Menulis dan Kebiasaan

Agustus 01, 2020

Ngainun Naim

 

Puluhan artikelnya tembus dan dimuat di jurnal internasional bereputasi. Prestasi itu mengantarkannya menjadi intelektual papan atas di Indonesia. Ia juga menjadi reviewer beberapa jurnal terindeks Scopus.

Tidak semua akademisi Indonesia mampu seperti dia. Hanya sebagian kecil saja yang bisa menulis dan menerbitkan artikelnya di jurnal internasional. Sebagian menulis, mengirim, dan ditolak. Sementara sebagian besar lainnya hanya sebatas bercita-cita saja. Menulis pun tidak.

Suatu saat ia bercerita di laman facebook tentang rahasia proses kreatifnya. Ternyata sederhana saja, yaitu dengan membangun kebiasaan. Ia menulis rutin setiap hari. Jumlahnya waktunya tidak pasti. Kadang beberapa jam. Namun tidak jarang hanya 20 menit. Meskipun demikian, dia tidak pernah absen sehari pun dalam menulis karena telah menjadi kebiasaan.

Setiap hari ia selalu meluangkan waktu untuk menulis. Fokus utamanya adalah menulis artikel jurnal. Sepadat apa pun aktivitasnya, ia selalu menyempatkan waktu untuk menengok tulisannya. Bisa jadi ia hanya membaca artikelnya yang selesai ditulis, merevisi, menambah data baru, dan memperbaikinya.

Konsistensi untuk terus memberikan waktu terhadap artikel yang ditulisnya berbuah manis. Pelan tapi pasti ia mendapatkan hasil yang menggembirakan. Kini, selain sebagai penulis dan reviewer, ia juga laris manis sebagai narasumber di berbagai pelatihan. Saya acapkali menjadi peserta dari kegiatan di mana beliau sebagai narasumbernya.

Resep yang beliau tulis saya kira sangat menarik. Bagi kawan-kawan yang ingin sukses menulis, langkah membangun kebiasaan cukup penting untuk direnungkan. Langkah ini bisa menjadi kunci rahasia yang penting untuk dimiliki. Lewat kebiasaan, proses menulis akan terus berjalan sepanjang waktu.

Setiap orang memiliki minat tertentu dalam menekuni dunia menulis. Tokoh yang saya sebutkan di atas minatnya pada artikel jurnal. Anda tidak harus mengikuti beliau. Jika mau mengikuti, silahkan saja. Jangan lupa bahwa membangun kebiasaan menulis itu menjadi kunci sukses.

Membangun kebiasaan itu ternyata tidak mudah. Mungkin lebih tepatnya disebut dengan sangat susah. Pada tahap awal ini, seseorang yang berniat untuk menjadi penulis akan menghadapi godaan yang sangat berat. Berbagai pertanyaan akan muncul. Berbagai dorongan untuk mundur datang menyergap. Juga bayangan pesimisme terus saja mengintai. Jika tidak kuat, hampir bisa dipastikan banyak yang mundur teratur.

Godaan terberat penulis ada pada level awal ini. Level di mana kebiasaan harus dibangun. Bagi yang konsisten bertahan, hasil akan dicapai. Tapi bagi yang tidak berhasil, tentu harapan menjadi penulis akan lebih lama terwujud. Bahkan sangat mungkin tidak terwujud sama sekali. Menulis pun akhirnya sekadar menjadi cita-cita dalam hidup.

Banyak sekali orang yang ingin menjadi penulis. Tidak terhitung jumlah orang yang menghubungi saya untuk ikut bergabung di komunitas menulis yang saya kelola. Tetapi gejala umumnya hampir selalu sama: bersemangat bergabung tetapi tidak bersemangat menulis. Padahal, syarat yang mengantarkan seseorang untuk bisa menulis itu ya konsisten berlatih menulis, bukan bergabung dengan komunitas menulis.

Apa artinya Anda bergabung di komunitas menulis jika Anda tidak pernah menulis? Dari sisi persaudaraan memang ada. Anda akan memiliki saudara yang semakin banyak. Tapi itu tidak akan membuat Anda bisa menulis. Semakin Anda tidak menulis, semakin Anda tertinggal dari kawan-kawan.

