa Sekolah Dasar. Masa di mana hari-hari penuh kegembiraan dan belajar ke sekolah tanpa alas kaki. Buku Bahasa Indonesia yang belakangan saya ketahui karya Siti Rahmani Rauf itu menemani hari-hari sekolah dasar saya di tahun 1980-an.

Jika ingat tahun jadi sadar bahwa saya sudah tidak muda lagi. Saya seharusnya melakukan refleksi dan perbaikan diri. Buku Siti Rahmani Rauf adalah refleksi tentang kebajikan. Ya Allah, betapa besar pahala yang beliau peroleh karena karyanya telah mengantarkan jutaan anak Indonesia mengenal dunia membaca dan menulis.

Ibu guru yang lahir di Padang pada tahun 1919 dan wafat di Jakarta pada 10 Mei 2016 dalam usia 96 tahun tersebut—bagi saya—adalah tokoh luar biasa. Beliau berjasa besar tetapi namanya relatif tidak dikenal. Sungguh sebuah ketulusan yang penting untuk diapresiasi.

Seandainya beliau menulis kitab yang kemudian dikaji di madrasah diniyah dan pesantren, saya yakin nama beliau selalu disebut dan dibacakan doa sebelum pelajaran dimulai. Hal ini bertujuan agar belajar yang dijalankan mendapatkan berkah. Karena pernah mengenyam pendidikan pesantren, saya juga ingin melantunkan doa QS Al-Fatihah kepada Ibu Siti Rahmani Rauf. Terima kasih atas jasamu yang sungguh luar biasa. Lahal Fatihah.

 

Trenggalek, 12-3-2021

 

 

 

36 komentar:

  1. Sungguh luar biasa jasa buku ini mengingatkan saya belajar bahasa Indonesi membaca di SD tahun 1973. Sehingga bisa membaca, sungguh pahala melimpah da terus mengalir kepada almarhumah Ibu Siti Rahmani Rauf. Alfatihah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yg sekolah SD ditahun 80 an juga masih kebagian BUDI dan WATI... Masa yg indah sekali.. Dan BUDI tidak pernah tergantikan tenarnya meskipun buku sekarang sudah banyak nama nama selain budi..

      Hapus
  2. Luar biasa, masih ingat dengan kenangan masa kecil

    BalasHapus
  3. Karya abadi Ibu Siti Rahmani Rauf sangat menginspirasi. Meski tak sedikit yang mengkritisi, realitasnya karya kreatif nan ikhlas beliau banyak memudahkan anak negeri memulai belajar membaca .... Semoga ijtihat beliau diganjar dengan berlipat ganda serta mampu melesapkan atas segenap salah khilaf beliau oleh Yang Maha Kuasa nan Maha Pemurah .... Aamiin aamiin ya mujibassa'iliin

    BalasHapus
  4. Semoga kita meneladani beliau. Buku kita juga membuat banyak anak negeri menjadi "terdidik" dan "tercerahkan". Insyaallah

    BalasHapus
  5. Dulu belum banyak hiburan dan buku sehingga setiap murid bisa begitu mencintai buku pelajaran. Karya dan zaman yang luar biasa.

    BalasHapus
  6. Buku yang mengajari saya tentang Diko kata...Pengarang yang TOP... Hebat

    BalasHapus
  7. Ini ibu budi...

    Terima kasih mengajak masa-masa kanak dimana seringkali ditemani atap sekolah bocor. Dan sekarang pun masih ada di pelosok negeri ini...

    BalasHapus
  8. Semoga Wati baik baik saja ya Prof.....hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Dia sekarang jadi guru anggota Pergunu he he he

      Hapus
  9. Aamin. . . semoga keihllasan Beliau menjadi amal hasanah. Buku yg melegenda dan turun menurun, namun dgn itu kami bisa menjadi seperti sekarang ini. . . Al Ilmu Nurun, itu yg benar

    BalasHapus
  10. Itu merupakan ilmu yang bermanfaat... Semoga menjadi amal jariah beliau... Aaamiiin

    BalasHapus
  11. Ilmunya sekarang saya ajarkan ke anak saya...

    BalasHapus
  12. Indahnya masa2 itu......saking senengnya, dulu gambar sampulnya sering saya tiru dalam pelajaran kesenian; melukis sesuka hati.....lahal faatihah. Salam sehat pak Ainun.

    BalasHapus
  13. Dengan tulisan Mas Doktor kita ingat kembali buku itu, terimakasih bu Siti Rahmani Rouf, alfatihah

    BalasHapus
  14. Al-fatihah untuk beliau yang membantu jutaan anak Indonesia pandai membaca. Hal-hal kecil seperti ini yang sering terluput dari kita, Bapak. Terima kasih mengangkat tema ini.

    BalasHapus
  15. Pada saat itu belum banyak penukus buku jadi bu Siti Rahmani Rouf itu luar biasa, pantas diteladani semangatnya

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.