Silaturrahmi: Dari Maya ke Dunia Nyata

November 07, 2022


Ngainun Naim

 

Inilah zaman digital. Zaman di mana segala sesuatunya terhubung satu sama lain. Hal yang dulu seolah tidak mungkin, kini menjadi mungkin.

Persahabatan, misalnya, menjadi semakin luas. Ia bisa melampaui batas-batas fisik. Meskipun belum pernah bersua fisik, relasi bisa jadi sudah sangat akrab. Ketika pada akhirnya berjumpa, langsung akrab dalam makna yang sesungguhnya. Seolah sudah sering bertemu muka.

Dulu persahabatan jarak jauh terjadi dalam bentuk surat-menyurat. Orang lebih mengenalnya dengan istilah sahabat pena. Komunikasi bisa jadi sangat intensif tetapi tidak pernah sekali pun bertemu muka.

Sekarang zaman berubah. Sahabat pena berbasis surat-menyurat saya kira sudah punah. Jika pun masih ada, mungkin sudah termasuk hal langka dan aneh. Itulah hukum kehidupan. Sesuatu yang sekarang ini biasa, di masa depan bisa jadi akan aneh. Hal semacam itu sudah terjadi pada banyak hal.

Dulu saat saya kecil, hiburan yang utama adalah mendengarkan radio. Sandiwara radio dan acara musik merupakan acara favorit. Kami rela menunggu berjam-jam untuk mendengarkan acara-acara favorit tersebut.

Kini orang yang masih memiliki radio di rumah sudah dianggap hal aneh. Sudah cukup jarang yang memiliki. Jika pun ada biasanya orang yang usianya 40 tahun ke atas. Radio kini menjadi bagian dari perjalanan karena menjadi asesoris kendaraan. Ia baru akan dinyalakan sebagai teman perjalanan. Itu pun tidak selalu juga karena pilihan teman perjalanan sekarang cukup bervariatif dan biasanya lebih menarik dibandingkan dengan radio.

Zaman memang berubah namun arti penting persahabatan, setidaknya bagi saya, tidak berubah. Ia tetap penting. Ada begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan. Jika ini mau diidentifikasi dan diuraikan, bisa jadi akan memakan banyak halaman. Ya wajar karena persahabatan itu memang banyak sekali manfaatnya.

Saya tetiba teringat seorang penulis di Kompasiana. Kami biasanya menyebut dengan Kompasianer. Mungkin artinya ya penulis Kompasiana. Namanya Pak Dhe Sakimun. Hal menarik pada beliau adalah slogannya: Seribu orang teman sangat sedikit, dan satu orang musuh terlalu banyak. Coba simak slogan ini. Bagi saya ini slogan yang luar biasa. Slogan ini menegaskan pentingnya persahabatan dan pentingnya menghindari permusuhan. Sayang saya menemukan tulisan terakhir beliau di Kompasiana tahun 2018. Sudah cukup lama tidak ada lagi tulisan dari beliau.

 

Bersua Secara Langsung

Saya memiliki banyak sahabat di jejaring dunia maya. Mereka bisa teman facebook, Instagram, grup WA, atau media sosial lainnya. Pertemanan ini kadang cukup akrab. Kami berkomunikasi dan saling diskusi. Namun ya di dunia maya.

Beberapa orang pada akhirnya bisa bersua di dunia nyata. Ada banyak momentum yang mempertemukan. Tentu ini hal yang membahagiakan. Orang sepuh Jawa bilang, “Menambah Saudara”.

Lebih menarik lagi adalah bila bersua dengan orang yang kita belum mengenalnya tetapi mereka yang mengenal kita. Ini menarik. Jadi mereka itu mengamati saya, khususnya dari tulisan demi tulisan yang saya buat. Saat bertemu, mereka bisa bercerita banyak hal tentang tulisan saya di media sosial yang mereka baca.

Di situlah saya merasa bahwa menulis itu ternyata memberikan dampak yang acapkali tidak terduga. Bagi kita yang menulis dianggap hal biasa dan tidak ada maknanya, tetapi bagi orang lain bisa jadi luar biasa dan memberikan manfaat.

Kini saya cenderung menulis untuk menulis itu sendiri. Pokoknya menulis. Kualitas dan keuntungan lain acapkali harus diminggirkan dulu. Pokoknya menulis, menulis, dan menulis. Pada kenyataannya, tulisan sederhana yang saya buat ternyata memberikan manfaat juga bagi pembaca.

