Ngaji, Zuhud, dan Rem

Juni 21, 2022


 

Ngainun Naim

 

Ngaji itu tradisi wajib santri. Aktivitas ngaji menjadi penanda kesantrian. Jika ada santri tidak mengaji maka kesantriannya dipertanyakan. Aspek yang substantif dari ngaji adalah mencari ilmu dan ibadah.

Ngaji itu sesungguhnya berkaitan dengan upaya untuk membangun kedewasaan diri. Ilmu yang disampaikan saat ngaji mungkin sebagian sudah kita ketahui. Namun demikian selalu terdapat ruang kosong yang kita belum mengetahuinya. Ngaji, dengan demikian, adalah ruang untuk membuka diri, menyerap ilmu, dan merengkuh hikmah tanpa henti.


 

 

Zuhud

Ngaji Kitab Kifayatul Atqiya’ yang disampaikan oleh KH Abdussalam Shohib pada hari Minggu 12 Juni 2022 di Pesantren Mahasiswa Mamba’ul Ma’arif Tulungagung sampai pada bab Zuhud. Bab ini sangat penting bagi kaum Muslim sebagai tangga untuk menjadi manusia yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Saya menemukan banyak sekali ilmu mencerahkan dari pengajian ini. Satu kosakata yang cukup sering saya ucapkan adalah syukur. Kata ini, menurut penjelasan Kiai Salam, harus terus dirawat secara baik. Tidak semua orang mampu bersyukur dalam maknanya yang substantif. Orang yang mampu terus merawat syukur adalah orang merdeka dan orang yang sadar diri.


 

Pentingnya syukur juga ditegaskan oleh KH Abdul Wahhab Kholil. Beliau menjelaskan panjang lebar dengan balutan kisah yang luar biasa. Jalan kewalian bisa diperoleh—antara lain—lewat bersyukur. Wali bisa mensyukuri apa pun, termasuk bersyukur jika istrinya cerewet tingkat dewa.

Pada topik inti, yakni zuhud, saya mendapatkan penjelasan dari Kiai Salam yang cukup menarik. Zuhud merupakan gaya hidup dan cara pandang terhadap harta yang mana kita tidak bergantung pada harta tersebut. Bukan berarti kita tidak mau atau tidak butuh terhadap harta dan jabatan tetapi ketika kita memilikinya, kita tidak larut, apalagi sampai terpedaya. Semakin banyak harta yang dimiliki dan semakin tinggi jabatan yang diduduki maka sesungguhnya peluang berzuhud semakin besar. Tentu saja godaannya juga semakin besar pula.

Penting dipahami bersama bahwa dunia ini ibarat candu. Namanya candu, jika sudah kecanduan, sulit untuk lepas. Pada titik inilah maka ngaji bab zuhud ini sangat penting.

Orang yang zuhud itu sesungguhnya merupakan orang yang cerdas. Hal ini disebabkan karena ia tidak hanya berpikir tentang kehidupan sekarang tetapi juga berpikir tentang kehidupan di masa depan. Orang yang zuhud bisa mendapatkan banyak keuntungan dalam perjalanan kehidupannya.

 


Ngaji Sebagai Rem

Zaman sekarang ini godaan hidup semakin besar. Kuncinya ada pada kita masing-masing. Ngaji adalah salah satu cara untuk menjadikan kita sebagai manusia yang selalu ingat dan mematuhi terhadap ajaran agama.

Kitab yang dikaji ini merupakan kitab tasawuf. Menerapkan isinya tentu bukan pekerjaan yang mudah dan sederhana. Sungguh sangat berat menapaki tangga demi tangga sebagaimana dijelaskan di Kifayatul Atqiya’. Namun demikian paling tidak ngaji ini bisa menjadi semacam rem.

Rem di kendaraan itu berfungsi sebagai kontrol. Demikian juga halnya dengan ngaji. Fungsi rem ini sangat penting. Tanpa rem kehidupan kita akan kehilangan kendali. Di sinilah arti penting mengaji.

 

Tulungagung-Trenggalek, 20-21 Juni 2022

10 komentar:

  1. Sangat menginspirasi prof... Terima kasih ilmunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkenan membaca

      Hapus
  2. Sangat Benar adanya.luar biasa👍👍

    BalasHapus
  3. Terima kasih ilmu prof dan sehat selalu

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah, jadi bisa ikut menyerap sari dan materi mengaji, meski tidak ikut hadir. Terima kasih catatannya, Bapak Naim.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.