Kunci dan Alasan

Juni 20, 2020

Ngainun Naim


“Jika dari sepuluh orang peserta pelatihan ini separuh saja yang konsisten menulis, itu sudah revolusioner”, kata seorang trainer sebuah pelatihan. Saya yang mendengarkan pernyataan tersebut tertegun. Begitu sulitkah untuk konsisten menulis?
Saat itu saya masih mahasiswa S-1. Masih penuh dengan jiwa dan semangat perjuangan yang tinggi. Aspek sosial, psikologis, dan hal-hal lainnya tidak banyak dihitung. Bagi saya, konsisten menulis itu bisa diperjuangkan.
Kini, di usia yang tidak muda lagi, saya menemukan realitas yang tidak seindah bayangan. Saya menjadi sadar bahwa hidup itu sesungguhnya bergerak di antara dua kutub: idealitas dan realitas. Jadi kita ini seperti berlari dari angka 0 menuju 100. Angka 0 adalah gambaran realitas, sementara angka 100 adalah gambaran idealitas. Jika idealitas yang kita impikan terpenuhi, mungkin derajatnya mendekati 100.
Perspektif semacam itulah yang sekarang ini saya pergunakan untuk memotret tradisi menulis. Ya, saya kebetulan memiliki beberapa grup WA kepenulisan. Saya berniat mensedekahkan waktu dan tenaga untuk membina grup-grup tersebut. Tentu berdasarkan kemampuan. Kadang banyak waktu, namun tidak jarang hanya sekilas saja. Tujuannya satu: semua anggota grup mau dan mampu menulis. Jika ini terwujud, berarti ada di angka 100.
Tetapi saya menghadapi realitas yang tidak seperti itu. Sebagian besar grup, hanya sebagian saja yang mau dan mampu menulis. Mereka semuanya sesungguhnya mampu menulis. Anggota grup yang kebetulan saya bina adalah orang-orang dengan pendidikan yang jauh dari cukup untuk menulis.
Modal pendidikan jelas berlebih. Ada yang lulusan S-1, S-2, dan bahkan S-3. Modal pendidikan itu lebih dari cukup untuk menulis. Ali Audah, penulis yang sangat terkenal itu, ternyata tidak tamat SD. Ajip Rosidi, sastrawan yang banyak menghasilkan buku, hanya lulusan SMP. Konon D. Zawawi Imron juga lulusan SMP. Ahmad Tohari, hanya lulusan SMA. Nah, ini bukti bahwa pendidikan tidak berkorelasi secara signifikan dalam menghasilkan karya. Jika pendidikan yang semacam itu bisa menghasilkan karya, semestinya yang lebih tinggi memiliki kemampuan yang jauh lebih besar untuk berkarya.
Persoalannya ada pada satu kata: MAU. Jika mau, selalu saja ada jalan untuk mewujudkan kemauan tersebut. Tentu, hal utama yang harus dilakukan adalah menggenjot MAU tersebut sampai titik maksimal. Seperti ketika mahasiswa membuat skripsi menjelang deadline, seperti itulah seharusnya mental yang dimiliki agar menghasilkan karya. Nah, perpaduan mau dan mampu itu yang pada akhirnya menghasilkan tulisan.
Intinya saya ingin menegaskan bahwa kunci utama menulis itu satu: MENULIS. Tidak perlu banyak berdebat tentang teori. Langsung saja praktik. Sementara hambatan menulis itu satu: ALASAN. Nah, jika memang ingin menulis maka segeralah MENULIS, jangan banyak ALASAN.
Saya mengenal baik anggota beberapa grup di mana saya berkiprah. Mereka semuanya orang potensial. Butuhnya adalah motivasi untuk menulis. Sejauh ini saya terus memotivasi untuk menulis. Pada titik tertentu saya mulai malu untuk mengajak menulis. Rasanya terlalu sombong terus mengajak orang untuk menulis tanpa sambutan. Rasanya malu juga mengajak tanpa sambutan.

