Menyambung Sanad Keilmuan: Catatan Ngaji Kifayatul Atqiya’

Juni 13, 2021


 

Ngainun Naim

 

 

Manusia yang baik selalu melakukan usaha-usaha peningkatan kualitas diri. Semakin hari ibadahnya semakin baik. Perbuatan buruk diupayakan untuk dihindari. Terus tumbuh dan berkembang menuju kebajikan demi kebajikan.

Salah satu upaya penting dalam konteks ini adalah menyambung sanad keilmuan. Ya, saya memiliki banyak guru. Saya juga pernah mondok meskipun ilmu saya sangat dangkal. Tapi saya membangun komitmen dalam diri untuk terus membangun sanad keilmuan dan takdzim kepada kiai-kiai di mana saya pernah belajar.

Tempat saya mondok pada tahun 1991-1994 adalah Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang. Pesantren ini telah memberikan banyak kontribusi penting dalam perjalanan hidup saya sekarang ini. Apa yang sekarang saya capai dalam hidup tidak bisa lepas dari berkah mondok saya. 


 

Ditinjau dari sisi waktu, sudah cukup lama saya selesai mondok di Denanyar. Saya tamat dari pesantren ini 27 tahun lalu. Saya sendiri saat mulai mondok dulu baru berumur 16 tahun dan umur 19 tahun tamat lalu melanjutkan kuliah. Tentang waktu ini segera menyadarkan diri saya jika saya sudah tidak muda lagi sementara amal dan pengetahuan saya masih jauh dari ideal.

 

Persiapan Acara

Meskipun sudah puluhan tahun tamat dari Pesantren Denanyar, saya berusaha menyambung sanad keilmuan. Salah satu caranya adalah dengan aktif mengikuti pengajian Kitab Kifayatul Atqiya’ yang disampaikan oleh KH Abdussalam Shohib. Ini kitab tasawuf kelas tinggi yang berisi tentang ajaran-ajaran untuk memperbaiki diri.

Acara ngaji kitab tahun ini dilaksanakan serangkaian dengan Halal Bihalal. Pelaksana kegiatan adalah PC IKAPPMAM Tulungagung. Kebetulan saya ditunjuk menjadi Wakil Ketua Penasehat. Ini menjadi media bagi saya untuk bersilaturrahim sekaligus merekatkan hubungan dengan sesama alumni. Saya menjadi tahu banyak sosok yang tidak seangkatan. Sungguh berkah luar biasa.

Kegiatan yang dilaksanakan di rumah Mbak Nikmatul Kotimah Sukoanyar Pakel Tulungagung ini terbilang sukses. Sangat kompak. Ratusan alumni Denanyar hadir. Sungguh di luar perkiraan. Tentu ini sangat menggembirakan semua pihak. Tentang pesan-pesan KH Abdussalam Shohib bisa dibaca dari tulisan Ustadz Yusuf Suharto. https://www.nu.or.id/post/read/129409/kunjungi-alumni-kiai-salam-shohib-ada-tiga-kriteria-alumni-denanyar?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook&fbclid=IwAR26ifsHDw99H9wJr5uAiHMLrK05UhL4vcVXGvsORkoj4OZmtWQWZPhh_xE

Sukses kegiatan tidak bisa dipisahkan dari perencanaan dan persiapan. Saya agak tahu bagaimana luar biasanya perencanaan dan persiapan kegiatan. Penentuan tempat dimusyawarahkan beberapa bulan lalu di rumah Mbak Rofiah di Ngunut, lalu dimatangkan di rumah Mas Akhlis Desa Domasan, setelah itu komunikasi secara intensif via WA.

Minggu lalu sesungguhnya ada rapat koordinasi untuk persiapan acara. Saya terpaksa tidak bisa datang karena sedang ada tugas mereview riset di Palangka Raya. Saya meminta maaf kepada kawan-kawan tidak bisa menemani pertemuan.


 

Intinya saya ikut senang acara sukses. Semoga apa yang dilakukan oleh kawan-kawan bisa memberikan berkah dan manfaat dalam kehidupan. Saya meyakini bahwa hidup kita hari ini tidak bisa dilepaskan dari ibadah kita. Kegiatan halal bihalal dan ngaji kitab ini adalah sebentuk ibadah yang semoga bernilai tinggi. Amin.

 

Ngaji Kitab

Ngaji kitab merupakan bagian penting dari ikhtiar menyambung sanad keilmuan. Bagi saya pribadi, ini kegiatan yang harus saya ikuti untuk meningkatkan kualitas diri. Saya harus mengakui secara jujur jika saat mondok dulu kurang maksimal dalam mendalami kitab kuning. Sekarang, ketika ada kesempatan, saya ingin mengisinya dengan hal-hal yang bisa memperbaiki kekurangan di masa lalu.

Pengajian Kitab Kifayatul Atqiya’ pada pertemuan kali ini sampai pada bab Tawakal. Kata ini sangat sering kita dengar tetapi tidak mudah untuk dipahami dan dipraktikkan. Pada kesempatan ini KH Abdussalam Shohib menjelaskan bahwa aspek yang penting untuk kita lakukan dalam hidup ini adalah bersyukur.

Kuncinya ada pada hati kita masing-masing. Mengutip sebuah hadis KH Abdussalam Shohib menjelaskan bahwa syukur itu merupakan tali untuk rezeki yang sudah kita dapat sekaligus kail untuk yang belum didapat. Begitu pentingnya syukur sehingga kita seharusnya mengupayakan untuk selalu bersyukur kepada Allah.

Di zaman modern ini ukuran sukses biasanya adalah materi. Padahal hidup kit aini merupakan anugerah Allah yang sungguh luar biasa. Karena itulah kita harus selalu menjadikan ajaran agama sebagai panutan. Harta bend aitu penting namun bukan untuk kemewahan. Justru kita harus membiasakan diri untuk menjauhi kemewahan.

Dalam penjelasan Kitab Kifayatul Atqiya’ disebutkan bahwa Siti Fatimah ketika mendapatkan makanan maka yang pertama kali diingat adalah ayahnya adalah Rasulullah. Setelah itu beliau mengantarkan makanan tersebut kepada Rasulullah. Menurut KH Abdusalam Shohib, ini mengandung pelajaran yang sangat berharga bahwa kita harus selalu mengingat orang tua kita atas setiap rezeki yang kita peroleh, baik orang tua kita sudah wafat atau masih hidup. Jika sudah wafat kita kunjungi makamnya dan kita doakan. Jika beliau masih hidup kita berikan sebagian rezeki kita karena kita bisa menjadi seperti sekarang ini juga karena jasa beliau.

Ada banyak lagi pelajaran yang bisa saya peroleh dari acara kemarin. Sungguh saya sangat bersyukur pernah mondok di Denanyar Jombang. Semoga keberkahan selalu menyertai kehidupan saya dan kawan-kawan alumni. Amin.

 

 

Trenggalek, 13-6-2021

16 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.