Buku Sebagai Penanda Peradaban

Maret 07, 2021

 Ngainun Naim

 


Buku merupakan penanda peradaban. Adanya buku menandai bahwa sebuah peristiwa, ide, pemikiran, dan dialektika dalam berbagai bidang kehidupan telah terbangun. Perbedaan antara satu peradaban dengan peradaban yang lainnya adalah pada rekaman perjalanan. Muatan dalam buku sangat penting artinya bagi kehidupan dalam makna yang luas.

Lahirnya buku menandai proses kreatif yang tidak sederhana. Ada dinamika, interaksi, dan proses yang cukup kompleks dalam kelahirannya. Justru karena itulah maka apresiasi terhadap sebuah buku penting untuk dilakukan.

Beberapa tahun terakhir muncul fenomena baru yang cukup menggembirakan, yakni meningkatnya minat banyak kalangan dalam menulis. Kelas-kelas menulis diikuti banyak peserta. Potensi diri yang tersembunyi pelan namun pasti mulai tereksplorasi. Ternyata banyak yang memiliki kemampuan besar dalam literasi. Sayangnya potensi ini belum banyak disadari. Ketika kesadaran muncul, ada yang belum menemukan jalan untuk mengembangkannya. Ketika jalan ditemukan, kemampuan ini bisa terwujudkan.

Sekarang ini sering sekali saya menemukan di berbagai jejaring sosial informasi tentang cover buku yang akan terbit atau buku yang sudah terbit. Tentu ini fenomena menggembirakan. Dulu jarang sekali kita bisa menemukan produktivitas menulis seperti era sekarang ini.

Zaman telah berubah. Perubahan ini berkonsekuensi pada transformasi dalam banyak bidang kehidupan, termasuk dalam bidang penulisan. Siapa yang memahami realitas semacam ini dan kemudian melakukan berbagai langkah-langkah yang kreatif-konstruktif maka akan sejalan dengan dinamika perkembangan zaman. Mereka yang kukuh tidak mau memahami dinamika yang tengah berkembang akan ditinggalkan oleh zaman.

Sebelum media sosial berkembang pesat seperti sekarang ini, penulis adalah pejuang. Seseorang akan disebut sebagai penulis jika memenangkan kompetisi yang cukup ketat di redaksi media massa. Perjuangan ini sungguh mengharu-biru. Tidak sedikit sebuah artikel dimuat setelah mengalami penolakan puluhan kali. Pemuatan sebuah artikel di media massa adalah akumulasi dari perjuangan yang tidak kenal lelah dari penulisnya. Maka seorang penulis di masa lalu adalah pejuang yang memenangkan kompetisi yang tidak ringan.

Tidak sedikit (calon) penulis yang akhirnya gugur dan minggir dalam kompetisi yang sedemikian ketat. Kegagalan demi kegagalan, penolakan demi penolakan, dan pengembalian naskah membuat mental mereka rontok. Mereka kemudian tidak lagi mengirimkan tulisan ke media massa.

Dunia buku demikian juga. Sebuah naskah baru akan bisa terbit ke sebuah penerbit setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat dan memakan waktu yang tidak sedikit. Ada sebuah buku yang baru terbit setelah lewat dua tahun. Ada juga yang surat perjanjian penerbitan bahkan sudah ditandatangani tetapi bukan tidak pernah terbit.

Kini suasananya berbeda. Menulis semakin banyak pilihan. Bukan berarti tida lagi ada kompetisi. Kompetisi tentu saja tetap ada tetapi dalam konteks dan makna yang berbeda.

Era sekarang memberikan peluang dan kesempatan yang luas kepada setiap orang untuk menulis. jika ingin menulis di penerbt mayor, kesempatan itu terbuka lebar. Kompetisi tentu saja sangat ketat. Jika gagal di penerbit mayor, ada kesempatan untuk menulis di penerbit indie. Tentu harus menyediakan dana sendiri. Semuanya memiliki kelebihan, kekurangan, dan konsekuensi masing-masing. Namun sesungguhnya muaranya satu yaitu adanya naskah. Semua pilihan tidak akan ada artinya jika naskahnya tidak ada.

Tradisi menulis harus terus ditumbuhkembangkan. Siapa pun orangnya penting untuk membangun tradisi menulis buku. Lewat buku yang ditulis dan kemudian diterbitkan diharapkan ada dokumentasi ide, persebaran ide, dan tebaran kebajikan dalam konteks makna yang luas.

16 komentar:

  1. Setuju Prof. Strategi menulis harus terus dikembangkan dan dikampanyekan oleh kita yg mengaku masyarakat berpengetahuan.

    BalasHapus
  2. Andaikata menulis ini dijadikan syarat apapun untuk memperoleh sesuatu di dunia akademis,. Wow

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he he. Namanya Andai tentu belum ada di kenyataan ya Pak

      Hapus
  3. Tak salah kutanya saya menjadi anggota keluarga RVL. Kesempatan mengasah kemampuan...belajar bersama pakar... Tak terkecuali Panjenengan Prof. Naim... Matur sembah nuwun sanget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kulo inggih belajar dari sedaya konco ing grup Bu. Matur sembah nuwun sampun maos seratan prasaja menika saha paring komentar.

      Hapus
  4. Menulis buku bisa jadi pekerjaan tambahan utk menunjang profesi utama. Namun, ketekunan dan keistikomahan sangat diperlukan. Inilah yg sering menjadi kendala tman2

    BalasHapus
  5. Sangat bermanfaat pak tulisannya. Menjaga konsistensi ini yg butuh perjuangan. Salam

    BalasHapus
  6. Semua sudah jenengan kupas tuntas dan tegas prof... Sekarang tinggal intropeksi diri mau berkompetisi apa tidak ? Hehehe...

    BalasHapus
  7. Penting untuk selalu membangun tradisi menulis

    BalasHapus
  8. Membangun budaya menulis sangat penting dan perlu perjuangan untuk selalu konsisten dalam mewujudkan aktivitas menulis itu sendiri

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.