Penulis Harus Naik Kelas

Oktober 25, 2022

Saya bersama Mr. Emcho
 

Ngainun Naim

 

Kegiatan Rumah Virus Literasi (RVL) di Yogyakarta pada 21-23 Oktober 2022 sangat penting artinya. Bagi saya, ini merupakan kesempatan yang bagus untuk meng-up grade diri. Saya bisa belajar banyak kepada para pembicara. Mereka menyajikan ilmu dan pengalaman kepenulisan yang sangat berharga.

Penulis itu harus terus belajar. Jika berhenti belajar, ia akan menjadi sombong. Ia merasa ilmunya sudah cukup. Padahal ilmu kepenulisan itu harus terus diasah dan ditambah. Itulah yang membuat spirit literasi tetap terawat. Merasa cukup membuat seorang penulis menjadi statis.

Kita bisa belajar kepada para penulis produktif di suatu masa, lalu tenggelam. Hal ini disebabkan karena tidak ada lagi karya yang dihasilkan. Namanya perlahan tapi pasti hilang dari pusaran sejarah. Salah satu sebabnya karena mereka tidak merespon terhadap dinamika perkembangan yang ada. Mereka sudah puas dengan ilmu yang dimiliki.

Tetiba saya ingat kisah sahabat saya yang kuliah di luar negeri. Di sana, para profesor yang memiliki reputasi internasional dikenal sebagai figur pembelajar sejati. Mereka tetap rajin membaca, menulis, diskusi, dan menghadiri aneka forum ilmiah. Nama besar tidak membuat mereka jumawa. Justru nama besar menjadi pemicu untuk terus merawat tradisi belajar.

Dilihat dari sisi usia, mereka rata-rata sudah tidak muda. Dilihat dari sisi capaian, sudah mendunia. Dilihat dari sisi materi, sudah lebih dari cukup. Tapi mereka tetap tekun belajar.

Tekun belajar bagi penulis adalah modal untuk naik kelas. Jadi tidak hanya puas berada di kelas tertentu. Spirit naik kelas adalah spirit belajar dan spirit proses.

Belajar berkaitan dengan ikhtiar menyerap ilmu. Proses berkaitan dengan bagaimana ilmu menulis dipraktikkan. Integrasi keduanya akan menjadi modal penting untuk lahirnya tulisan yang bermutu.

Ilmu menulis itu penting. Tapi tanpa praktik, menulis sebatas teori yang melangit. Praktik itu penting. Tapi tanpa basis teori, tulisan yang dihasilkan tidak akan bagus. Justru karena itulah proses merupakan aspek yang penting untuk dijalani secara baik.

Pentingnya naik kelas menjadi inti materi Mr. Emcho, sapaan akrab Abah Drs. Much. Khoiri, M.Si., Pendiri Rumah Virus Literasi yang juga merupakan dosen Universitas Negeri Surabaya. Seperti biasa, beliau menyampaikan materi secara jenaka tanpa mengurangi makna. Justru itulah yang menjadikan materi beliau cukup mengena.

Naik kelas menjadi motivasi dan tantangan. Tanpa naik kelas, menulis tidak akan berkembang. Begitu saja dari waktu ke waktu.

Mr. Emcho menguraikan enam kelas dalam menulis. Peserta kegiatan diharapkan mau dan mampu menulis. Kopdar selanjutnya adalah pembuktian peserta ada di kelas mana.

Kelas pertama adalah kelas antologi. Para peserta diharapkan aktif ikut menulis antologi. Ada banyak manfaatnya. Salah satunya adalah meningkatkan rasa percaya diri dalam menulis. Inilah sesungguhnya problem terbesar yang dihadapi oleh para penulis pemula.

Kelas kedua adalah buku mandiri. Jangan hanya puas dengan buku antologi. Harus naik kelas. Buku mandiri harus terbit. Bentuknya terserah. Kualitas tidak perlu bagus. Namanya juga penulis pemula. Keberanian menerbitkan buku mandiri adalah modal yang penting untuk menekuni kelas-kelas berikutnya.

Kelas ketiga adalah buku mandiri yang bagus. Ini bermakna, buku itu harus terus meningkat kualitasnya. Teknis dan substansi harus lebih meningkat dibandingkan buku sebelumnya. Caranya dengan belajar, meminta masukan sejawat, dan memperbaiki saran demi saran yang ada.

Kelas keempat adalah buku bagus yang laris. Ini penting karena buku bagus tapi kurang laris tidak akan dibaca banyak orang. Jika laris tentu tingkat ketersebaran ide semakin luas. Laris juga memberikan efek finansial bagi penulisnya.

Kelima, toko buku online. Ini zaman online. Penulis di zaman ini seharusnya juga punya toko buku online.

Kelas keenam, punya pemasaran. Ini penting karena adanya tim pemasaran menjadikan menulis bukan sekadar menghasilkan karya  tapi juga menjadi aktualisasi enterpreneurship.

Ditulis dalam perjalanan ke Cirebon. 24-10-2022

24 komentar:

  1. Mantap joss. Kalau ini sdh bisa dibungkus. Matur nuwun, Mas Prof Ngainun Naim

    BalasHapus
  2. Luar biasa Prof. Ngainun sll menginspirasi

    BalasHapus
  3. Terima kasih Prof ats motivasinya

    BalasHapus
  4. Keren....prof.ainun...tulisannya menggelegar

    BalasHapus
  5. Terimakasih banyak prof. Atas ilmu dan motifasinya🙏

    BalasHapus
  6. Kalau tidak naik kelas, berarti tinggal kelas dong.....
    Tinggal kelas kok bertahun-tahun....
    Wah, saya malu nih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he he. Saya sendiri belum naik kelas juga. Tulisan ini adalah sarana bagi saya untuk muhasabah

      Hapus
  7. Motivator hebat.....terimakasih Pak

    BalasHapus
  8. terima kasih Prof, semoga Omjay dapat naik kelas.

    BalasHapus
  9. Luar biasa pak prof

    BalasHapus
  10. Terima kasih motivasinya Prof.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.