Tulisan Sebagai Penanda Peradaban

Desember 21, 2020

 

Ngainun Naim

 


Tulisan adalah penanda peradaban. Semakin banyak dan semakin bermutu tulisan yang dihasilkan maka akan berimplikasi pada kemajuan. Jika sebuah peradaban masih harus membudayakan literasi maka perjuangan untuk kemajuan masih harus dilakukan secara serius. Hal ini menunjukkan bahwa literasi adalah salah satu kunci kemajuan.

Arti penting literasi tampaknya masih menjadi agenda besar bagi bangsa ini. Beberapa tahun terakhir memang spirit ini sudah ditularkan lewat berbagai media, namun demikian tampaknya gemanya masih belum merata. Sebagian masyarakat sudah tahu tetapi belum bergerak dalam aksi. Repotnya, banyak yang tahu dan tidak menganggapnya penting. Lebih repot lagi adalah yang belum tahu sama sekali.

Pada titik inilah penting untuk dilakukan upaya serius dan terus-menerus agar literasi semakin membumi dan menjadi aksi. Upaya bisa dilakukan oleh individu, kelompok, atau institusi. Substansinya adalah agar literasi semakin menjadi bagian tidak terpisah dari banyak profesi dan dari kehidupan di negeri ini.

Kalangan guru sudah memulainya. Beberapa organisasi guru terus melakukan kampanye dan gerakan literasi. Salah satu fokusnya adalah menulis buku. Salah satu slogan yang cukup terkenal adalah “Sagu Sabu=Satu Guru Satu Buku”. Slogan ini menandakan spirit, juga target, bagaimana agar para guru di Indonesia bisa menulis dan menerbitkan buku. Jika ini mampu diwujudkan, tentu luar biasa. Semakin banyaknya guru yang menulis buku akan berkontribusi pada kemajuan pendidikan Indonesia. Menulis buku melatih penulisnya untuk berpikir secara sistematis dan banyak membaca agar bisa menghasilkan tulisan yang baik. Hal ini berarti menulis buku secara intrinsik membuat seseorang menjadi pembelajar.

Gerakan ini kini merembet ke kalangan birokrat. Memang belum sebesar gerakan di kalangan guru, tetapi peluang untuk menumbuhkembangkan menjadi gerakan besar sangat terbuka lebar. Jika kampanye diintensifkan, pendampingan dimaksimalkan, dan proses dipandu maka akan semakin banyak birokrat yang mampu menulis dan menghasilkan buku.

Menulis—apalagi menulis buku—merupakan kerja berat bagi yang belum pernah melakukannya. Rasa berat ini kebanyakan bermuara dari pengalaman menulis tugas akhir saat studi. Padahal, menulis buku tidak harus semacam itu. Menulis buku bisa dimulai dari menulis catatan harian atas apa yang dipikir dan dilakukan. Catatan demi catatan itu kemudian dikumpulkan, diberi judul, dibuat daftar isi, dan ditata sedemikian rupa. Ya, sesederhana itu.

Pada titik inilah saya mengapresiasi perjuangan Adrinal Tanjung. Ia begitu gigih menulis di tengah hambatan dan tantangan yang tidak ringan. Tantangan demi tantangan tidak membuatnya mundur. Mungkin ia mengatur irama, lalu kembali bergerak dan melaju. Begitu seterusnya.

Buku ini adalah saksi atas ketekunannya menekuni dunia aksara. Buku demi buku telah ia tulis dan terbitkan. Ia begitu konsisten melakukannya. Tentu, perjuangan serius akan selalu memberikan hasil maksimal. Bukan berarti sempurna, tetapi usaha maksimal adalah kewajiban.

Kini ia mengampanyekan “Sabi Sabu=Satu Birokrat Satu Buku”. Program ini saya kira sangat kreatif dan potensial untuk terus dikembangkan. Saya yakin para birokrat sesungguhnya memiliki potensi menulis yang luar biasa. Hanya saja belum menemukan teman dan lingkungan yang mampu mengidentifikasi dan memberdayakan potensi dirinya. Lewat usaha Adrinal Tanjung diharapkan kalangan birokrat semakin akrab dengan dunia literasi. Pada titik inilah maka literasi akan bermetamorfosis sebagai penanda peradaban sebagaimana saya tulis di awal catatan ini.

 

Trenggalek, 21-12-2020

16 komentar:

  1. Cakep. Satu birokrat satu buku. Saya satu almamater sama beliau pak ..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Wah, luar biasa. Orang Minang memang hebat-hebat Mas. Salam sukses ya.

      Hapus
  2. Luar biasa pak......
    Salam sehat dari Ambon pak

    BalasHapus
  3. Semakin menumbuhkan semangat menulis...

    BalasHapus
  4. Luar biasa Adrinal Tanjung. Smg merebet ke sumua birokrat. Tulusan Prof. Ainun sgt menginspirasi utk terus sbg pegiat literasi

    BalasHapus
  5. Trimakasih pak motifasinya untuk terus belajar, membaca dan menulis.....

    BalasHapus
  6. Terima kasih, Tulisan Pak Doktor Naim selalu menginsprirasi dan memotivasi untuk cinta literasi di negeri ini.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.