Apakah tulisan saya banyak yang membaca? Mungkin iya, mungkin tidak. Ada tulisan saya yang dibaca oleh ribuan orang, tapi ada juga yang hanya dibaca oleh beberapa orang. Ya begitulah nasib tulisan. Setiap tulisan memiliki takdir pembacanya sendiri.

Kebahagiaan berjumpa secara fisik dengan teman yang awalnya dikenal di dunia maya itu saya alami bulan lalu. Saat itu saya hadir untuk sebuah kegiatan di Tuban pada 16 Oktober 2022. Acara utamanya adalah menjadi narasumber seminar.

Tema seminarnya cukup keren, yaitu Menumbuhkan Mental Generasi Muda yang Berani Berkarya, Kreatif, dan Produktif. Lokasi seminar ada di Aula MTs Manbail Huda Desa Kaliuntu Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban. Selain saya, narasumber yang lain adalah Sigit Priatmoko, M.Pd., seorang penulis dan juga Dosen UIN Maliki Malang dan Banin FN, seorang novelis dan Youtuber. Acara seminar sendiri cukup sukses. Peserta antusias mengikuti acara demi acara sampai akhir.

Kegiatan seminar ini memberikan banyak bonus kepada saya. Salah satunya adalah bisa bersua dengan teman yang awalnya hanya saya kenal di dunia maya.

Ada beberapa teman yang akhirnya bisa bersua. Saya tidak akan menulis semuanya. Sengaja saya memilih tiga orang  karena beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah keakraban dan mereka memberikan saya bonus buku karya mereka ha ha ha.


 

Pertama, Nurul Fahmi. Beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Masyithoh Manbail Futuh Desa Beji Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban. Saya beberapa kali berkomunikasi dengan beliau. Tentu via jejaring sosial. Beliau merupakan kiai muda yang aktif menulis. Buku-bukunya cukup laris. Selain mengasuh pondok pesantren, beliau juga menjadi dosen Bahasa Arab di Institut Pesantren Sunan Drajat Lamongan.

Kebetulan saya dan beliau ada dalam sebuah grup, yaitu Halaqah Literasi. Salah satu buku antologi di grup ini mempertemukan saya dengan beliau. Namun karena dunia maya, keakraban tentu beda dengan dunia nyata.

Saat saya ada agenda ke Tuban untuk seminar ini, saya pun melakukan komunikasi. Sambutan beliau sangat baik. Beliau bahkan menyampaikan agar saya menunggu di Masjid Baiturrahman Jenu. Jika saya sudah sampai, beliau meminta saya menghubungi beliau. Nantinya akan dijemput.

Sungguh ini merupakan sebuah kehormatan yang tidak terkira. Seorang kiai mau menjemput. Bagi saya, ini keberkahan yang harus disyukuri.

Ini perjalanan pertama saya ke lokasi ini. Jadi modalnya hanya Google Map. Sungguh saya sangat bersyukur ada alat canggih ini. Meskipun tidak selalu valid dan pernah juga kesasar gara-gara alat modern ini, namun manfaatnya sangat nyata. Sulit saya membayangkan dalam perjalanan jauh jika tanpa alat ini. Entah berapa kali saya akan turun untuk bertanya menuju lokasi.

Sabtu pagi tanggal 16 Oktober 2022. Tepat pukul 08.00 WIB saya sampai ke Masjid Baiturrahman Jenu. Saya WA beliau. Saya sampaikan bahwa saya telah sampai. Tidak butuh waktu lama. Hanya dalam hitungan menit beliau segera menjemput. Kami pun kemudian bersama menuju rumah beliau.

Ternyata jarak menuju pesantren beliau hanya beberapa ratus meter saja. Pesantren Manbail Futuh memiliki ribuan santri. Mereka belajar di beberapa lembaga pendidikan yang ada di dalam pesantren. Saya sendiri kurang ingat apa saja saat mendengar penjelasan beliau.

Saya diajak masuk ke ndalem beliau. Di ruang tamu, ratusan buku dan kitab berjejer rapi. Ini merupakan simbol bahwa beliau adalah seorang pembelajar sejati. Ya, jika bukan pembelajar, kecil kemungkinan memiliki koleksi dalam jumlah yang sedemikian banyak. Saya yakin koleksi lainnya juga banyak.

Kami pun terlibat dalam perbincangan yang hangat. Topiknya bermacam-macam, mulai dari kuliah, literasi, kepesantrenan, dan lainnya. Sesungguhnya ini pertemuan secara tatap muka pertama, namun rasanya kami sudah sangat akrab. Seolah kami sudah sangat sering bersua.

