Jejak dari Bukittinggi: Dari Ngarai Sianok menuju Jam Gadang

April 16, 2022

 


Ngainun Naim

 

Kegiatan Workshop selama dua hari di IAIN Batusangkar sudah usai. Secara pribadi saya cukup lega sudah menuntaskan tugas. Semoga panitia dan peserta puas. Jika ada yang tidak puas saya kira ya wajar saja karena memang tidak ada orang yang bisa memuaskan semua peserta. Selalu saja ada ruang kekurangan di sana-sini.

Usai acara saya menuju ruang LP2M untuk rehat dan berbincang sejenak. Sesaat kemudian Ketua LP2M, Dr. Muhammad Fazis dan Kapuslit, Syaiful Marwan, mengajak saya ke ruang Rektor. Kami pun bergerak menyeberang jalan menuju ruang Rektor.

Dari kiri: Dr. M. Fazis, Rektor IAIN Batusangkar, saya, dan Yusrizal Efendi, M.Ag

 

Rektor IAIN Batusangkar, Dr. Marjoni Imamora, M.Sc., masih muda. Beliau humoris. Kami berbincang beberapa hal dalam rentang waktu yang terbatas. Canda tawa mengiringi setiap bagian perbincangan. Di bagian akhir saya pamit, mengucapkan terima kasih, dan mendoakan agar SK Guru Besar Pak Rektor segera turun.


 

Kami pun beranjak menuju mobil yang siang itu mengantarkan kami dari Batusangkar menuju Bukittinggi. Batusangkar berada di Kabupaten Tanah Datar. Ada yang unik yakni nama yang tidak sesuai dengan realitas. Bayangan awal saya Tanah Datar itu secara geografi ya datar. Namun saya salah. Tanah Datar ternyata terdiri dari wilayah perbukitan yang indah. Kalau di Jawa Timur ya mirip Kota Batu.

Perjalanan siang yang cukup terik dari Batusangkar ke Bukittinggi cukup lancar. Jalanan di perbukitan dan persawahan serta sesekali melewati hutan mengingatkan saya pada Kabupaten Trenggalek. Ya, di kabupaten ini tempat saya tinggal dengan topografi di beberapa bagian yang mirip. 


 

Pukul 15.30 WIB kami sampai di IAIN Bukittinggi. Kami disambut dengan ramah oleh Ketua LP2M, Dr. Afrinaldi dan para kepala pusat. Di ruang kerja Wakil Rektor 1 kami berbincang tentang banyak hal, mulai penelitian, penulisan, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Perbincangan berlangsung dengan sangat seru. Ada banyak informasi yang saya peroleh. Kedatangan kami membuat ruang Wakil Rektor 1 penuh dengan gelak tawa.

 Berfoto bersama punggawa LP2M IAIN Bukittinggi


Hari semakin sore. Sesungguhnya kami masih ingin terus berbincang. Namun demikian rasanya kurang bijak jika terus berbincang. Kami pun pamit. Tidak lupa kami berfoto bersama yang menjadi ritual wajib dalam sebuah pertemuan.

Sesuai namanya, Bukittinggi berada di daerah perbukitan. Kampus IAIN Bukittinggi berada di wilayah yang dikelilingi oleh sawah. Bangunan kampus terlihat megah dan menawan. Di kampus inilah para mahasiswa belajar tentang berbagai bidang ilmu. 



Bang Yose Rizal memacu mobil ke arah kota. Saya sungguh menikmati perjalanan di antara perbukitan yang naik turun. Kota ini sesungguhnya cukup indah namun tata kotanya belum terlalu rapi. Ya hampir sama dengan beberapa kota lain yang pernah saya kunjungi.

Kami berhenti di sebuah tempat wisata yang ada di tengah kota. Namanya Taman Panorama. Di dalam taman ada lokasi yang unik. Namanya Lobang Jepang. Menurut Pak Fazis, lobang ini dibuat oleh Jepang lewat kerja paksa Romusha. Konon ada ribuan nyawa melayang saat pembangunannya. Di dalam lobang tersebut, sebagaimana gambar yang ada di atas lobang, ada ruang amunisi, pintu pelarian, barak, ruang sidang, ruang makan, penjara, dapur, pintu penyergapan, pintu keluar, dan pintu penghubung.


 

Kami berempat masuk ke lokasi. Saya melongok ke dalam lobang. Cukup curam. Informasi yang saya peroleh, kedalaman lobang 64 meter. Cukup dalam. Ada tangga menurun yang harus kita lalui. Panjang lobang konon sampai 6 kilometer yang terhubung ke beberapa Kawasan Ngarai Sianok, Benteng Fort De Kock, dan beberapa kawasan lain. Pintu keluar juga cukup jauh dari lokasi pintu masuk, yaitu sekitar 1,5 KM.


 

Saya tahu diri. Saya tidak memaksa masuk. Cukup melihat dari luar dan menikmati pemandangan yang ada di sekitar saja. Waktu mulai beranjak senja. Tentu kurang arif jika menelusuri bagian demi bagian lobang yang cukup panjang tersebut. Selain tentu saja usia yang tidak lagi muda

 Dari gayanya terlihat ketiga orang ini umurnya berapa ha ha ha

Kami kemudian beranjak ke bagian lain taman. Saya terkejut. Di situ ada tulisan Panorama Ngarai Sianok. Tetiba saya teringat pelajaran waktu SD tentang tempat-tempat di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu yang saya ingat adalah Ngarai Sianok. Subhanallah, tempat yang sekian puluh tahun lalu saya pelajari, sore ini berhasil saya kunjungi.

