Perjumpaan Tak Terduga

Juni 29, 2024


Ngainun Naim

 

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an berdengar dari hotel tempat saya menginap. Tidak hanya dari satu tempat tetapi dari beberapa penjuru. Ini merupakan pertanda bahwa waktu menjelang Shalat Jum’at [17 Mei 2024].

Informasi yang saya peroleh dari seorang staf hotel bahwa Shalat Jum’at bisa dilaksanakan dari Masjid Kejaksaan Tinggi Jawa Timur yang ada di Jalan Ahmad Yani No. 54 Surabaya. Lokasinya berhadapan dengan hotel tempat saya menginap yang ada di jalan Ahmad Yani Nomor 71 Surabaya.

Secara geografi memang cukup dekat namun untuk sampai lokasi ternyata tidak mudah. Ada jalan raya yang sangat padat dan penuh risiko. Meskipun ada alat bantu penyeberangan, lalu lintas kita tidak selalu ditaati aturannya. Bahkan lebih banyak yang dilanggar. Berdasarkan pertimbangan itu, saya tidak memilih masjid tersebut untuk melaksanakan Shalat Jum’at.

Saya kemudian mencari informasi masjid lain yang menyelenggarakan Shalat Jum’at. Masjid terdekat adalah Al-Jihad yang lokasinya di seberang Maspion Square Margorejo. Saya lihat di Goegle Map jaraknya sejauh 400 meter. Tidak terlalu jauh.

Bersama seorang teman saya berjalan menuju lokasi. Terik matahari lumayan terasa. Jalanan tidak terlalu padat.

Masjid yang kami tuju berada di sebuah gang padat penduduk. Bangunannya kecil, sepertinya hanya mampu menampung 60-an orang.

Sesaat saya segera masuk masjid dan menunaikan shalat sunnah. Tidak berselang lama khatib naik mimbar. Tema khutbah yang diangkat adalah tentang pentingnya membaca Al-Quran. Khatib mengajak jamaah untuk mengawali hari dengan membaca Al-Qur’an, nukan dengan membuka gawai. Ini penting bagi umat Islam karena posisi pentingnya Al-Qur’an bagi kehidupan.

Membaca Al-Quran penting untuk dilakukan secara istiqamah. Soal seberapa banyak yang dibaca, disesuaikan dengan kondisi masing masing. Aspek yang utama adalah membacanya secara rutin.

Usai Shalat Jumat saya terkejut. Duduk persis di samping saya seseorang yang sangat saya kenal. Beliau adalah Gus Ahmad Nizar.

Tetiba ingatan melayang ke masa masa mondok di Asrama Sunan Ampel PP. Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang. Saat itu salah satu kegiatan santri adalah menambah hafalan mufradat lalu menyusunnya dalam bentuk kalimat.

Kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kompetensi bahasa Arab santri. Setiap hari santri dikondisikan untuk menambah kosa kata. Salah satu senior yang mendampingi kami belajar adalah Gus Ahmad Nizar.  Beliau senior yang ngemong masa belajar ketika itu menjadi pondasi belajar pada masa masa selanjutnya.

Saya sungguh senang berjumpa dengan Gus Nizar. Beliau mengajak saya ke ndalem beliau yang merupakan sebuah pesantren. Jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid.

Pesantren Putri Annuriyah memiliki ratusan santri. Jumlahnya tidak tetap namun selalu di atas 200 santri. Sebuah jumlah yang banyak dengan lahan yang terbatas.

Sesaat ketika berbincang, istri Gus Nizar menemui kami sambil membawa tas. Rupanya oleh-oleh. Sungguh di luar dugaan. Bertemu tak terduga dan secara tak terduga diberi oleh oleh. Sungguh sebuah anugerah yang tidak terduga.

Kami asyik berbincang dengan tema random. Tentang masa lalu, perjuangan, kawan kawan, keluarga, dan banyak hal lain.

Sudah hampir jam 13.00 WIB. Saya pamit karena agenda selanjutnya sudah menunggu. Senang sekali  bisa bersua.

 

Tulungagung, 20 Mei 2024

6 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.