       Jarum jam menunjukkan angka 09.00 WIB. Perbincangan harus kami hentikan. Panitia menanyakan keberadaan saya. Saya sampaikan bahwa saya ada di Ndalem Kiai Nurul Fahmi. Saya mempersilahkan panitia untuk memulai saja acara.

           Kiai Fahmi berbaik hati mengantarkan saya menuju lokasi acara. Ternyata letaknya hanya sekitar 400 meter dari rumah beliau, hanya beda desa. Sungguh saya merasa bahagia bisa silaturrahim ke Ndalem kiai muda yang rajin menulis ini. Bonusnya adalah sebuah buku karya beliau yang laku keras di pasar. Judulnya Senjata Santri (Lamongan: Pustaka Ilalang, 2019). Buku ini menurut Kiai Fahmi sudah cetak ulang lima kali. Oh ya, ternyata saya juga pernah membuat catatan sederhana atas buku beliau, yaitu Terompah Kiai. Kawan-kawan yang ingin membaca bisa mengunjungi ke: https://www.spirit-literasi.id/2020/08/selaksa-kearifan-dari-pesantren.html.

 

Agus Ibrahim


 

Nama ini baru saya kenal di Facebook. Mungkin kisaran beberapa bulan lalu. Saya sendiri lupa tentang bagaimana awal mula persahabatan dengan beliau.

Nama ini kembali saya dengar dari penjelasan Kiai Nurul Fahmi. Beliau menyebut bahwa Agus Ibrahim adalah seorang penulis muda penuh semangat dan potensial. Beberapa buku telah lahir dari owner Penerbit Mitra Karya Tuban ini.

Sesaat saya mengingat tentang beliau di FB. Ya, saya ingat bahwa beliau cukup aktif di FB. Beberapa kali status beliau saya baca. Kesimpulan saya sederhana: beliau pegiat literasi. Jadinya rajin membaca, menulis, dan menerbitkan buku.

Saya memang suka berteman dengan pegiat literasi. Selain menambah saudara, juga menambah spirit literasi. Tantangan menekuni dunia literasi sungguh besar. Kadang semangat, namun di saat lain betul-betul tidak semangat. Tidak ada energi sama sekali. Nah, dengan bergaul ke sesama penulis, spirit literasi itu kembali naik.

Kesimpulan saya tentang Mas Agus Ibrahim hanya berbasis asumsi dan data yang jauh memadai. Saya hanya membaca status beliau saja di FB. Tidak ada sumber lain yang valid yang mendukung kesimpulan saya.

Pukul 11.30 WIB tugas saya menyampaikan materi selesai. Usai foto-foto, saya sebenarnya ingin segera pamit. Rupanya tidak boleh sama panitia. Mereka mengajak saya ke ruang Kepala MTs Manbail Huda. Di sana sudah tersedia tumpeng dengan lauk-pauk yang menggoda iman.

Tentu saya harus mengapresiasi ajakan panitia. Selain juga memang sudah waktunya makan siang. Ajakan penuh barakah begini harus diapresiasi dan jangan sampai ditolak ha ha ha.

Bersama beberapa kawan, kami segera makan siang. Bersama kami ada Mas Sigit Priatmoko, Mas Slamet Widodo, Pak Amyn Chusen, dan beberapa orang lain. Saya tidak hafal. Menu menggoda dan kondisi lapar membuat makan siang berlangsung hikmat.

Ketika selesai makan tetiba datang Mas Agus Ibrahim. Rupanya beliau baru saja dari acara Halaqah Ulama: Fikih Siyasah Bangsa dan Negara yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Ash-Shomadiyah Makam Agung Tuban. Kehadirannya menambah akrab suasana.

Kami pun terlibat dalam perbincangan akrab. Tema perbincangannya tentang banyak hal. Tentu literasi adalah bagian penting dari perbincangan yang tidak boleh diabaikan. Kebetulan saya memiliki minat yang sama dengan Mas Agus Ibrahim.

Hari semakin siang. Saya harus pamit. Perjalanan masih sangat panjang untuk sampai ke rumah Trenggalek. Di ujung perbincangan Mas Agus Ibrahim menghadiahi saya buku karyanya. Judulnya Cuplis dan Mbah Karno. Saya menerima dengan sangat gembira. Sebagai gantinya saya memberikan buku saya yang tidak menarik, yaitu Proses Kreatif Penulisan Akademik. Apalagi yang membuat seorang pegiat literasi bergembira selain buku dan persahabatan?

Foto bersama menjadi ritual yang wajib dijalani. Jangan sampai pertemuan tanpa foto. Kurang absah. Memang ini penting sebagai dokumen yang acap abai di zaman pra-digital dulu.

