Jantung Pendidikan

April 19, 2021

 

Ngainun Naim



 

 

"Reading is the heart of education", kata Roger Farr (1984). Saya kira semua orang setuju dengan pernyataan bahwa membaca merupakan jantung pendidikan. Jantung adalah penentu hidup mati. Jika jantung tidak bekerja maka tubuh akan mati. Maka jantung harus dirawat dengan baik.

Cara merawatnya adalah dengan memberikan nutrisi yang dibutuhkan. Dalam konteks pendidikan, cara merawat jantung adalah dengan membangun tradisi membaca secara kokoh. Semakin kokoh tradisi membaca maka semakin kokoh eksistensi pendidikan.

Pendidikan dan membaca itu dua hal yang saling berkaitan. Pendidikan bisa mencapai hasil maksimal ketika didukung tradisi membaca yang tangguh. Pendidikan tanpa tradisi membaca akan rapuh.

Persoalannya, membaca sejauh ini masih belum menjadi tradisi yang mengakar kuat di dunia pendidikan. Ia masih menjadi mimpi. Membaca buku sampai tuntas masih jauh dari harapan. Membaca masih terasa barang mewah yang jauh untuk dimiliki.

Ada banyak teori tentang sebab lemahnya tradisi membaca kita. Misalnya karena harga buku mahal, distribusi buku belum merata, hingga kebijakan yang kurang mendukung. Apa pun sebabnya secara mendasar ya tidak mau membaca.

Apakah ada yang menjamin seseorang mau membaca buku jika buku tersedia? Hanya mereka yang sudah memiliki tradisi saja yang mau berjuang membaca di tengah hambatan dan godaan. Jika membaca sebagai jantung pendidikan maka semestinya kita merawatnya secara baik. Inilah jalan penting agar kita memiliki modal dalam menghadapi kehidupan yang semakin dinamis.

 

Trenggalek, 19-4-2021

 

6 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.