Di beberapa komunitas yang saya bina, saya mengamati betul bagaimana anggotanya tumbuh, berproses, dan berkembang. Ada yang perkembangannya sangat luar biasa, ada yang biasa, ada yang jarang menulis, dan banyak yang tidak menulis. Jika ingin menulis maka tidak ada cara lain yang bisa ditempuh selain menulis. Lewat konsisten menjaga semangat menulis itulah kemampuan menulis itu terasah.

Jika kebiasaan menulis sudah terbangun, berbagai alasan tidak menulis akan tersingkirkan dengan sendirinya. Alasan sibuk bukan main, males, dan sebagainya akan minggir. Pada titik inilah kebiasaan menemukan titik signifikansinya. Salam.

 

Trenggalek, 1 Agustus 2020

 

 

 



52 komentar:

  1. Insyaallah akan terus bersemangat karena gurunya selalu memberi semangat

    BalasHapus
  2. 2/3 tulisan pertama cocok dengan suasana batin saya. Seperti wali, tau yg diperlukan orang, Pak Doktor.

    BalasHapus
  3. Insyaallah akan menjga konsistensi menulis. Terimakasih ilmunya

    BalasHapus
  4. Mohon didoakan agar tetap konsisten menulis Pak

    BalasHapus
  5. Mudahan-mudahan saya tetap konsisten dalam menulis ... Terimakasih pak...🙏

    BalasHapus
  6. Betul sekali Pak kemauan untuk menulis ada tapi komitmen untuk tekun menulis itu yg belum dipraktekkan. Tx ilmunya🙏

    BalasHapus
  7. Insya Alloh siap. ATM pada mentor smg bisa. Terima kafih siraman motivasinya

    BalasHapus
  8. MENULIS, membaca, mendengar

    Keterkaitan nya memberikan motivasi luar biasa

    BalasHapus
  9. Luar biasa sang motivator, semoga virus istiqomah menulis ini menular kepada santri2nya. Aamiin...

    BalasHapus
  10. Terimakasih pak..tulisannya sangat memotivasi sekali..semoga tidak menjadi pribadi yang malas dengan kebiasaan.. Meski tau ala bisa karna biasa🙏

    BalasHapus
  11. Bisa karena biasa...kalau tak biasa, kapan bisanya?

    BalasHapus
  12. Semangat menulis...melawan lupa dan males yg sering menyergap...

    BalasHapus
  13. Dorongan untuk mundur dan pesimistis yg paling kuat...
    Itu yg saya rasakan
    Sekuat tenaga pula saya berusaha menulis

    Terima kasih untuk tulisan yg selalu memotivasi ini pak dosen...

    BalasHapus
  14. Tadinya mau istirahat tdk menulis, namun baca tulisan ini jadi semangat lagi menulis hehehe

    BalasHapus
  15. Bersyukur mengukuti group wa W&E krn punya Efek Yang ampuh melwan rasa malas tuk menulis. Syukran Pak

    BalasHapus
  16. Saya ucapkan terima kasih banyak pak prof. Atas dorongannya jujur saja memang terasa sangat berat jika sudah terlambat satu hari saja besoknya untuk mulai menulis lagi...

    BalasHapus
  17. Semoga mampu membangun tradisi baik ini

    BalasHapus
  18. Semoga saya bisa konsisten. Hanya sering sekali muncul perasaan tidak percaya diri.

    BalasHapus
  19. Saya berniat untuk menjadi penulis, akan tetapi saya bingung harus memulai darimana?

    BalasHapus
  20. Semoga ke-Istiqomah-an suportnya menjadi suport kita semua tuk membiasakan dlm menulis

    BalasHapus
  21. Trimakasih prof, yang terus memberi motifasi, dan mohon maaf blajar nulis kita belum jadi kebiasaan, tapi tetap akan belajar mentrampilkan untuk bisa menulis sehingga jadi kebiasaan

    BalasHapus
  22. terima kasih atas motivasinya pak u sll istiqamah dlm menulis

    BalasHapus
  23. Membiasakan menulis memang tidak mudah, berkali kali mencoba tuk eksis menulis selalu gagal. Kadang bingung mau nulis apa? Pangapunten Pak Ngainun karena di ggm pun saya stagnan gak pernah setor tulisan.

    BalasHapus
  24. MasyaaAllah..saya sedang mengalami Pak Prof..terima kasih motivasinya .semoga cita-cita sebagai penulis tidak berhenti hanya mimpi..semangat..bismillah hirrohmaanirrohiim

    BalasHapus
  25. ilmu semangat menulis itu betul betul tak terhingga dan semuanya penting, terima kasih Bapak

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.