 

Ikhwan Fahruddin


 

Siang hari Kota Tuban panas terik. Saya melaju menuju Alun-Alun. Mas Ikhwan Fahrudin ingin bertemu. Beliau meminta saya menunggu di Alun-Alun.

Tidak butuh waktu lama. Beliau datang ketika mobil saya parkir di ujung utara Alun-Alun selama beberapa menit. Beliau lalu memandu saya untuk mencari parkir di depan Masjid Agung Tuban. Ribuan peziarah Sunan Bonang menyemut memenuhi sudut-sudut Alun-Alun. Abang-abang becak terlihat menyemut panjang ke selatan dan siap mengangkut peziarah yang telah selesai untuk kembali ke parkir bus. Suasana semacam ini khas di beberapa tempat ziarah.

Mas Ikhwan mengajak saya shalat dhuhur. Saya pernah mengunjungi masjid ini dulu. Pastinya lupa karena sudah agak lama. Masjid yang cukup megah dan sangat indah.

Usai shalat beliau memandu saya menuju makam Sunan Bonang. Kata Mas Ihwan, situasinya tidak terlalu ramai. Pada hari tertentu, ribuan orang bisa berdesakan dan menyemut menuju makam untuk berdoa.

Usai berdoa kami kembali menuju tempat parkir. Berjalan dan berbincang tentang banyak hal. Saya mendapatkan penjelasan mengapa kota Tuban dijuluki sebagai Bumi Wali. Ternyata nyaris di setiap desa ada makam para wali. Sungguh ini penjelasan menarik yang baru pertama ini saya ketahui.

Mas Ikhwan mengajak saya ke rumahnya. Saya mengikuti saja sebagai aktualisasi silaturrahmi. Sungguh senang bisa mengunjungi seorang sahabat muda yang kreatif seperti beliau. Itu saya ketahui setelah saya sampai rumah beliau dan berbincang tentang banyak hal.

Guru di Al-Uswah Centre Tuban ini juga memiliki beberapa usaha. Satu di antaranya adalah Fam Honey, yaitu madu, yang memiliki reseller sebanyak 40 orang di berbagai tempat. Ia juga aktif mengembangkan berbagai pelatihan kreatif.

Perbincangan siang itu semakin mantap dengan disajikannya legen, minuman khas Tuban. Juga makan siang nasi jagung dengan lauk belut jangkar. Sungguh lezat.

Sudah cukup lama saya bertamu. Hari semakin sore. Saya pun pamit. Dua buku karya Mas Ikhwan pun dihadiahkan. Setelah itu beliau mengantar saya sampai ke jalan by pass. Terima kasih Mas Ikhwan atas sambutannya yang luar biasa. Sungguh sebuah persahabatan yang membahagiakan.

 

Trenggalek, 7-11-2022

17 komentar:

  1. Kereen prof.. Slm literasi dari bumi tebet jak sel

    BalasHapus
  2. Estu Prof ...gurih dan mantab. Perjalanam yang penuh berkah. Smoga pembacanya ikut kecipratan berkshnya. Aamiin

    BalasHapus
  3. Semoga tambah sahabat, tambah keberkahan usia Prof.

    BalasHapus
  4. Catatan yang menarik dan tak akan basi tentang makna persahabatan. Nwn

    BalasHapus
  5. Tulisan prof Ngainun selalu renyah & Alhamdulillah bermanfaat. (Abdisita)

    BalasHapus
  6. Saya bisa berhari-hari nulis sebanyak ini Prof.. Ini catatan perjalanan yg menarik, apalagi ada foto saya.. Hehe.. Semoga saya bisa silaturahmi ke jenengan Prof..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Kiai berkenan membaca dan berkomentar. Amin. Saya bahagia sekali andai Panjenengan bisa mbarokahi gubuk saya.

      Hapus
  7. Alhamdulillah dengan berliterasi bisa bersilaturahmi ya Prof

    BalasHapus
  8. Since 2004, I have have} labored on PCMag’s hardware team, covering at numerous times printers, scanners, projectors, storage, and monitors. I presently focus my testing efforts on 3D printers, pro and productiveness displays, and drives and SSDs of all sorts. Whether you've only high precision machining simply obtained your hands on one or a 3D printing veteran, free 3D printing fashions are at all times welcome. Designing a 3D mannequin from scratch requires time and skill that you might not have. Some giant FDM printers which soften high-density polyethylene pellets can also settle for sufficiently clean recycled material such as chipped milk bottles.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.