Mengenang Bapak Soetahar, M.A.

Agustus 10, 2021


 

Ngainun Naim

 

Saya baru sampai di rumah saat magrib menjelang. Hari Rabo 4 Agustus 2021 saya ke kampus karena ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan. Kebetulan pekerjaan itu tidak bisa dikerjakan dari rumah. Tentu saya tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat di tengah pandemi yang masih berlangsung.

Saya segera menunaikan shalat magrib. Setelah selesai shalat saya membuka HP. Sebuah kabar mengejutkan muncul di grup UIN SATU TULUNGAGUNG.

Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, telah meninggal dunia bapak soetahar, M.A, semoga husnul khatimah.

Ya Allah. Saya terdiam. Salah satu pendiri UIN SATU Tulungagung berpulang. Berarti generasi awal yang mendirikan UIN SATU sudah berpulang semua.

Tetiba saya teringat sosok Pak Tahar, begitu saya memanggil beliau. Sosok sederhana yang menjalani hidup seolah tanpa beban. Semua berjalan dengan natural.

Kepergian Pak Tahar menyisakan duka mendalam bagi keluarga besar UIN SATU Tulungagung. Beliau merupakan satu-satunya pendiri yang terus mengajar hingga usia sepuh. Cara mengajarnya enak, santai, namun sangat berkesan.

Jika ada seorang dosen yang mengajar dan apa yang diajarkan dikenang oleh para mahasiswa maka ada aspek mendasar yang beliau miliki, yaitu keikhlasan. Ya, aspek itulah yang dimiliki oleh Pak Tahar. Beliau menjalankan tugas mengajarkan secara ikhlas. Saya sangat yakin itu.

Tulisan ini tidak hanya berisi kesan-kesan personal saya tetapi juga merangkum kesan-kesan alumni, murid, dan kolega Pak Tahar yang saya temukan di jejaring sosial. Rangkuman kesan ini saya kira penting untuk memberikan gambaran tentang sosok Pak Tahar dalam perspektif banyak orang.

Kesan-kesan

Seorang alumni IAIN Tulungagung yang kini bekerja di Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI, Mujib Roni Rahardjo, menulis pengalamannya yang unik sebagai mahasiswa Bapak Soetahar, M.A. Mujib menyebut bahwa Pak Tahar adalah sebagai sosok pendidik,  pengajar, dan juga penuntun yang sangat bersahaja. Tentu Mujib tidak asal memberikan penilaian. Interaksi bertahun-tahun dengan Pak Tahar membuatnya memberikan kesimpulan yang semacam itu. Menurut Mujib, kesederhanaan Pak Tahar tidak hanya sekadar dilihat dari tampilan dan cara beliau menjalani hidup, namun juga pada bagaimana beliau mentransformasikan ilmu. Mujib menilainya sangat istimewa. Saat mengajar Pak Tahar sangat rileks. Hampir tidak ada pendapat dan argumentasi yang beliau sangkal dari mahasiswanya. Beliau tidak pernah pula menggiring suatu pemikiran atau teori tertentu pada peserta didiknya. Kesemuanya seakan mengalir begitu saja, namun senyatanya kesemua materi yang beliau sampaikan menusuk dalam dan terpatri dan menancap begitu dalamnya.

Mujib memiliki pengalaman unik dalam pembelajaran dengan Pak Tahar. Suatu ketika Pak Tahar bercerita di kelas perkuliahan. Seperti biasa, beliau bercerita tanpa penekanan dan tanpa ekspresi berlebih, bahkan cenderung dengan seringai candaan. Beliau bercerita bahwa dulu pernah disuruh penguasa saat itu untuk mengambil SK Pegawai (PNS) dengan "bisaroh" kira-kira saat itu senilai satu ekor sapi. Tapi dengan santainya beliau berujar jika memang SK itu haknya, jangankan suruh mengambil dan harus pakai uang, mestinya SK itu diantar ke rumah beliau. Hingga pada akhirnya beliau tidak pernah menerima SK tersebut dan ternyata sampai akhir hayatnya beliau masih bisa mendarmabaktikan segenap hidup untuk kepentingan masyarakat khususnya dunia pendidikan, tanpa SK PNS, tanpa gaji negara. Luar biasa.

Saya kira apa yang dilakukan oleh Pak Tahar adalah sebuah keistimewaan. Sejauh yang saya tangkap, hal itu berkaitan dengan dua hal mendasar, yaitu kejujuran dan prinsip. Bagi Pak Tahar, kejujuran adalah hal mendasar yang harus terus dipegang, meskipun resikonya tidak ringan. Hal ini sejalan dengan prinsip yang beliau pegang. Bayangkan, pengabdian seumur hidup di sebuah lembaga pendidikan tinggi dengan tanpa menjadi PNS tentu bukan hal sederhana dan mudah.

Fikri Amrullah, Dosen UIN SATU Tulungagung menulis bahwa Mbah Tahar—demikian Fikri memanggi beliau—merupakan sosok yang dalam pandangannya sangat luar biasa. Sejalan dengan Mujib dan juga banyak orang lainnya, wujud kekaguman itu pada komitmen beliau untuk mengajar dengan disiplin meskipun beliau sudah sepuh. Beliau tidak pernah pensiun. Fikri menyitir pendapat Mbah Tahar bahwa, "sejatine pensiun iku yo lek wes mati". Kini Mbah Tahar benar-benar sudah pensiun.

