Buku Antologi KKN VDR

Februari 07, 2021

 

Ngainun Naim

 


Salah satu produk Kuliah Kerja Nyata IAIN Tulungagung adalah buku antologi. Program penulisan buku antologi ini sudah berlangsung selama beberapa tahun. Anda bisa mengunjungi https://obs.iain-tulungagung.ac.id/index.php/iaintapress untuk membaca dan mengunduh secara gratis buku-buku antologi karya mahasiswa IAIN Tulungagung yang telah melaksanakan KKN.

Tahun 2021 ini KKN dalam bentuk Virtual Dari Rumah (VDR). Pandemi Covid-19 membuat KKN secara konvensional dengan tinggal di desa tidak mungkin lagi dilakukan. Secara umum aspek yang paling penting adalah melaksanakan KKN dengan mematuhi secara ketat protokol kesehatan. 5 M harus dipatuhi dengan disiplin. Jangan sampai KKN justru menjadi tempat persebaran virus. Aspek ini berkali-kali kami sampaikan kepada para DPL dan juga para mahasiswa. Bagi orang-orang tertentu mungkin terdengar kurang nyaman karena seringnya kami mengingatkan. Tidak apa-apa karena yang substansial adalah kesehatan kita semua.

Dalam format KKN VDR semacam ini tugas menulis buku antologi bisa lebih dimaksimalkan di setiap kelompok. KKN VDR Gelombang 1 Tahun 2021 ini ada 112 kelompok. Semua kelompok membuat buku antologi. Tentu buku 112 itu sangat banyak dan cukup penting artinya dalam persebaran informasi pelaksanaan KKN.

Saya sering ditanya tentang apa itu antologi. Beberapa kawan menyebut dengan ontologi. Hanya beda awalan. Satu memakai awalan “a”, satunya “o” namun pengertiannya berbeda. Sangat jauh berbeda.

Antologi berasal dari Bahasa Yunani yang artinya “karangan bunga” atau “kumpulan bunga”. Seiring perjalanan waktu kata antologi mengalami dinamika perkembangan makna. Sekarang orang memahami antologi dengan makna “bunga rampai”.

Ontologi berbeda lagi. Ini merupakan cabang filsafat yang membahas sumber dan asal-usul ilmu pengetahuan. Cabang filsafat ini sangat penting dan sangat menentukan jalannya ilmu pengetahun (Mulyana, 2020). Jadi antara “antologi” dan “ontologi” itu dua hal yang berbeda.

Menulis antologi memiliki beberapa manfaat. Pertama, melatih mahasiswa dalam menulis. Menulis itu bukan kerja sesaat. Setiap mahasiswa sesungguhnya sudah terbiasa menulis makalah namun mereka bukan berarti sudah terampil menulis. Menulis antologi dalam format esai sesungguhnya membuat mahasiswa bisa menulis secara baik. Karya tulis dalam format esai merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk menulis dalam makna yang substansial.

Kedua, membangun tradisi menulis buku. Menulis buku bukan pekerjaan mudah. Meskipun demikian bukan berarti tidak mungkin untuk mewujudkan sebuah buku. Jika menerbitkan buku mandiri terasa berat maka buku antologi adalah media untuk berlatih menulis buku mandiri. Banyak orang yang berhasil menerbitkan buku mandiri setelah menulis di banyak buku antologi. Dalam konteks ini buku antologi karya mahasiswa KKN VDR menemukan titik signifikansinya.

Ketiga, merekam pengalaman, pengetahuan, dan hal-hal yang penting dalam jejak pengalaman selama menjalani KKN VDR. Tidak semua orang mengetahuinya. Hanya mahasiswa yang menjalani saja yang mengetahuinya. Justru karena itulah menuliskannya menjadi penting. Ingatan kita terbatas dan tidak mungkin merekam semuanya. Tulisan adalah media yang efektif untuk merekamnya.

Pertanyaannya, bagaimana menulisnya? Pertanyaan demi pertanyaan teknis semacam ini cukup sering diajukan oleh kawan-kawan mahasiswa. Saya kira wajar jika mereka bertanya karena memang belum pernah memiliki pengalaman terkait dengan menulis antologi.

Saat ada yang bertanya tentang bagaimana menulis naskah antologi, saya biasanya menjawab dengan segera menulis. Ya, segera saja menulis. Tidak perlu banyak bertanya. Tidak perlu takut; takut salah, takut jelek, dan takut lainnya. Inti menulis itu kan praktik. Teori tentu saja penting tetapi terlalu banyak bertanya menunjukkan bahwa seseorang itu biasanya tidak segera memiliki ketegasan untuk segera menulis.

Mahasiswa yang sekarang sedang melaksanakan KKN VDR seharusnya segera menulis. Jangan ditunda. Kebiasaan menunda—sebagaimana dalam tradisi membuat makalah—harus segera dienyahkan. Lewat menulis yang dilakukan dengan tidak menunda-nunda itulah maka buku antologi segera terwujud. Lebih bagus lagi jika KKN selesai, buku jadi.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya buku baru terbit setelah KKN berlalu. Itu pun masih terus saja mundur. Disiplin adalah kunci untuk segera mengeksekusinya.

Selamat menjalani KKN VDR. Tetap patuhi protokol kesehatan. Sukses selalu untuk kita semua.

 

Trenggalek, 7-2-2021

 

16 komentar:

  1. aaamiiin aaamiiin, mtr swn sanget pak Naim, tansah menginspirasi.

    BalasHapus
  2. Betul sekali, untuk memulai menulis hrus disegerakan dan tidak takut salah atau permasalahan lainnya. Ilmu yang bermanfaat Pak Naim

    BalasHapus
  3. Jadi ingat waktu kkn dulu hehehe

    BalasHapus
  4. Keren sekali sekali.dayung 2,3 pulai terlampui. Sangat menginspiratif Prof.

    BalasHapus
  5. Berapa tebal bukunya itu prof. Menarik unt disimak. KKN VDR itu. Tk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya setiap kelompok bisa memiliki ketebalan tertentu.

      Hapus
  6. Tradisi menulis yang dimulai sejak masuk kuliah, hebat.

    BalasHapus
  7. Mahasiswa Pak Dr. Ngainun Naim IAIN TA hebat, bahkan perjalanan KKN bukan saja menghasilkan Antologi tapi buku Solo, kereen..seperti buku "Sejernih Cinta di Negeri Gajah Putih oleh Ana Durrotul Hikmah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mahasiswa memiliki potensi hebat. Saya dan kawan-kawan hanya "ngompori" saja Bu

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.