Saya lihat tulisan yang ada di pinggir ngarai itu. Saya pun kemudian melihat di pinggir ngarai. Sungguh indah dan eksotik. Gunung Singgalang dan Gunung Marapi berdiri kokoh di kejauhan. Di jurang terdapat sungai, pepohonan, dan di kejauhan juga terlihat beberapa bangunan. Mungkin rumah penduduk. Inilah kekayaan alam yang sangat luar biasa. Kami pun berfoto dan bercanda ria di sisi ngarai.


 

Setelah dirasa cukup kami pun beranjak. Tujuan berikutnya adalah Jam Gadang. Ini merupakan tempat ikonik. Kurang lengkap mengunjungi Bukittinggi sebelum mengunjungi Jam Gadang.

Ya, Jam Gadang yang ada di Taman Sabai Nan Aluih merupakan bagian penting dari Bukittinggi. Keduanya identik. Bangunan Jam Gadang yang berdiri kokoh menjulang setinggi 26 meter ini dibangun pada tahun 1926. Hampir seratus tahun yang lalu.


 

Saya berselancar di internet untuk mengetahui struktur bangunannya. Soalnya saat kami datang, saya tidak mendapatkan penjelasan yang memadai. Berdasarkan penelusuran, Jam Gadang terdiri dari empat tingkat. Tingkat pertama merupakan kantor para petugas. Tingkat kedua merupakan tempat bandul jam. Tingkat ketiga merupakan tempat mesin jam. Pada tingkat keempat merupakan tempat di mana lokasi lonceng jam berada.

Saya mengamati jam yang begitu besar. Sejarah panjang Jam Gadang menjadi bagian penting yang membuat lokasi ini tidak akan mati. Ia akan selalu ramai karena memori sejarah, keingintahuan, dan dinamika perkembangan yang lainnya.

Saat kami datang, suasana sedang sangat ramai. Pengunjung memenuhi hampir setiap sudut. Kondisi menjadi semakin kurang nyaman dengan adanya para pedagang yang sangat banyak.


 

Meskipun demikian kami menikmati suasana yang ada. Tentu saja agenda yang utama adalah foto. Ini akan menjadi kenangan dan bukti bahwa saya pernah mengunjungi kota di mana Bung Hatta lahir.


 

Senja mulai menyapa. Kami pun bergerak pulang. Kembali menyusuri jalanan yang mulai gelap menuju Batusangkar. Meskipun hanya sesaat, perjalanan kali ini sungguh berarti.

Saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Fazis dan tim yang dalam perjalanan pulang mengajak saya lewat Madrasah Sumatera Thawalib yang sangat terkenal itu. Sekali lagi saya menikmati sebuah tempat yang dulu hanya ada dalam matapelajaran sekolah.

 

 

Ditulis di Pesawat Batik Air dari Padang menuju Jakarta, 30-3-2022

 

 

28 komentar:

  1. Perjalanan yang berkesan pastinya, moga sehat dan sukses selalu Prof.

    BalasHapus
  2. Luar biasa kodah perjalanannya. Semoga bisa amampir ke talang babungo solok sumatera barat Prof. Pemandangannya bagus sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Omjay. Semoga suatu saat ada kesempatan ke sana.

      Hapus
  3. Alhamdulilah kisah perjalanan yg menjadi kenangan.Slmt Prof. Naim

    BalasHapus
  4. Keren Prof...
    Semoga suatu saat bisa sampai di sana. Alamnya begitu indah, suhanallah....

    BalasHapus
  5. Berwisata sambil berliterasi.. atau terbalik Prof? Berliterasi sambil berwisata..

    BalasHapus
  6. Berliterasi bisa di mana saja ya, Prof.. Jadi ingin ke sana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Bahkan perjalanan antar desa saja bisa menjadi bahan literasi kok.

      Hapus
  7. Masyaalloh...sangat kreatif Bapak, ...tiada waktu yang terbuang...

    BalasHapus
  8. Dail : Ini Luar biasa kisah perjalanan dinas yang menyenangkan sekaligus berbagi informasi tentang Sumbar dan Kampus IAIN batusangkar


    mantul Prof.

    BalasHapus
  9. Cerita yang luar biasa , bisa berbagi dengan kami yang belum pernah pergi ke sana.

    BalasHapus
  10. Luar biasa tatanan kalimat dan aliran katanya pak.. .
    Saya lihat ada foto plang Sumatera Thawalib Parabek tapi gak ada dalam narasi pak..
    Kebetulan Saya salah seorang guru yang mengajar di pondok itu. Sekarang ikut BM gagasan om jay.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bu. Saya hanya lewat di depan Sumatera Thawalib Parabek Bu. Karena waktu sudah gelap, kami tidak sempat mampir. Semoga lain waktu bisa mengunjungi dan bisa silaturrahmi ke Ibu.

      Hapus
  11. Menulis di mana saja, kapan saja👍

    BalasHapus
  12. Luar biasa Prof. Tulisan yang sangat berkualitas dari segala segi.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.