Habib Pemburu Notes

Juni 17, 2020
Ngainun Naim


Aktivitas saat perjalanan yang saya sukai adalah mendengarkan radio. Kadang ada siaran berita, musik, atau ceramah agama. Termasuk  dalam ceramah ini adalah pembacaan kitab kuning. Mendengarkan ceramah atau pembacaan kitab kuning itu rasanya asyik sekali. Saya merasa seolah berada di majelis. Merasa seolah sebagai santri yang menyimak penjelasan kiai.

Suatu sore, entah dari stasiun radio mana, saya mendengarkan ceramah yang asyik. Kalau tidak salah dengar yang berceramah adalah Habib Novel. Salah satu hal yang saya tangkap dari ceramah Habib Novel adalah kisah beliau yang hobi berburu Notes. Ke mana pun pergi, beliau menyempitkan diri untuk berburu notes dan juga pulpen. Notes dengan ukuran kecil yang bisa masuk saku sungguh menyenangkan beliau.

Lewat notes kecil itu, beliau bisa mencatat apa saja. Beliau berkisah pernah menulis di notes kalam-kalam Habib Umar Al-Hafidz saat ceramah di Solo. Poin-poin pentingnya beliau catat. Beliau baca dan cermati catatan demi catatan dari ceramah Habib Umar.

Saat membaca kitab, bagian demi bagian yang penting juga beliau catat. Hal ini memudahkan beliau memahami dan mengingat apa yang telah beliau pelajari. Tentu mencatat dalam makna ini bukan sekadar memindahkan teks, tetapi mengikat makna.

Bagi Habib Novel, mencatat itu sangat penting. Beliau berkisah bagaimana Imam Syafi'i bekerja keras mencatat saat kertas belum ada. Sungguh perjuangan yang tidak ringan. Perjuangan keras mencatat itu yang menjadi bagian penting dari aktivitas keilmuan Imam Madzhab besar tersebut.

Beliau juga berkisah beberapa ulama lain yang juga rajin mencatat. Penekanan pentingnya mencatat dari kisah demi kisah yang beliau sampaikan sungguh menarik. Mencatat, meskipun kelihatan sederhana, sesungguhnya kaya manfaat.

Bagi pecinta dunia literasi, mencatat adalah bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Catatan adalah modal menulis, perekam ide, penyimpan data, dan bank ilmu yang bisa diambil saat dibutuhkan. Tentu bukan sakadar mencatat tetapi menelaah kembali catatan yang telah dihasilkan. Juga memindahkannya ke komputer agar catatan lebih rapi dan tidak mudah hilang.

Saya membayangkan betapa banyak sekali data yang kita miliki juga mencatat menjadi budaya. Tokoh-tokoh sukses dalam banyak bidang kehidupan umumnya juga sangat rajin mencatat. Konon Thomas Edison meniggalkan sekitar 5 ribu buku tulis saat meninggal. Segala hal ia catat di situ.

Saya tidak perlu menguraikan lagi manfaat mencatat. Terserah Anda mau mengikuti kisah ini dengan mencatat atau tidak. Memang tidak mudah tetapi jika ditradisikan, mencatat tidak sulit.

Trenggalek, 17 Juni 2020

30 komentar:

  1. Habib Novel, tokoh hebat dengan hobi yang luar biasa hebat. Terima kasih Prof. Info berharganya lewat tulisan ini

    BalasHapus
  2. Terkait notes dan mencatat, sy ingat almarhum ayah saya Berpesan kemanapun saya pergi jangan lupa membawa pulpen dan kertas,krn bila kita cuma melihat atau medengar ya cuma selintas dan tidak ada bekasnya, tp kalau ditulis akan bisa memperpanjang igatan sehingga sy terbiasa kalau mengikuti materi tangan saya hrs dg menulis walau kadang tulisan itu tidak bisa kita baca.

    BalasHapus
  3. ilmu yang harus diterapkan ...
    terima kasih pak dosen...

    BalasHapus
  4. Sangat menginspirasi Prof. Saya teringat almarhum ayahanda yang rajin mencatat. Saat kami dewasa, kami masih menemukan catatan beliau pada saat ia masih di SLTA. Catatan kesan dan pesan beliau tentang teman-temannya termasuk tentang kisahnya hatinya.

    BalasHapus
  5. Catatan menjadi pengingat kita..Yang mudah lupa..betul Bpk Prof..

    BalasHapus
  6. Catatan yang inspiratif pak Doktor. Pengalaman yang menarik.

    BalasHapus
  7. Inspiratif. Berbekal notes kecil u mengikat ilmu.

    BalasHapus
  8. Semoga kelak saya bisa menjadi penulis yg bermanfaat

    BalasHapus
  9. Ya...seperti literasi yg dilakukan oleh Imam Al Ghazali...juga Zakiah Darajat...dan beberapa penulis lain..

    BalasHapus
  10. Matur nuwun Pak, saya dulunya hobi mencatat. Bismillah akan saya mulai kembali Pak...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.