Membaca dan Kepentingan Menulis

Agustus 11, 2020

 

Ngainun Naim

 

Membaca dan menulis itu satu rangkaian. Masing-masing saling mendukung dan menguatkan. Tidak ada yang bisa menggantikan satu sama lain karena keduanya saling melengkapi. Juga tidak perlu diperdebatkan mana yang terlebih dahulu; membaca atau menulis.

Literasi mensyaratkan membaca yang dilakukan secara konsisten. Tanpa membaca, sulit bagi seseorang untuk bisa menulis secara baik. Membaca buku saja tidak cukup. Perlu direnungkan, dihayati, dan dikontekstualisasikan. Peneliti LIPI, Prof. Dr. Anas Saidi menyebutnya sebagai “dikunyah-kunyah”.

Secara praktik, jika kita membaca satu dua halaman, hentikan sejenak. Beri kesempatan otak kita untuk mengunyahnya. Ajukan beberapa pertanyaan, misalnya: ini tadi membahas apa? Mengapa seperti itu? Apa yang bisa saya peroleh?

Tentu pertanyaannya bervariasi, tergantung kita yang menyusunnya. Intinya setelah membaca itu ada yang masuk ke otak. Membaca tanpa jeda biasanya sulit menemukan sesuatu yang bisa berhenti di otak karena tidak memberikan kesempatan kepada otak untuk mengunyah bacaan yang sedang kita jelajahi.

Sahabat-sahabat saya sesama penulis memiliki kebiasaan membawa buku catatan saat membaca. Fungsinya untuk mencatat aspek-aspek penting hasil bacaan. Bukan untuk memindah kutipan—meskipun kadang juga dilakukan—tetapi untuk mencatat pokok pikiran dan mengembangkannya.

Budaya membaca yang diikuti dengan “mengunyah” hasil bacaan ini merupakan modal besar dalam menulis. Apa yang kita baca dan kita kunyah akan masuk ke dalam pikiran. Saat kita menulis, secara refleks gugusan pengetahuan yang kita miliki masuk dan mewarnai tulisan yag kita hasilkan.

Apakah semua bagian buku harus kita baca? Saya membaca dalam dua konteks. Pertama, membaca dalam konteks menikmati bacaan. Jadi ya memang betul-betul saya baca sejak bagian awal buku sampai bagian paling akhir. Kalimat demi kalimat saya jelajahi. Bagian demi bagian yang penting saya catat. Kumpulan catatan ini sangat bermanfaat ketika saya menulis.

Membaca model ini memang lama. Di tengah kesibukan yang padat merayap, saya berusaha dan berjuang untuk membaca. Memang tidak mudah, tetapi saya bersyukur memiliki kesibukan karena dengan adanya kesibukan berarti saya bekerja. Berarti saya memanfaatkan waktu. Bukankah dulu saya mencari pekerjaan? Sekarang tugas saya bukan mengeluhkan ini dan itu tetapi bagaimana menjalani semuanya sebaik mungkin yang saya mampu.

Idealnya memang membaca dan menulis itu dilakukan dalam waktu luang. Tapi idealitas itu tidak akan pernah terwujud seratus persen. Ada saja hambatannya. Maka cara yang terbaik tidak perlu menunggu kondisi ideal itu terwujud, tetapi bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada, sekecil apa pun, untuk membaca da menulis.

Satu buku membutuhkan waktu beberapa hari. Saya tidak pernah—atau tepatnya sangat jarang—menyelesaikan satu buku dalam satu atau dua hari. Tujuan saya membaca buku itu untuk paham, bukan khatam. Biar seminggu atau dua minggu tetap saya usahakan untuk saya tekuni. Di situlah saya menemukan kenikmatan luar biasa. Saya sangat bersyukur bisa menjelajahi belantara kata di saat kawan-kawan yang lain sibuk membangun berjuta alasan untuk tidak membaca dan menulis.

Menulis artikel untuk jurnal ilmiah berbeda konteks membacanya. Membaca untuk kepentingan artikel jurnal, tentu tidak harus tuntas. Tujuan kita adalah mencari referensi yang mendukung pendapat kita. Beberapa kawan saya lihat mereka justru bersemangat mencari kutipan demi kutipan tetapi tidak jelas sesungguhnya posisinya sebagai penulis ada di mana.

Semestinya pendapat kita sudah jelas baru didukung kutipan. Maka membacanya ya sesuai konteks mencari pendapat. Tidak perlu membaca buku dari awal sampai akhir. Gunakan saja indeks atau pencarian cepat. Setelah ketemu segera dicatat. Sesudah itu kembalikan buku ke tempat semula.

Begitu juga dengan jurnal ilmiah di internet. Cari jurnal yang sesuai, baca secara cepat, kutip bagian yang diperlukan, dan segera tutup filenya. Begitu saja.

Nah, intinya saya ingin menyatakan bahwa membaca itu basis menulis. Tanpa membaca, sulit menghasilkan tulisan yang baik. Menulis jenis apa pun, basisnya membaca. Bukan soal mana yang terlebih dulu harus dilakukan—membaca atau menulis—tetapi membaca bisa dilakukan sesuai konteks. Menulis pun bisa lancar karena membaca.

 

Trenggalek, 11 Agustus 2020

 

 

27 komentar:

  1. Membaca adalah mengumpulkan modal untuk menulis....

    BalasHapus
  2. Terima kasih Bapak, menginspirasi penulis pemula

    BalasHapus
  3. Ibarat penjual kulakan prof

    BalasHapus
  4. Trima kasih Pak Naim, pencerahannya iqro' bacalah, tulislah, byk baca banyak tulis. S 7

    BalasHapus
  5. Terima kasih penjelasannya Pak.

    BalasHapus
  6. Membaca sambil 'mengunyah'. Ilmu baru prof. Terimakasih.

    BalasHapus
  7. Menjaga konsistensi untuk membaca dan menulis.. Luar biasa.

    BalasHapus
  8. Membaca adalah modal awal menulis

    BalasHapus
  9. Permisi Bapak, saya mau bertanya. Ketika kita ingin mengembangkan suatu kalimat yang merupakan sebuah intisari, tetapi sebelumnya kita tidak punya bekal apapun, apakah kita akan kesulitan dalam mengembangkannya?

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.