Menulis Diri, Memberdayakan Diri

September 04, 2020

 Ngainun Naim

 


Salah seorang penulis Indonesia yang saya kagumi adalah Almarhum Hernowo. Lewat buku-buku yang beliau tulis, lewat diskusi via grup WA, dan juga diskusi dalam pertemuan dengan beliau di Yogyakarta dan Surabaya, saya menemukan banyak hal yang mencerahkan. Ya, Hernowo telah membalik cara pandang saya terhadap aktivitas menulis.

Sebelum saya berkenalan dengan Hernowo, saya memandang menulis sebagai aktivitas yang sangat sulit. Aktivitas ini hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu saja. Begitu sulitnya menulis sehingga wajar jika hanya sebagian kecil saja orang yang mampu untuk menulis.

Lewat salah satu buku yang diedit, Quantum Writing  (2003), Hernowo mengajak pembacanya untuk—salah satunya—menulis tentang diri sendiri. Ya, menulis apa pun yang terkait dengan diri kita. Bentuknya tentu bermacam-macam. Anda bisa menulis tentang aktivitas sehari-hari Anda. Tentu ini bukan hal yang sulit karena Anda mengalami sendiri. Memang salah satu kunci menulis adalah kita mengetahui apa yang harus ditulis.

Anda bisa menulis tentang hobi Anda. Jika Anda hobi bersepeda, Anda bisa menulis ihwal perjalanan Anda. Anda ceritakan saja apa yang Anda lihat, alami, dan berbagai hal lain yang memang ingin Anda ceritakan.

Cerita itu terlihat sederhana tetapi sesungguhnya memiliki konteks makna yang luar biasa. Jika Anda mengalami persoalan ketika Anda ungkapkan persoalan kepada orang terdekat, beban Anda akan berkurang. Persoalan mungkin belum selesai tetapi setidaknya beban di pikiran telah terkurangi.

Berkaitan dengan cerita, Daniel H. Pink (2005) lewat buku A Whole New Mind menulis sesuatu yang—menurut saya—sungguh tidak terduga. Menurut Pink, cerita itu memiliki banyak manfaat. Jika Anda ingin menatap masa depan, dengan mengikuti pemikiran Pink, maka cara terbaik adalah dengan bercerita. Ya, cerita demi cerita yang dikelola secara apik adalah alat untuk membangun jejak hidup yang lebih baik di masa depan.

Manusia itu sesungguhnya merupakan makhluk yang hidupnya sarat dengan cerita. Sayangnya tidak banyak yang menyadarinya. Padahal dalam diri manusia—pengalaman, pengetahuan, dan pemikiran—tertata dalam bentuk cerita. Kesadaran akan signifikansi cerita ini seharusnya diimplementasikan secara konsisten dalam kehidupan.

Cerita secara lisan itu penting dan telah menjadi budaya masyarakat kita. Tetapi cerita secara tertulis itu jauh lebih penting, awal, dan memiliki pengaruh yang luar biasa. Cerita secara tertulis membangun imajinasi yang luar biasa. Mungkin terlihat biasa tetapi sesungguhnya ada banyak hal luar biasa yang acapkali tak terduga.

Aspek inilah yang berulang kali juga ditegaskan oleh Hernowo. Lewat karya berjudul Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza (2003), Hernowo menjelaskan bahwa menulis itu tidak sekadar berhubungan dengan tinta dan kertas. Kata Hernowo, menulis itu proses “menjadi” dan “berkembang”. Lewat menulis Hernowo tidak jarang mendapatkan jalan pemecahan persoalan yang tengah dihadapi. Lewat menulis pula Hernowo menemukan banyak hal luar biasa dalam pemberdayaan dirinya.

Hernowo berkisah bahwa ia dulunya seorang yang sulit berbicara di hadapan banyak orang. Membaca dan menulis yang membuatnya berubah. Ia berkembang menjadi diri yang terus tumbuh dan berkembang. Sampai menjelang akhir hayatnya, Hernowo tak pernah lelah mengajak masyarakat untuk rajin membaca dan menulis.

Sejalan dengan spirit yang diusung oleh Hernowo, saya mengajak banyak orang untuk menekuni dunia membaca dan menulis. Lewat grup WA, aktivitas membaca dan menulis didiskusikan. Kemajuan demi kemajuan berhasil dicapai. Buku demi buku berhasil diterbitkan.

22 komentar:

  1. Setuju Prof..lewat menulis proses diri "menjadi"dan "berkembang". Kadang untuk mengungkapkan perasaan secara lisan tak sanggup, tapi saat menjadi tulisan luar biasa panjangnya.

    BalasHapus
  2. Trimakasih prof atas ilmunya, menulis yang ringan bila kita anggap bercerita saja, dari cerita yang kita lisankan dirubah dalam tulisan,kadang yang jadi kendala mengawalinya dari yang mana.

    BalasHapus
  3. Menulis tidaklah sulit..yg sulit adl memulainya.. Bismilah..mulai menulis hal2 yg kita alami..

    BalasHapus
  4. Selalu membawa insipirasi. Matur nuwun pak

    BalasHapus
  5. Terima kasih atas ilmunya Prof

    BalasHapus
  6. Membangkitkan semangat pak Dr. Naim

    BalasHapus
  7. Wah... benar-benar motivasi luar biasa Prof

    BalasHapus
  8. Wah, sangat bermanfaat. terima kasih Pak.

    BalasHapus
  9. Selallu mencerahkan. Menambah semangat untuk terus berkarya.

    BalasHapus
  10. Siap master. Inspiratif sekali. Mtr swn

    BalasHapus
  11. Sangat bermanfaat, selalu memotivasi orang lain untuk menulis, semoga dicatat oleh Alloh SWT sebagai amal baik Bapak

    BalasHapus
  12. Terima kasih Prof Naim, menambah ilmu kami

    BalasHapus
  13. Menulislah dengan hal-hal yang sederhana yang bisa kita kuasai... Terimakasih pak..

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.