Menulis Itu Membuat Bahagia

Januari 26, 2021

 

Ngainun Naim

 


Sebuah artikel menarik ditulis oleh penulis muda berbakat asal Madura, Syaiful Rahman. Artikel berjudul “Menulis Itu Belajar Cantik” dimuat dalam buku Catatan Kecil tentang Literasi. Buku terbitan Griya Literasi Sidoarjo (2015) tersebut merupakan karya Eko Prasetyo & Syaiful Rahman. Ada 20 artikel di dalamnya. 10 artikel pertama karya Eko Prasetyo dan 10 artikel berikutnya merupakan anggitan Syaiful Rahman.

Saya tertarik dengan artikel “Menulis Itu Belajar Cantik” karena asumsi dan juga pencarian makna Syaiful Rahman dengan pernyataan bahwa menulis itu bisa membuat orang menjadi cantik. Pencarian, keraguan, dan akhirnya menemukan jawaban diulas secara menarik oleh Kacong—panggilan akrab Syaiful Rahman.

Menurut Kacong, orang yang rajin menulis—siapa pun orangnya—akan mengalami transformasi menjadi cantik. Tentu saja idealitas cantik itu tidak berarti selalu seperti bayangan cantik sebagaimana kaum perempuan yang mengeluarkan biaya perawatan wajah puluhan juta.

Aspek yang utama dari cantik adalah sebagai konsekuensi dari menulis itu sendiri. Ya, menulis itu membebaskan diri dari beban. Ide, gagasan, dan pikiran bisa dikeluarkan secara bebas. Ketika sebuah tulisan sudah selesai, ada perasaan plong, lega. Rasa lega ini berakibat pada kondisi psikologis yang tenang dan puas. Kondisi ini sedikit banyak mempengaruhi terhadap fisik seseorang.

Kebahagiaan seorang penulis tidak sebatas selesainya tulisan. Ketika tulisan dibaca orang dan diapresiasi, itu juga memunculkan kebahagiaan. Bahagia karena tulisannya memberikan manfaat kepada pembacanya. Seperti tulisan sederhana ini. Saya tentu akan merasakan bahagia ketika pembaca sekalian mendapatkan manfaat dari coretan sederhana ini.

Saya orang yang mempercayai bahwa menulis itu memberikan banyak manfaat dalam kehidupan. Jika ada yang tidak percaya ya tidak apa-apa. Bagi saya, berdasarkan pengalaman selama ini, menulis menghadirkan banyak sekali manfaat. Salah satunya adalah manfaat persahabatan. Aktivitas menulis yang saya lakukan membuat saya memiliki banyak sahabat. Bagi saya ini sungguh membahagiakan. Sungguh, seandainya saya tidak menulis, kecil kemungkinan saya bisa berkenalan, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan banyak orang. Sebagian dari kawan-kawan yang saya kenal itu belum pernah bertemu secara fisik.

Manfaat lainnya tentu sangat banyak. Namun tulisan ini sengaja membatasi pada satu argumen bahwa menulis itu bisa membuat bahagia. Itu saja. Terima kasih.

 

Trenggalek, 26-1-2021

18 komentar:

  1. Se 7 menulis juga mengasyikan.dengan menulis lupa akan kesibukan

    BalasHapus
  2. Barakallah...
    Setuju banget saya dengan pendapatnya, menulis itu penya kepuasan tersendiri. Tidak sedikit orang bisa berubah hanya kerja sebuah tulisan.
    Dan saya yakin semua penulis pasti BAHAGIA 😊😊😊

    BalasHapus
  3. Bahagia dengan menulis, menulis dengan bahagia

    BalasHapus
  4. Sahe Pak, motovasi yg luar biasa

    BalasHapus
  5. Sangat sangat sangat sepakat...

    BalasHapus
  6. Senang membaca ini, menulis mengurangi pelupa aliyas gejala pikun, h h h

    BalasHapus
  7. Sangat bagus dan menginspirasi pak.

    BalasHapus
  8. Terima kasih banyak, Pak Ngainun. Ulasan yang sangat inspiratif.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.