Dari WA ke Dunia Nyata

Desember 10, 2022

Kiri ke kanan: Mas Momy, saya, dan Dr. Nazar Husein
 

Ngainun Naim

 

Saya menyukai persahabatan. Semakin banyak sahabat, semakin merasa hidup saya semakin kaya. Tentu kaya memiliki konotasi makna. Ia tidak hanya berkaitan dengan materi semata, tetapi berkaitan dengan kesehatan, kebajikan, dan hal-hal positif lainnya.

 Sahabat bukan sekadar kenalan, tetapi memiliki peranan dan makna lebih dari itu. Ia tempat saling berkomunikasi dan berbagi. Keberadaannya memberikan banyak nilai lebih dalam kehidupan saya secara personal maupun secara sosial.

Saya teringat banyak nasihat tentang pentingnya menambah sahabat. Semakin banyak sahabat semakin bagus. Saya juga mendapatkan banyak nasihat tentang pentingnya untuk terus merawat persahabatan. Jangan sampai persahabatan retak karena satu dan lain hal. Perbedaan pendapat itu hal biasa yang harus disikapi secara positif-konstruktif. Di sinilah makna penting saling memahami dan menghargai.

Terkait sahabat ini saya memiliki pengalaman unik. Seseorang mengirimkan pesan WA. Pesan tertanggal 26 Oktober 2020. Saya kutip saja utuh pesan beliau.

Assalamualaikum Prof. Mohon maaf mengganggu sebentar. Perkenalkan saya Mommy Hunowu. Saya sedang belajar menulis buku dan alhamdulillah sedang antrian di penerbit. Judulnya Linula Molalahu: Sejarah, Kearifan, dan Tradisi. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mengundang bapak untuk memberi prolog atau komentar singkat terutama yang berkaitan dengan ritual yang berisi tarian mistis (dayango) dan sesajen yang ditentang sebagian warga dengan alasan mengandung kesyirikan. Berikut saya kirimkan ringkasan buku yg berisi daftar isi, pengantar dan synopsis. Sekiranya pak Prof punya waktu luang saya kirimkan file lengkapnya…Sebelumnya saya menyampaikan banyak terima kasih. Wassalam.

 

Saya sungguh merasa tersanjung dihubungi oleh seseorang untuk memberikan semacam endorsement. Ini sungguh sebuah kehormatan. Saya dan Mas Mommy belum pernah saling kenal sebelumnya. Juga belum pernah bertemu muka. Sejauh ingatan, kemungkinan kami dipertemukan oleh forum webinar yang diadakan oleh Irwan Abdullah Scholar (IAS).

Saya segera mengiyakan permintaan Mas Mommy. Saya baca naskah buku beliau dalam format Microsoft Word. Setelah mendapatkan gambaran singkat, saya pun membuat komentar singkat atas buku beliau.

Sejarah menyimpan kekayaan khazanah kehidupan. Penggalian, rekonstruksi, dan penulisan sejarah sebagaimana yang dilakukan Momy A. Hunowu ini sangat penting artinya. Diseminasi hasil-hasil penelitan lewat jejaring sosial facebook dan tanggapan netizen merupakan bagian dari kreativitas yang seharusnya diapresiasi. Sejarah memang seharusnya tidak berada di ruang yang sunyi, tetapi harus hadir dalam format kontemporer. Saya ucapkan selamat atas terbitnya buku bermutu ini. Semoga segera disusul buku-buku berikutny. --Dr. Ngainun Naim, Ketua LP2M IAIN Tulungagung.Sejarah menyimpan kekayaan khazanah kehidupan. Penggalian, rekonstruksi, dan penulisan sejarah sebagaimana yang dilakukan Momy A. Hunowu ini sangat penting artinya. Diseminasi hasil-hasil penelitan lewat jejaring sosial facebook dan tanggapan netizen merupakan bagian dari kreativitas yang seharusnya diapresiasi. Sejarah memang seharusnya tidak berada di ruang yang sunyi, tetapi harus hadir dalam format kontemporer. Saya ucapkan selamat atas terbitnya buku bermutu ini. Semoga segera disusul buku-buku berikutny. --Dr. Ngainun Naim, Ketua LP2M IAIN Tulungagung.

