KKN, Kesehatan, dan Kreativitas

Agustus 03, 2021


 Ngainun Naim

 

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung sekitar 1,5 tahun. Situasinya naik turun. Kadang sangat tinggi, kadang landai. Namun substansinya sama yaitu Covid-19 masih menjadi ancaman serius bagi kehidupan kita.

Kita tetap harus hati-hati. Protokol kesehatan harus kita taati bersama. Jangan meremehkan. Sudah sangat banyak yang menjadi korban. Hari-hari ini story dan grup WA berisi berita duka tiada henti. Sungguh sedih tetapi itulah kenyataannya.

Realitas yang semacam ini bukan berarti membuat kita harus berhenti. Segala sesuatunya harus tetap berjalan. Namun demikian harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN SATU Tulungagung harus tetap dilaksanakan, namun tidak mungkin lagi dilaksanakan sebagaimana kondisi normal. Sebelum pandemi, KKN dilaksanakan di lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Kami pernah memiliki program KKN Regular, KKN Revolusi Mental, KKN Nusantara, KKN Kebangsaan, dan KKN Internasional.

Semua itu kini tinggal kenangan. Tidak ada lagi KKN di lapangan dengan totalitas sebagaimana KKN dalam kondisi normal. Sesungguhnya cukup sedih juga namun harus dihadapi secara arif dan kreatif.

Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag—Rektor UIN SATU Tulungagung—saat memberikan pengarahan kepada peserta KKN VDR menjelaskan bahwa mahasiswa seharusnya menjadi teladan masyarakat dalam masa pandemi ini. Mahasiswa harus mengampanyekan protokol kesehatan kepada masyarakat luas. Jangan justru menjadi anomali dan mengajak masyarakat untuk melanggar protokol kesehatan.

Pandemi ini memang membutuhkan keseriusan kita dalam menghadapinya. Rektor berharap agar mahasiswa peserta KKN VDR sudah divaksin semua. Vaksin memang bukan obat, bukan penyembuh atau menolak virus. Meskipun sudah divaksin, tentu tetap harus taat pada protokol kesehatan. Terbukti ada saja orang yang sudah vaksin namun masih terpapar Covid. Nah, di sinilah mahasiswa menjalankan perannya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya patuh pada protokol kesehatan.

Pada saat pandemi yang telah berlangsung sedemikian lama, ada kecenderungan sebagian masyarakat untuk saling menyalahkan. Memang jika dipikir, menyalahkan itu pekerjaan yang mudah. Padahal seandainya kita berada pada posisi orang atau pihak yang kita salahkan, belum tentu kita lebih baik. Alih-alih kita menjadi lebih parah.

Sikap terbaik adalah sikap yang bijak. Ya, menyalahkan itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Sebaliknya justru membuat keadaan semakin carut-marut. Aspek yang lebih penting adalah memberikan kontribusi, sekecil apa pun, dan dalam bentuk apa pun.

Menurut Prof. Dr. Maftukhin, kita penting belajar kepada masyarakat desa. Analisis yang ada menyebutkan bahwa masyarakat desa relatif lebih tangguh dalam menghadapi pandemi. Namun demikian kepada mereka penting diberikan informasi dan pengetahuan yang memadai tentang pandemi agar mereka tidak ikut hanyut dalam arus informasi sesat.

Pak Rektor menegaskan agar mahasiswa yang menjalankan KKN VDR ini memahami secara baik kearifan lokal masyarakat. Setiap masyarakat memilikinya. Kearifan lokal ini menjadi faktor penentu daya tahan. Mahasiswa diharapkan belajar, merawat, dan belajar dari masyarakat terkait kearifan lokal ini.

Aspek yang juga ditekankan oleh Pak Rektor dalam KKN VDR kali ini adalah produk. Karena UIN SATU Tulungagung menjadikan literasi sebagai sebuah ikon maka produk literasi harus tetap dipertahankan. Namun demikian perlu integrasi dengan aspek lainnya. Dalam konteks ini Pak Rektor menawarkan produksi. Ya, integrasi “literasi dan produksi” sehingga bisa menghasilkan keunggulan berbasis kearifan local masyarakat.

Di tengah pandemi yang belum juga berakhir Pak Rektor mengajak semua mahasiswa untuk tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Berkali-kali Pak Rektor menegaskannya demi kesehatan dan keselamatan kita semua.

 

Trenggalek, 27-7-2021

 

6 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.