Sederhana Itu Luar Biasa

Desember 26, 2021


 

Ngainun Naim

 

ASPEK yang paling mudah dilakukan itu memberi komentar dan penilaian terhadap orang lain. Modalnya hanya lisan atau tulisan. Tinggal ucapkan atau ketik, beres.

Gaduhnya kehidupan sosial—nyata atau maya—tampaknya karena kebiasaan memberikan komentar ini. Tidak peduli menguasai topik atau tidak, relevan atau tidak, yang penting komentar. Terlihat jelas bahwa komentar atau penilaian dilakukan tanpa memiliki pertimbangan yang matang.

Padahal, modal penting kehidupan adalah kemampuan instropeksi. Kemampuan ini memungkinkan kita untuk merenungkan apa yang sudah dan akan kita lakukan. Seorang filosof pernah membuat kata-kata bijak bahwa kehidupan yang tanpa instropeksi tidak layak untuk dijalani. Kata bijak ini menunjukkan bahwa kehidupan itu perlu berkualitas. Salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas adalah dengan instropeksi.

Apa relevansi instropeksi dalam konteks kehidupan digital sekarang ini? Saya tidak akan memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk mengamati fenomena yang ada di sekitar. Siapa tahu saya, Anda, dan kita masuk dalam konteks fenomena ini.

Aspek yang ingin saya ajak untuk amati bersama adalah hedonisme. Zaman sekarang ini hedonisme telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang yang menghabiskan hari-harinya untuk mengejar kenikmatan hidup. Demi kenikmatan, uang bukan menjadi persoalan. Bahkan demi kenikmatan, hutang pun dilakukan.

Lihat saja fenomena sekitar kita. Tempat-tempat hiburan bertebaran. Rumah makan dengan segala karakternya selalu penuh pengunjung. Segala hal yang menyenangkan memang selalu menjadi incaran.

Tentu bukan tugas kita untuk menghakimi realitas. Semua orang berhak melakukan apa yang menjadi pilihannya. Tulisan ini—sekali lagi—ingin mengajak untuk melakukan instropeksi. Ya, instropeksi untuk memahami realitas, menganalisisnya, dan kemudian menyusun langkah-langkah selanjutnya. Jika itu baik, tentu penting untuk dipertahankan. Jika tidak baik, bagaimana diambil sisi manfaatnya, jika mungkin.

Berita tentang orang-orang yang bergaya hidup mengejar kenikmatan tanpa mempertimbangkan kemampuan keuangan sudah sangat sering kita ketahui. Demi gengsi memaksakan diri membeli mobil. Belum terhitung tahun, mobil pun diambil oleh dealer karena tidak mampu mengangsur rutin setiap bulan.

Lihat saja bagaimana makan pun menjadi gaya hidup. Pertimbangan penting makan bukan pada rasa dan harga tetapi pada gaya. Jika spot fotonya bagus, harga mahal biasanya tidak lagi menjadi pertimbangan.

Tentu daftar semacam ini bisa kita buat secara sangat panjang. Mobil, rumah, baju, alat komunikasi, rekreasi, dan berbagai hal lainnya adalah objek kenikmatan yang terus diburu. Mengunggah capaian-capaian fisik material seolah menjadi ukuran sukses sekaligus kebanggaan diri.

Perbincangan tentang persoalan ini mengingatkan saya pada tulisan satiris sastrawan Aceh, Musmarwan Abdullah. Dalam buku karyanya Dijamin Bukan Mimpi (2016: 302-304), ia menulis bahwa kebutuhan manusia itu 90% berkaitan dengan nafsu. Jika manusia disuruh menulis kebutuhan hidupnya, beribu-ribu kertas tidak akan habis. Semuanya akan menjadi kebutuhan dan dianggap penting. Ada satu hal yang menjadi penentu, yaitu kemampuan. “Kemampuan memiliki sesuatu membuat kita sangat butuh pada sesuatu itu”, tulisnya.

Saya tidak tahu mengapa terjadi pergeseran dalam gaya hidup manusia sekarang. Saya juga mungkin bagian di dalamnya. Tetapi saya tidak ingin larut. Saya justru melihat bahwa sederhana itu istimewa. Sederhana itu inspirasi meskipun mungkin akan ditertawakan oleh generasi masa kini.

Saya menyukai kisah orang-orang yang bertahan dengan kesederhanaan dalam hidupnya. Kesederhanaan itu yang justru membuat hidup menjadi bahagia. Kata kuncinya sesungguhnya adalah bersyukur. Ya, mensyukuri pemberian Allah dengan apa adanya. Tidak berlebihan. Itu adalah inspirasi hidup yang luar biasa.

16 komentar:

  1. Alhamdulilah terima kasih nasehatnya Prof. Betul sekali ini yg terus menggejala dlm kehidupan akhir-akhir ini. Kesederhanaan dan bersyukur adalah kunci kebahagiaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih tambahan perspektifnya Pak Haji

      Hapus
  2. Padahal sederhana itu murah. Sementara, hedonis mahal. Dan biasanya sulit. Kenapa orang malah pilih hedonis ya ...

    BalasHapus
  3. Simple life is easy. Ukuran sederhana yg kadang beda penafsiran dan pengaplikasian

    BalasHapus
  4. Gaya hidup sederhana ,maksimalkan ikhtiyar ,doa dan cita cita ... 😀

    BalasHapus
  5. Bacaan yang penuh gizi, tanpa introspejsi kita tidak siap berubah.Sederhana itu indah tidak ribet.

    BalasHapus
  6. Luar biasa keren... ulasannya mantap sarat makna, semoga bermanfaat bagi pembaca semua.. salam kenal dan hormat dari grup menulis di wa....

    BalasHapus
  7. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Sae prof.

    BalasHapus
  8. Gaya hidup sederhana tidak menjadikan orang terlihat rendah. Justru itu menunjukkan ketinggian ilmu.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.