Perempuan, Ruang Privat, dan Ruang Publik

Mei 07, 2020

Ngainun Naim


Mencari ilmu sekarang ini sangat besar peluangnya. Kuliah gratis bisa ditemukan di banyak ruang digital. Tawaran seminar bermunculan dalam berbagai format. Ada yang gratis, ada yang berbayar. Ada yang rumit persyaratannya, ada yang nyaris tanpa ikatan dan aturan. Tinggal kita mau pilih yang mana.
Realitas ini sesungguhnya cukup menggembirakan. Rasanya belum pernah ada masa di mana orang bisa mengais ilmu sedemikian mudah. Justru karena itulah kesempatan ini seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin.
Semuanya memang tergantung kepada kita. Jika kita serius mengikuti kelas tertentu, saya kira kemajuan diri akan kita peroleh. Tetapi jika tidak, ya hanya menghabiskan waktu dan pulsa saja.
Di lingkungan tempat saya bekerja ada inovasi seiring wabah corona ini. Inovasi tersebut bertajuk “Bedah Penelitian, Publikasi Ilmiah, Pengabdian Masyararakat, dan Keilmuan”. Acara via aplikasi Zoom dan juga Youtube ini, menurut saya, menghadirkan perspektif baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Lewat acara ini, hasil-hasil penelitian kini diperbincangkan, disosialisasikan, dan didiskusikan dengan peserta yang sangat banyak.
Saya ingin mengambil contoh Tadarus Litapdimas seri 4. Kuota 500 di aplikasi Zoom sudah penuh sesak beberapa saat menjelang acara dimulai. Saya yang baru bisa bergabung menjelang pukul 10.28 menit sudah terlempar dari kompetisi. Tertulis bahwa kuota sudah penuh. Saya pun kemudian masuk ke Youtube. 

Luar biasa. Apresiasinya sungguh semarak. Masing-masing akun menyatakan kehadirannya. Beberapa pertanyaan juga diajukan secara tertulis. Tentu ini fenomena produktif yang konstruktif.
Ya, pandemi akibat Covid-19—selain menimbulkan banyak persoalan—ternyata juga memunculkan banyak kreativitas. Tadarus Litapdimas adalah salah satu contohnya. Kini sosialisasi hasil penelitian bisa didiskusikan dengan jamaah yang sangat luas. Tidak pernah hal semacam ini terbayangkan sebelumnya.
Pada Tadarus Litapdimas hari selasa, 5 Mei 2020, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru. Pengetahuan dan perspektif yang lebih luas terkait gender dan peran perempuan. Bagi saya, kajian ini sungguh luar biasa.
Tadarus ke-4 topiknya sangat keren. Sebagaimana banyak disosialisasikan di berbagai grup WA, topiknya adalah “Bukalah Mata pada Perempuan: Daulat Tubuh, dan Tahta”. Adapun narasumbernya Irma Riyani, M.Ag., Ph.D dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang menyampaikan materi ”Islam, Women’s Sexuality and Patriarchy in Indonesia”, dan Nursaid, S.Ag., M.A., M.Ag dari IAIN Kudus yang membawakan materi “Ratu Kejayaan Maritim Nusantara: Relasi Kuasa Ratu Kalinyamat di Tengah Hegemoni Lelaki dalam Masyarakat Pesisir”. Sedangkan sebagai pembahas adalah Dr. Abdur Rozaki, M.Si dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Irma Riyani menyampaikan materinya secara menarik. Ya, materi tentang perempuan dan seksualitas. Materi yang saya kira menjadi konsen kawan-kawan yang bergiat di Studi Gender. Sebagai orang yang awam dalam persoalan gender, saya baru mengerti bahwa kegelisahan akademis Irma Riyani sesungguhnya sangat fundamental. Suatu hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari tetapi jarang mendapatkan perhatian. Aspek tersebut adalah seksualitas pernikahan.
Bagi kita, pernikahan itu persoalan privat. Persoalan religius yang seharusnya disadari dan dilandasi dengan nilai-nilai dan ajaran agama. Tetapi bagi Irma, justru di titik inilah persoalannya. Banyak persoalan dalam relasi seksual di sebuah pernikahan.
Sebagai orang yang tidak terlalu paham persoalan gender, saya menemukan banyak hal baru yang menambah khazanah pengetahuan. Persoalan relasi seksual dalam pernikahan seharusnya memang berjalan secara baik, saling pengertian, dan saling memahami. Tetapi kita tidak menutup mata terhadap adanya berbagai persoalan dalam relasi ini. Namun, persoalan ini tertutup dan tidak terekspresikan karena berbagai persoalan.
Irma menyebut—sejauh yang bisa saya tangkap—dua hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, justifikasi budaya. Ada budaya yang membatasi. Ada tabu. Persoalan demi persoalan bisa menjadi tersembunyi dan tidak terungkap karena aspek budaya ini.
Kedua, aspek teks-teks agama. Saya menangkap sesungguhnya bukan pada teks agamanya tetapi pada penafsiran terhadap teks agama. Di sini subjektivitas penafsir bisa muncul, termasuk kemungkinan timpang dari sisi relasi antara laki-laki dan perempuan.
Narasumber kedua adalah Nur Said. Ia menjelaskan banyak hal yang sungguh luar biasa. Khazanah pengetahuannya sangat luas, khususnya tentang sejarah. Pembacaannya sangat kritis. Saya menikmati bagian demi bagian dari penjelasan Nur Said dalam waktu 10 menit sebagaimana yang diberikan oleh moderator, Dr. Mahrus, M.Ag.
Nur Said pada paparannya menjelaskan tentang beberapa hal. Pertama, perempuan sesungguhnya memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Ratu Kalinyamat adalah eksemplar yang penting untuk dijadikan sebagai model. Berbeda dengan Irma yang fokus di ruang privat, Nur Said menghadirkan peran perempuan di ruang publik. Ini tentu fenomena menarik karena perempuan relatif kurang mendapatkan perhatian untuk dihadirkan posisi dan peranannya dalam ruang publik.
Kedua, Nur Said menghadirkan perspektif inovatif yang dilakukan oleh Ratu Kalinyamat. Ukiran Jepara yang cukup dikenal sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari peran dan posisi penting Ratu Kalinyamat.
Ketiga, dimensi spiritualitas. Dimensi ini saya kira melengkapi paparan Irma. Kesuksesan Ratu Kalinyamat tidak bisa dilepaskan dari aspek ini. Aspek ini saya kira penting menjadi perhatian karena secara umum kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas.
Catatan ini tentu subjektif sifatnya. Jika Anda ingin mendalami materinya, silahkan kunjungi portal Arrahim.id. Di sana tersedia artikel-artikel bagus dari hasil penelitian yang pernah didiskusikan. Juga artikel lain yang penuh dengan spirit pencerahan. Salam.

Trenggalek, 6 Mei 2020

26 komentar:

  1. Sahe...nambah wawasan baru

    BalasHapus
  2. Terima kasih Pak, barokallah

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah .. terimakasih bapak

    BalasHapus
  4. Matursuwun pak, meskipun dengan adanya wabah covid 19 taseh saget tolabulilmi dateng panjenegan pak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mas Alif. Semoga sukses selalu ya.

      Hapus
  5. Selalu memberi inspirasi dlm talab Al ilm..Allah yubarik Fina.

    BalasHapus
  6. Alhamdulilah.. makasih pak tercerahkan

    BalasHapus
  7. alhamdulillah, selalu bikin tambah ilmu , makasih

    BalasHapus
  8. Hikmah Corona, inovasi tiada henti...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.