Mengisi Acara, Bersua, dan Ziarah

September 16, 2022


 

Ngainun Naim

 

Rabo pagi tanggal 7 September 2022 saya berada di UIN Antasari Banjarmasin. Bersama Prof. Dr. Rubaidi dari UIN Sunan Ampel Surabaya, kami mengisi workshop pengabdian kepada masyarakat berbasis riset.

Perjalanan diawali dari Bandara Juanda pada rabo pagi. Pesawat yang mengantarkan kami terbang pukul 05.10 WIB. Kurang lebih 1 jam 10 menit pesawat telah sampai dan landing di Bandara Internasional Syamsuddin Noer Banjarmasin.

Begitu datang, panitia sudah menyambut. Pak Emroni, Sekretaris LP2M UIN Antasari Banjarmasin, sudah menunggu di pintu kedatangan. Senyumnya ramah. Saya bersama Prof. Dr. Rubaidi yang baru turun pesawat langsung diajak menuju tempat parkir.

Mobil segera melaju meninggalkan Bandara. Sebelum sampai di kampus, kami diajak sarapan. Warung yang menjadi tempat sarapan adalah Warung Nasi Iwak Itik Mama Baiti Gambut. Menunya adalah makanan khas Banjar. Nikmat sekali sarapan di pagi hari.


 

 

Berdampak, Terukur, dan Terdokumentasi

Pembukaan acara dilakukan pukul 09.00 WIB. Sudah hadir di tempat acara Bapak Rektor UIN Antasari, Prof. Dr. Mujiburrohman, M.A. Beliau menyambut kami dengan hangat.

Sesaat kemudian acara dimulai. Saat memberikan pengarahan, Prof. Mujiburrohman menyampaikan beberapa hal penting, khususnya terkait dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pertama, melakukan secara ilmiah. Jadi pengabdian yang dilakukan oleh dosen itu seharusnya memiliki landasan metodologi yang mapan. Ini penting karena aspek metodologi menjadi karakteristik yang seharusnya menyertai setiap aktivitas tri dharma seorang dosen.

Kedua, aktivitas pengabdian merupakan aktivitas yang seharusnya dilakukan dengan totalitas. Bukan sekadar formalitas semata. Dalam bahasa Prof. Mujiburrohman, tidak hanya datang dan pulang, namun yang lebih penting lagi adalah bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan.

Ketiga, kerja dosen itu kerja "sunyi". Kerjanya jarang yang viral dan heboh di media.  Namun demikian bukan berati kerja pengabdian dosen itu asal dilakukan. Semuanya dilakukan secara matang, bermakna, dan bermanfaat.

Keempat, metodologi ABCD dan PAR itu dakwah yang konkret. Ini penting artinya untuk memperkuat dakwah yang selama ini konotasinya adalah ceramah. Lewat ABCD dan PAR diharapkan terjadi transformasi kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Kelima, pentingnya publikasi sebagai aktualisasi budaya akademik. Membangun budaya akademik itu jauh lebih berat dari membangun gedung. Ini butuh passion.


 

 

Ziarah Guru Sekumpul

Jadwal mengisi acara untuk saya setelah shalat dhuhur. Ada waktu beberapa jam sebelum jadwal mengisi. Saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Sudah jauh-jauh sampai Banjarmasin tentu sayang jika hanya diam di tempat.

Saya sampaikan ke panitia bahwa saya ingin ziarah ke makam Guru Sekumpul. Beliau merupakan ulama kharismatik yang haulnya selalu dihadiri ribuan jamaah. Panitia menyanggupi untuk mengantar.

Tetiba saya teringat alumni UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang kini menjadi dosen di UIN Antasari Banjarmasin. Dr. Makherus Sholeh menyelesaikan S1 di IAIN Tulungagung, S2 di UIN Maliki Malang, dan S3 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Segera saya hubungi beliau via WA.

Tidak seberapa lama beliau datang. Kami pun berbincang tentang berbagai hal. Dr. Makherus akhirnya menemani saya dalam perjalanan ke makam Guru Sekumpul. Tentu ini pertemuan yang menggembirakan.

Kubah Guru Sekumpul ternyata dalam proses renovasi. Jamaah berdoa dari sisi luar. Puluhan jamaah membaca doa, dzikir, dan melantunkan ayat suci. Dipandu oleh Pak Emroni, kami larut dalam doa dan dzikir.

Pak Emroni dan Pak Ibnu, tim LP2M yang mengantar kami ternyata asli desa sebelah Sekumpul. Beliau berkisah banyak hal tentang tradisi, sejarah, dan hal-ikhwal keagamaan masyarakat di lokasi. Entah berapa puluh ribu atau mungkin ratusan ribu yang hadir setiap haul. Mobil bisa parkir dari jarak tidak kurang dari lima kilo meter. Sungguh fenomena spiritual luar biasa. Semoga suatu saat mendapatkan kesempatan hadir dalam acara haul.


 

 

Spirit Dosen Mengabdi

Saya menyampaikan materi mulai pukul 14.00-16.00 WIT. Jujur pada jam semacam ini tantangannya sangat berat. Jam capek dan ngantuk. Namun bersyukur sampai acara selesai saya berusaha komunikatif dan mengelola materi secara santai sehingga tidak ada yang terlelap.

Aspek yang saya sampaikan, antara lain, tentang spirit melakukan pengabdian. Darma pengabdian relatif kurang mendapatkan perhatian dibandingkan dengan darma pendidikan dan penelitian. Justru karena itulah diperlukan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran bersama untuk aktif melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Pengabdian itu idealnya terencana secara baik. Penguasaan metodologi sangat penting. Selain itu mengolah kegiatan pengabdian dalam laporan dan artikel jurnal juga penting menjadi bahan pertimbangan.

Memang tidak mudah. Semuanya harus diupayakan secara serius. Lewat cara-cara semacam ini diharapkan dapat terjadi peningkatan kualitas pengabdian dosen.

 

Tulungagung, 12-9-2022

15 komentar:

  1. Masya Alloh...
    Selalu berbagi ilmu...
    Sehat - sehat selalu Prof..

    BalasHapus
  2. Selalu inspiratif tulisannya Prof. Sungguh luar biasa

    BalasHapus
  3. Semoga juga bisa mengisi fi BM PGRI gel 27 nggih Pak 🙏

    BalasHapus
  4. subhanallah.dapat semuanya. kerja, silaturahim dan travel serta ziarah. barokallah

    BalasHapus
  5. Masya Allah luar biasa.. Sangat bermanfaat skli pk prof. Salam kenal dari guru SD lotim, NTB

    BalasHapus
  6. Terimakasih Prof. Artikel yang sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  7. Jangan pernah pudar semangat untuk menebar ilmu Pak Ngainun Naim. Semoga tetap sehat selalu

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.