Guru, Inspirasi, dan Jejak Perubahan

November 07, 2021


 

Ngainun Naim

Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Jawa Timur

 

SETIAP orang yang pernah mengenyam bangku pendidikan pasti memiliki kenangan dengan guru yang pernah mengajar. Ya, kenangan yang tidak bisa hilang dari ingatan sepanjang usia. Kenangan ini akan menorehkan jejak mendalam pada jalannya kehidupan.

Kenangan itu tidak selalu indah. Kenangan itu warna-warni. Selain yang indah, kenangan yang kita ingat itu kadang menggelikan, kadang menyedihkan, atau juga memalukan. Bisa juga ingatan dalam jenis lain. Hal-hal semacam ini yang biasanya lekat dalam ingatan.

Jika kita kuliah sampai level sarjana, ada ratusan guru yang telah mengajar kita. Hitung saja ada berapa guru yang telah mengajar kita mulai sekolah dasar sampai kuliah. Jelas sangat banyak.

Dari sekian banyak guru-guru kita, ada berapa orang yang kita ingat sampai sekarang? Semua? Jelas tidak. Hanya sebagian yang terekam kuat dalam ingatan kita. Bisa jadi hanya sebagian kecil saja yang kita ingat, sementara sebagian besarnya sudah lupa.

Saya pernah menulis sebuah buku tentang guru. Judulnya Menjadi Guru Inspiratif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009). Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Yogyakarta ini cukup laris. Kalau tidak salah ingat buku ini cetak ulang sampai lima kali. Sampai sekarang buku ini juga masih beredar. Pembaca sekalian bisa melacaknya di berbagai toko buku online.

Dalam buku tersebut saya membagi guru menjadi tiga tipe. Pertama, guru yang dikenang oleh para siswanya karena kebaikannya. Bisa jadi mereka dikenang karena caranya mengajar yang disiplin, kesabarannya, semangatnya, kasih sayangnya, dan nilai-nilai kebajikannya.

Saya memiliki ingatan kuat terhadap guru saya saat MTsN yang mengajari saya literasi. Inspirasi yang beliau tebarkan menjadi basis saya menekuni aktivitas membaca dan menulis sekarang ini. Tanpa jasa beliau, mungkin saya tidak akan menekuni dunia literasi sebagaimana hari ini.

Seorang kawan bercerita bagaimana beliau menekuni dunia dakwah. Inspirasinya adalah dari seorang guru saat beliau sekolah di pesantren. Spirit yang diajarkan guru tersebut membuat kawan saya terus menekuni jalan dakwah tanpa kenal lelah.

Tentu ada banyak lagi kisah berkesan dengan guru. Satu orang dengan orang lain bisa memiliki kisah berbeda. Interaksi dengan guru yang sama pun bisa menghasilkan kesan berbeda. Bagi satu siswa guru tersebut istimewa, sementara bagi yang lainnya dianggap sebagai hal yang biasa saja.

Saya menyebut guru tipe ini sebagai guru inspiratif. Guru yang masuk dalam kategori ini adalah guru yang tidak hanya memenuhi target kurikulum semata melainkan juga memberikan nilai lain bagi para siswanya. Nilai ini adalah inspirasi yang penuh arti. Aspek inilah yang membuat guru dikenang oleh para siswanya sepanjang masa.

Tipe kedua adalah guru yang dikenang oleh para siswanya bukan karena aspek yang positif melainkan karena aspek yang negatif. Kenangan ini begitu menyakitkan. Tidak jarang kenangan ini bermetamorfosis menjadi kebencian, bahkan dendam.

Tugas guru yang utama adalah mendidik para siswanya. Pada tataran praktik, aktivitas mendidik ini menggunakan metode yang berbeda antara satu guru dengan guru yang lain. Pilihan metode mendidik dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah faktor kepribadian guru itu sendiri.

Cara mendidik yang menggunakan kekerasan, ucapan yang menyakitkan, dan cara-cara yang kurang menyenangkan lainnya akan dikenang oleh para siswa seumur hidup. Mereka akan selalu ingat terhadap perlakuan pada gurunya. Tentu hal ini bukan sesuatu yang baik, namun realitas di lapangan kita tidak bisa menafikan adanya guru yang berada dalam tipe kedua ini.

Tipe ketiga adalah guru yang pernah mengajar secara biasa dan akhirnya para muridnya lupa. Tidak ada yang istimewa dalam prosesnya mengajar. Standar saja. Ia hanya mengajar berdasarkan tuntutan pokok profesinya. Tidak ada perhatian terhadap pengembangan potensi para siswanya. Ia juga tidak membangun kultur dialogis, kedekatan emosional, dan nilai-nilai positif lainnya.

Ketiga tipe tersebut sesungguhnya tidak merepresentasikan keseluruhan guru di Indonesia. Tipe itu saya buat sekadar menyederhanakan realitas yang ada dan sebagai motivasi bagi saya sendiri untuk mampu menjadi pendidik dengan tipe pertama. Sungguh merupakan sesuatu yang indah manakala apa yang kita ajarkan masih dikenang dan memberikan warna dalam kehidupan para siswa kita jauh sesudah mereka meninggalkan bangku sekolah.

Hal ini bermakna bahwa guru tidak sekadar mengajarkan ilmu tetapi juga perilaku. Guru yang mengajarkan ilmu sebagaimana tertera dalam kurikulum bisa diibaratkan sebagai membuka pintu. Aspek yang diajarkan bermetamorfosis menjadi keterampilan. Namun demikian aspek yang menentukan apakah pintu itu tetap terbuka atau tidak adalah attitude. Nah, guru yang bisa membuat para siswanya mengalami perubahan dalam kehidupannya itulah yang membukakan pintu dan merawat agar pintu itu tetap terbuka.

Namun demikian kuncinya tetap para siswa. Guru hanya memberikan modal. Jika siswa mampu merekonstruksi modal yang diberikan oleh guru-gurunya maka kehidupan setelah sekolah bisa bertransformasi menjadi lebih baik. Jika tidak, apa yang diberikan guru setidaknya telah memperkaya warna dan jalan kehidupan para siswanya.

Saya membaca tulisan demi tulisan di buku ini. Isinya sungguh menggugah. Kisah para guru yang ditulis secara apik di buku ini membangkitkan memori hidup saya. Ya, guru yang dikisahkan di buku ini adalah para guru inspiratif. Mereka telah menorehkan jejak transformasi dalam kehidupan para siswanya, meskipun mereka sendiri acapkali tidak menyadarinya.

 

Trenggalek—Malang, 6-7 Nopember 2021

3 komentar:

  1. BUku yang krendan wajib dimiliki dibaca para guru supaya jadi guru type pertama. Guru inspiratif. Makasih banyak Pak Ngainun

    BalasHapus
  2. Terima kasih Prof. Sangat menginspirasi
    Smg kita menjadi guru inspiratif. Alhamdulillah Artikel ini menjadi pengantar buku antologi sy dg 53 teman " Guruku Inspirasiku".

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.