Ariez Taufiqin, alumni IAIN Tulungagung dari Trenggalek menulis bahwa Pak Tahar merupakan dosen idola saat Ariez sedang kuliah. Pilihan menjadikan Pak Tahar sebagai idola berdasarkan kepada pembelajaran yang beliau lakukan. Menurut Ariez, Pak Tahar itu santai dan tidak banyak aturan namun ilmu yang beliau berikan bisa masuk. Kata Ariez, “mungkin ini disebut ikhlas”.

Jika mau dikumpulkan, kesan demi kesan tentu akan sangat banyak. Semua kesan saya kira bermuara pada satu hal, yaitu beliau merupakan orang baik, berdedikasi, penuh perjuangan, dan penuh keikhlasan.

Kesan Personal

Bagi saya, meskipun tidak banyak, Pak Tahar telah menorehkan kesan mendalam. Saya mulai mengajar di STAIN Tulungagung sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) pada tahun 2000. Saat itulah saya sering berinteraksi dengan Pak Tahar. Di ruang dosen yang saat itu terletak di utara Masjid, saya acapkali mendengarkan cerita, pemikiran, gagasan, pandangan, dan banyak hal dari beliau.

Sederhana. Ya, itulah kata pertama yang muncul dalam diri saya berkaitan dengan sosok Pak Tahar. Hal itu dapat diamati dalam pakaian, kendaraan, sikap, dan hal-hal yang ada dalam diri beliau. Sungguh, beliau adalah teladan dalam kesederhanaan.

Jangan kemerungsung. Ini nasihat Pak Tahar pada saya beberapa tahun lalu saat saya bertanya apa resep sehat beliau. Menjalani hidup tanpa terbebani dengan tujuan-tujuan yang justru membuat kita tertekan. Memiliki cita-cita itu harus tetapi setelah itu ya dijalani dengan tanpa beban. Tidak perlu stress.

Persoalan merupakan bagian tidak terpisah dari kehidupan. Pak Tahar menjelaskan bahwa tidak ada orang yang tidak memiliki persoalan. Ada yang berat, ada yang ringan. Namun hidup tidak selalu berkaitan dengan persoalan. Salah satu kuncinya adalah pandangan. Jika persoalan dipandang dengan ringan maka akan ringan. Jika dipandang dengan berat ya akan berat. “Saya biasanya mancing atau njolo”, kata Pak Tahar saat menjelaskan tentang usaha yang beliau lakukan jika menghadapi persoalan. Namun aktivitas itu juga beliau lakukan sebagai hiburan.

Saya senang sekali setiap bertemu Pak Tahar. Ada saja pemikiran unik beliau. Juga nasihat-nasihatnya dalam menjalani kehidupan. Kini beliau telah berpulang. Jasa besarnya tidak terlupakan. Jasa beliau pula yang menjadikan SPI Singoleksono bisa bertransformasi menjadi UIN Sayyid Ali Rahmatullah dengan jumlah mahasiswa lebih dari 20.000. Selamat jalan Pak. Semoga amal ibadah beliau diterima dan dosa-dosanya diampuni. Amin.

Trenggalek, 6 Agustus 2021

20 komentar:

  1. Sosok teladan yang bersahaja. Semoga mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya

    BalasHapus
  2. Subhanallah... Saya pribadi tidak mengenal beliau. Saya kagum dengan kepribadian beliau lewat tulisan bapak ngainun Naim...
    Bapak soetahar layak sekali menjadi teladan kita semua

    BalasHapus
  3. Dengan tulisan ini, akan semakin banyak yang mengenal, termotivasi, terinspirasi dan mendoakan kebaikan untuk nya....

    BalasHapus
  4. Aamiin smg Husnul khulotimah. Luar biasa teladan yg diberikan

    BalasHapus
  5. Selalu ada pesan moral buat pembaca blog ini. Maayaallah

    BalasHapus
  6. Tulisan yg sangat menginspirasi, walau belum kenal tapi jadi merasa ikut empati, semoga husnul khotimah. Suri teladan akan kita kenang sepanjang masa..

    BalasHapus
  7. Semoga Husnul Khotimah.. Aamiin. Beliau memang istimewa.

    BalasHapus
  8. Jangan kemerungsung. Ini nasihat Pak Tahar pada saya beberapa tahun lalu saat saya bertanya apa resep sehat beliau. Menjalani hidup tanpa terbebani dengan tujuan-tujuan yang justru membuat kita tertekan. Memiliki cita-cita itu harus tetapi setelah itu ya dijalani dengan tanpa beban. Tidak perlu stress. Luar biasa pesannya.

    BalasHapus
  9. Bapak soetahar dosen yg sangat inspiratif kenangan yg sangat mendalam saat menjadi mahasiswa beliau adalah tentang kesederhanaan dan keikhlasan beliau saat mengajar...selamat jalan bapak semoga Allah Swt meberikan tempat terbaik untuk panjenengan

    BalasHapus
  10. Sangat inspiratif untuk tulisan kenangan dengan alamrhum Bapak Soetahar

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.