Rayap

September 17, 2020

 

Ngainun Naim

Diserang rayap

 

 

Saya menyukai buku. Karena itu saya membeli dan mengoleksi buku. Jumlahnya cukup lumayan. Meskipun sampai sekarang baru sebagian (kecil) yang mampu saya baca.

Seingat saya, kuliah S-1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya menjadi penanda hasrat mengoleksi buku. Itu di awal tahun 1990-an. Tentu saja saat itu membeli buku butuh perjuangan ekstra keras, bahkan ekstrim. Demi memiliki satu buku saja saya harus mengurangi jatah makan. Saya juga harus bekerja keras menambah uang saku dengan jualan susu segar dan koran.

Tamat S-1 saya memiliki koleksi buku sekitar 70 judul. Sebagian buku kuliah. Saya kira jumlah yang cukup lumayan. Beberapa teman jumlah bukunya jauh lebih banyak. Sementara sebagian lainnya nyaris tidak memiliki koleksi buku.

Seiring waktu, jumlah buku yang saya miliki terus bertambah. Sampai hari ini saya terus menambah koleksi buku. Setiap bulan selalu saja ada buku baru. Saya juga mencetak buku dalam bentuk pdf. Entahlah, sampai hari ini saya belum bisa menikmati membaca di layar hp. Saya lebih nyaman membaca buku yang dicetak.

Sayangnya, terus bertambahnya koleksi buku tidak bisa saya imbangi dari sisi perawatan. Tentu ada banyak alasan. Alasan paling utama adalah soal waktu.

Sebagian besar buku sesungguhnya ada di rak (terbuka) dan lemari. Membersihkan dalam jeda waktu tertentu cukup sering saya lakukan meskipun ala kadarnya. Paling tidak menjaga dari serangan rayap.

Beberapa waktu lalu saya sungguh terkejut. Buku yang dari luar terlihat rapi ternyata dalamnya sudah setengah hancur. Rayap telah melakukan serangan secara terstruktur dan sistematis. Kondisi buku sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Mungkin tinggal tiga puluh persen yang bisa dibaca.

Kasus serangan rayap menjadi pelajaran. Cara teraman untuk menghindari rayap adalah tidak memiliki buku. Tapi jika punya buku ya harus dirawat agar tidak jadi sasaran rayap.

 

Trenggalek, 14-9-2020

24 komentar:

  1. Butuh perawatan ekstra jika punya buku banyak agar tidak berdebu dan dimakan rayap. Thanks, pak.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. He he he. Dimakan rayap kok keren.

      Hapus
    2. Bilih lare pondok ryin di tulisi di bagian sampul dalam, dg tulisan kecil
      بكنكج بكنكج بكنكج...
      Baca👉🏻 begingging3x
      Konon anti rayap
      menurut kkk2 senior.. pripun niku mnurut panjenengan Bpk.Dr.Ngainun Naim?

      Hapus
    3. Saya coba Mbak Niswah. Masalahe kalau semua ditulisi bisa kram tangan saya he he he

      Hapus
    4. كبيكج saya pernah mendapat saran dari seorang teman untuk menuliskan tersebut pada sampul dalam buku. Sejalan dengan apa yang disarankan mba Niswa. Dari mba Niswa menjadi referensi baru. Hehee..

      Hapus
  3. dikasih anti rayap Prf, dan saya malah kena banjir hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah Om, tapi tampaknya rayap lebih tahu mana yang harus diserang he he he

      Hapus
  4. Kutu buku kalah sama rayap buku😁 semangat beli lagi pak😀

    BalasHapus
  5. Harus sekaki2 ditengok2, dibuka2 biar rayapnya takut Pak. Hehehe

    BalasHapus
  6. Solar bisa jadi solusi prof. Kayu, lemari, atau titik serang rayap dikuas sama solar. Dan rayap enggan kembali😀

    BalasHapus
  7. Saya juga pernah mengalami P Dr Na'im, buku terspan di almari buku berkaca, la tidak di tengok ternyata sebagian kena rayap, lembab ini penyebabnya..sebaiknya secara berkala di buka almari dan buku di jemur mengurangi kelembaban...

    BalasHapus
  8. Dibelikan almari kaca Prof.Naim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah Bu. Ini buku yang dari almari kaca yang diserang rayap.

      Hapus
  9. Trimakasih pak bacaanya, saya sangat suka dengan kisah inspiratif panjenegan, ketika membeli buku harus menguranggi jatah makan dan bekerja dengan berjualan... belajar napak tilas perjalananipun panjenegan, banyak koleksi buku.

    BalasHapus
  10. rayapnya pasti tidak sembarangan rayap, setidaknya selevel penulislah, karena serangan ya sudah terstruktur dan sistematis. Bercanda Pak Doktor Naim hehehe

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.