Asal Bisa Membaca, Semua Bisa Menulis

April 10, 2021

 

Ngainun Naim


 

 

Semua orang sesungguhnya bisa menjadi penulis asal bisa membaca. Mungkin pernyataan ini berlebihan tetapi jika direnungkan sesungguhnya biasa saja. Tentu menulis dalam konteks ini maknanya sangat luas dan jenjangnya juga bervariasi.

Menulis merupakan keterampilan sehingga harus dirawat dan dijaga. Cara yang paling efektif adalah dengan menulis setiap hari. Sebagai keterampilan, kemampuan menulis seseorang bisa menurun, bahkan hilang. Banyak orang yang kehilangan keterampilan menulis karena sudah tidak mau menulis lagi.

Pentingnya merawat dan menjaga keterampilan menulis ditegaskan oleh banyak penulis. Hernowo, misalnya, menulis:

“Aku juga sadar bahwa kemahiran dan kenyamanan menulisku akan hilang sedikit demi sedikit jika tak kujaga dan kurawat.  Menjaga dan merawatnya, sekali lagi, hanya dengan berlatih dan menambah pengetahuanku tentangnya. Ini perlu kulakukan secara konsisten. Konsisten di sini tidak harus banyak dan berdarah-darah. Sedikit saja (15-20 menit), asalkan kulakukan setiap hari tentulah akan membuahkan perbaikan”—Hernowo Hasim, Penulis 24 buku dalam 4 tahun (2001-2005).

 

Coba kita baca, renungkan, hayati, dan kontekstualisasikan dengan pengalaman kita dalam menulis. Apakah kita sudah merawat dan menjaga keterampilan menulis? Jika belum maka mulai detik ini bisa kita mulai. Jangan sampai anugerah Allah berupa kemampuan menulis tidak kita rawat dan jaga.

Mengapa harus dirawat dan dijaga? Karena menulis itu bukan keterampilan yang sifatnya tetap atau permanen. Ia fluktuatif. Bisa naik, turun, bahkan hilang. Nah, merawat dan menjaga keterampilan menulis itu penting.

Cara merawatnya bagaimana? Ya hanya dengan menulis dan belajar teori atau pengetahuan tentang menulis. Menulisnya harus dilakukan secara konsisten. Paling penting adalah menulis dan merawatnya setiap hari. Tentu harus diperjuangkan.

Semangat menulis setiap orang sifatnya dinamis. Ada saat di mana seseorang memiliki semangat menulis yang tinggi, tetapi di saat berbeda semangatnya menurun, atau bahkan hilang sama sekali. Saya kira itu wajar dan manusiawi. Justru aneh jika ada orang yang semangatnya stabil tanpa pernah berubah sama sekali. Manusia semacam ini saya kira akan dipertanyakan kemanusiaannya.

Syarat menulis yang paling dasar itu hanya satu yaitu BISA MEMBACA. Jika tidak bisa membaca, mungkin saja bisa menulis, dengan cara dia berbicara sementara juru tulisnya akan mengetik pokok-pokok yang dia sampaikan. Tapi yang seperti ini di zaman sekarang ini kok saya belum pernah tahu.

 

Tulungagung, 10-4-2021

26 komentar:

  1. Kadar semangat menulisnya yang kadang menipis ... Terima kasih motivasinya Prof

    BalasHapus
  2. Betul sekali Pa,,, menulis harus terus dilatih. Terkadang moodnya naik turun.

    BalasHapus
  3. Kembali saya diingatkan dengan kata "merawat". Terima kasih Pak.

    BalasHapus
  4. Benar prof, semangat menulis itu fluktuatif. Contohnya saya sendiri, sudah sebulan lebih hilang semangat menulis karena satu dua hal yang benar" memukul saya, sehingga semangat itu hilang. Masih mencoba mengembalikan si "semangat" itu. Semoga kembali pada jalur menulis.

    BalasHapus
  5. Terima kasih sdh diingatkan agar kita "merawat".

    BalasHapus
  6. Terimakasih motivasinya prof, menulis saya masih fluktuatif, kadang muncul kadang hilang

    BalasHapus
  7. Terima kasih motivasi nya prof, saya baru belajar. Untuk menulis membutuhkan waktu yang lama

    BalasHapus
  8. Terimakasih saya akan belajar menulis menulis dan menulis

    BalasHapus
  9. Semoga saya bisa menjaga konsistensi menulis. Ya, yang saya alami dan rasakan adalah seringkali semangat menulis labil dan tidak stabil.

    BalasHapus
  10. Istikomah. Sedikit saja (15-20 menit), asalkan dlakukan setiap hari tentulah akan membuahkan perbaikan.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.