Menulis, Berbagi, dan Berkah

Januari 21, 2021

 

Ngainun Naim

 


Jalan kebajikan terbuka lebar. Jika ingin melakukan kebajikan, ada banyak pilihan. Tugas kita yang utama adalah memiliki niat yang kuat dan memilih untuk melakukan kebajikan sesuai kemampuan dan konteks kepentingan yang menjadi latar belakang. Kebajikan yang dilakukan secara konsisten Insyaallah akan memberikan manfaat bagi kehidupan kita.

Salah satu jalan kebajikan yang bisa dipilih adalah lewat tulisan. Bentuk tulisan bermacam-macam. Bisa status pendek yang mengandung nilai positif. Status di WA atau media sosial yang kita unggah terlihat sederhana tetapi memiliki dampak luas. Coba hitung jumlah yang membaca status Anda. Jumlah mereka yang membaca—sedikit atau banyak—akan terpengaruh oleh status Anda. Jika status Anda bagus, mereka—dengan izin atau tidak—akan membagikannya di status mereka. Nah, menurut saya ini kan bentuk multimarketing kebajikan. Satu jenis kebajikan yang kemudian disebarluaskan kepada banyak orang.

Tulisan yang agak panjang di media sosial juga memiliki makna yang sama. Ia dibaca, ditelaah, dan jika menemukan konteks yang pas akan bisa memengaruhi pembacanya. Saling bagi dan sebar menjadi fenomena yang biasa di era sekarang ini. Itu maknanya semakin banyak konteks kebajikan yang bisa dibagikan.

Hal yang sama juga terjadi pada konteks yang berbeda. Tulisan yang bernada negatif juga akan memberikan pengaruh dan respon yang negatif. Jika tidak percaya bacalah status atau tulisan dalam kategori ini, bisa dipastikan emosi Anda akan terbawa. Jika semakin banyak tulisan negatif yang Anda baca maka aura kebencian akan semakin menumpuk dalam pikiran dana lam bawah sadar Anda.

Saya tetiba teringat tulisan Prof. Dr. Emil Salim pada tahun 1990-an. Saat itu beliau sakit sehingga harus istirahat. Waktu istirahat itu memberikan kesempatan kepada beliau untuk lebih banyak waktu menonton televisi. Ketika sembuh beliau berkomentar bahwa televisi telah menjadi ajang mengaduk-aduk emosi dan tidak memberikan kecerdasan kepada pemirsanya.

Kini media tidak hanya televisi. Media sosial memiliki implikasi yang jauh lebih dahsyat. Jika Anda menghabiskan waktu dengan bermain WA, facebook, dan sejenisnya dengan konten negatif maka itu akan memengaruhi terhadap diri Anda (dan juga saya). Sebaliknya jika konten positif yang dikonsumsi maka akan memengaruhi juga terhadap diri kita.

Sekarang saya mengajak diri saya dan kawan-kawan sekalian (seperti khotbah jumat saja he he he) untuk memikirkan apa yang mau kita tulis. Mari kita isi dengan hal-hal positif dan mencerahkan. Semoga kebajikan yang kita bagi menjadi berkah bagi kehidupan kita. Amin.

 

Tulungagung, 20 Januari 2021

 

18 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.