Belajar pada Bu Kanjeng: Mengolah Silaturrahmi Menjadi Tulisan

Februari 12, 2021

 

Ngainun Naim

 


Nama lengkapnya Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. Beliau merupakan Kepala SMK Tunas Pembangunan 2 Surakarta. Selain menjadi pendidik, sosok yang menyebut dirinya dengan Bu Kanjeng ini adalah seorang penulis prolifik. Di usia yang tidak muda, Bu Kanjeng sangat produktif menulis. Buku solo dan antologinya terbit susul-menyusul. Salah satu karya solonya adalah Catatan & Motivasi Bu Kanjeng, Penggugah Semangat Jiwa untuk Bertakwa.

Saya kebetulan aktif dalam organisasi kepenulisan Sahabat Pena Kita (SPK) bersama Bu Kanjeng. Komunikasi kami lebih banyak via WA. Pertemuan fisik dengan beliau baru tiga kali, yaitu ketika Kopdar Sahabat Pena Kita di IAIN Tulungagung (2019), di Semarang (2019), dan di UNISMA Malang (2020). Meskipun demikian komunikasi kami cukup intensif, khususnya berkaitan dengan literasi. Saya diminta memberikan kata pengantar untuk buku beliau dan beberapa buku antologi yang beliau edit. Tentu ini merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.

Beberapa waktu lalu buku Catatan & Motivasi Bu Kanjeng, Penggugah Semangat Jiwa untuk Bertakwa datang. Sungguh saya tidak menduga. Ini merupakan sebuah penghormatan. Saya beberapa kali mendapatkan buku karya beliau. Terima kasih banyak Bu Kanjeng. Ilmu dan inspirasi Bu Kanjeng merupakan energi untuk terus menekuni dunia literasi.

Buku Bu Kanjeng segera saya letakkan dalam urutan prioritas untuk dibaca. Saya bukan pembaca buku yang cepat, bahkan cenderung lambat. Satu hari hanya beberapa halaman saja yang mampu saya jelajahi, tetapi saya terus memanfaatkan kesempatan yang tersedia untuk membaca. Selain menulis, membaca adalah kegiatan yang saya lakukan di sela-sela aktivitas harian yang kadang lumayan padat. Bukan sibuk sesungguhnya, hanya sok sibuk saja he he he.

Buku yang akan saya baca biasanya saya letakkan di tempat khusus, di rak buku. Buku yang akan saya baca ada di tumpukan paling bawah. Begitu satu buku selesai saya baca, buku berikutnya adalah yang ada di tumpukan paling bawah. Ini teorinya. Praktiknya tidak selalu begitu.

Buku Bu Kanjeng ini unik dan menarik. Saya menyebut buku ini sebagai literasi berbasis silaturrahmi. Hal ini disebabkan karena tulisan demi tulisan yang ada di buku ini diolah oleh Bu Kanjeng dari silaturrahmi ke silaturrahmi. Namun harap dipahami bahwa silaturrahmi itu tidak hanya dalam bentuk berkunjung ke rumah famili atau teman, tetapi memiliki makna yang luas.

Ada 29 judul di buku ini. Semuanya berbasis silaturrahmi dalam pengertian yang luas. Membaca judul demi judul di buku ini mengantarkan kita pada selaksa makna yang sedemikian mendalam. Judul demi judul yang ada di buku ini tidak sekadar menuturkan secara deskriptif tetapi juga menjelaskan konteks dan makna setiap peristiwa.

Tulisan kedua, misalnya, berjudul “Meng-Upgrade Diri Bersama Wisata Literasi”. Bagian ini berkisah bagaimana Bu Kanjeng ikut acara yang diselenggarakan oleh Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK) Purwokerto. Bu Kanjeng berkisah secara mengalir sejak rencana keberangkatan, proses perjalanan, acara, hingga perubahan rencana kepulangan. Spirit silaturrahmi mengantarkan Bu Kanjeng bisa mengunjungi pegiat literasi Bu Romdonah di Wonosobo. Sungguh, membaca kisah ini membuat saya mendapatkan semangat hidup. Bu Kanjeng yang tidak muda memiliki semangat silaturrahmi dan literasinya sungguh luar biasa. Ini merupakan teladan yang penting diejawantahkan sesuai dengan kondisi dan kehidupan saya.

29 Judul tulisan semuanya sarat ilmu. Semuanya hasil perenungan dan jejak pengalaman dari silaturrahmi. Salah satu kelebihan Bu Kanjeng adalah mengolah hasil silaturrahminya menjadi tulisan. Fenomena dan pengalaman yang sesungguhnya biasa menjadi luar biasa ketika ditulis dan diolah secara menarik.

Jika Bu Kanjeng bisa, semestinya kita juga bisa. Kita memiliki pengalaman silaturrahmi yang panjang. Pandemi memang membatasi kita untuk silaturrahmi secara fisik, tetapi silaturrahmi via WA, buku bacaan, acara televise, dan media lainnya terbuka lebar. Mari kita catat dan olah menjadi tulisan lalu dibukukan. Insyaallah akan banyak manfaat yang bisa kita petik.

 

Trenggalek, 12-2-2021

16 komentar:

  1. Alhamdulillah akhirnya dapat giliran dibaca dan dikritisi.terima kasih, membuat saya lebih giat lagi untuk berbagi.
    .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya Bu Kanjeng atas bukunya yang bergizi

      Hapus
  2. Bu Kanjeng adalah pribadi yang sangat ramah, inspiratif dan produktif. Meski usia beliau tidak muda, semangat beliau selalu muda. Terima kasih catatannya Bapak Naim. Juga terima kasih memberikan kisah Bapak Naim dalam proses membaca buku. Semoga bisa mencontoh. Panjang umur, sehat selalu Bapak. Amin.

    BalasHapus
  3. Sangat menginspirasi. Buku kedua saya editor beliau

    BalasHapus
  4. Harus banyak belajar dari Bu Kanjeng

    BalasHapus
  5. Sosok bu kanjeng yang luar biasa, semakin tambah usia semakin menjadi. Begitu juga prof. Naim yang luar biasa dalam memberikan trik membaca.

    BalasHapus
  6. Semoga saya bisa meneladani semangat literasi Bu Kanjeng dan Bapak Naim. Terimaksih atas motivasinya🙏

    BalasHapus
  7. Terimakasih atas tulisan yang sarat akan motivasi diri untuk lebih produktif. Semoga saya bisa mengikuti jejak tersebut

    BalasHapus
  8. Bu Kanjeng sosok penulis yang produktif, menginspirasi dan memotivasi

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.