Trenggalek, 20 Juni 2020

38 komentar:

  1. Bapak Naim, saya merasa benar-benar terenyuh membaca ini. Mohon maaf jika belum bisa membanggakan Bapak.

    BalasHapus
  2. Titik nadir perputaran semangat... Semoga segera merangkak ke Zenith nya
    Kami bangga menjadi murid menulis panjenengan

    BalasHapus
  3. Kami masih terus butuh motivasi jenengan 🙏🙏🙏

    BalasHapus
  4. Selalu membangkitkan semangat jika membaca tulisan bpk..Jgn lelah membimbing kami pak...🙏🙏

    BalasHapus
  5. Ada saja motivasi buat saya pak dosen...
    Terima kasih

    Segera menulis jangan banyak alasan

    BalasHapus
  6. Jika ada satu saja yang mengambil manfaat dari ilmu jenengan itulah tabungan amal. Padahal saya yakin bukan cuma satu atau dua org yg telah terinspirasi... Terus semangat membimbing kami pak

    BalasHapus
  7. Terima kasih karena selalu memotivasi kami dalam menulis. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Jika sudah mau menulis
    Maka hilangkan alasan yg membuat kamu tidak mau menulis.

    BalasHapus
  8. Setuju pak...menulis ya menulis, menulis dan menulis...

    BalasHapus
  9. Jangan lelah untuk memotivasi kami, karena itu sangat kami butuhkan

    BalasHapus
  10. Trimakasih pak atas ilmunya, smoga bpk tetap siap membimbing kami, Insyaalloh saya akan memupuk kemauan walau dr kemampuan harus terus beoajar. Jangan lelah memicu kami.
    Dan dg tulisan bpk ini sbuah strategi pemicu MAU MENJADI MAMPU.

    BalasHapus
  11. Motivasi dan provokasi tetap sy butuhkan, seharusnya saya yang malu jika ajakan menulis bwlim bisa sy laksanakan, mohon maaf bukan berarti sy mengabaikan ajakan Pak Doktor, sy berusahaenwpis ALASAN hbatan menulis. Twrima kasih Pak Doktor..

    BalasHapus
  12. Semangat pak. Mengajak dan menunjukkan jalan baik, memang berat.
    Nabi Nuh ratusan tahun hanya diikuti segelintir umat.

    BalasHapus
  13. Motivasi bpk seperti lilin yg menyala di kegelapan. Menerangi banyak orang. Tanpa panrih..semoga Allah membalas semua ke baikan bpk. Amiinn..

    BalasHapus
  14. Saya meneteskannair mata membaca tulisan bapak sekaligus memotivasi saya. Pendidikan saya hanya sampai s1. Ketika bertemu dengan teman yang sedang melanjutkan s2, ia mengatakan jika referensi yg kita pakai dari buku karya tamatan s1, maka penguji akan tertawa. Nyali saya pun melemah untuk menulis .tapi saya katakan bhwa saya menulis bukan untuk bahan referensi bukan ilmiah. Saya hanya ingin bertutur melalui tulisan barangkali ada manfaatnya. Saya kadang malu krnnhanya pendidikan rendah mengajak teman teman di grup saya untuk menulis. Malu krn mereka tak tergerak untuk membaca tulisan saya. Terima kasih bapak menyemangati saya.saya hanya mau bertutur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bu. Tulisan saya di blog saya usahakan berasal dari "kedirian" saya. Jika bermanfaat bagi Ibu dan kawan-kawan, saya bersyukur.

      Hapus
  15. Semoga kami bs tetap istiqamah menulis Prof trm ksh

    BalasHapus
  16. Saya berdoa berdoa semoga bapak selalu diberi kesehatan dan tetap mengalirkan semangat literasi bagi kita semua. Maaf kalo selama ini respon atas motivasi itu belum maksimal.

    BalasHapus
  17. Sy biasa "tertidur" sehingga tidak sempat menulis, terbuai "mimpi" sehingga fakta tulisan sulit mewujud fakta, teruslah "membangunkan" murid Gus ini. Salam literasi dari IAIN Bone

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah,semoga bisa "taubat" dari kemalasan menulis...

    BalasHapus
  19. Meninggalkan komentar pada sebuah tulisan, bagi saya adalah salah satu bentuk apresiasi. Baik berupa kritik, saran maupun ucapan terima kasih atas bersedianya penulis membagi ilmunya. Ini juga salah satu bentuk kemauan untuk menulis.

    Terima kasih, bapak.
    Terima kasih karena telah mau membagi motivasi dalam berliterasi.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.