Saya sesungguhnya tidak terlalu aktif mengikuti webinar yang dilaksanakan oleh IAS. Memang beberapa kali saya mengikuti secara langsung via zoom. Namun demikian sebagian besar kegiatan justru saya simak lewat video. Tentu ada banyak hal yang menjadi pertimbangan, di antaranya soal waktu.

Saya bukan bagian dari IAS. Juga belum pernah menjadi peserta pelatihan penulisan artikel jurnal internasional bereputasi sebagaimana program IAS. Kebetulan saja saya kenal dengan Prof. Dr. Irwan Abdullah dan beberapa punggawa IAS. Suatu ketika saya pernah mendapatkan kehormatan untuk menjadi moderator kegiatan webinar IAS. 

 Buku karya Mas Momy

Pandemi memang tidak melulu soal penyakit, bencana, ancaman, dan ketakutan. Selama nyaris dua tahun pandemi Covid-19, ada banyak hal penting yang bisa memberikan hikmah bagi kehidupan kita. Saya sulit membayangkan apakah kita akan familiar dengan zoom, google meet, dan sejenisnya seandainya pandemi tidak menyerang kita.

Saya juga sulit membayangkan akan ada transformasi budaya yang begitu dahsyat jika tidak ada pandemi. Positif atau negatif itu selalu datang dalam kehidupan kita. Faktor terpenting yang menentukan negatif atau positif adalah kita sendiri. Jadi jika pandemi dihadirkan dimensinya yang positif akan banyak manfaat yang bisa kita peroleh.

Kembali ke Mas Momy, beliau ternyata mengirimkan buku sebagai bukti cetak. Dalam buku tersebut diuraikan hal-ikhwal Linula Molalahu. Hal ini sejalan dengan keahlian Mas Momy sebagai seorang antropolog. Saya sendiri jujur belum membaca tuntas buku beliau. Saya baru menelusuri sekilas halaman demi halaman dari buku bagus tersebut.

Jujur, waktu luang untuk membaca merupakan persoalan tersendiri. Sesungguhnya saya terus berjuang untuk membaca setiap hari, meskipun hanya beberapa halaman. Tetapi antara jumlah buku yang saya miliki dengan kesempatan membaca belum seimbang.

Beberapa hari setelah Mas Momy mengirimkan bukunya, saya membalas mengirimkan buku karya saya. Hanya buku sederhana saja sebagai aktualisasi kesukaan saya pada dunia menulis. Hadiah buku itu bagi saya membahagiakan dan harus dibalas dengan juga memberikan hadiah buku.

Tanggal 22 November 2022 Mas Momy mengirimkan informasi tentang sebuah artikel yang dimuat Harian Gorontalo Post. Artikel tersebut ternyata mengutip salah satu buku yang saya tulis. Tentu saja saya berterima kasih atas informasinya dan merasa bahagia karena buku saya ada yang membaca dan mengutip.

Momentum pertemuan saya secara langsung dengan Mas Momy terjadi pada 26 November 2022. Sore hari usai acara presentasi Biannual Conference on Research Result II yang diselenggarakan di Lantai 4 Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo, seseorang menyapa. Rupanya Mas Momy. Saya sangat bahagia bisa bersua beliau, meskipun tidak sempat berbincang banyak. Momentum semacam ini harus diabadikan lewat gambar.

Malam hari saat anugerah buat para pemenang BCRR II, kembali saya bertemu Mas Momy. Kali ini beliau memakai pakaian adat. Saya nyaris lupa. Suara yang memekakkan telinga dari musik yang sedang berlangsung membuat saya tidak bisa berbincang dengan Mas Momy.

Pengalaman persahabatan dengan Mas Momy sangat bermakna bagi saya. Komunikasi masih terus saya lakukan dengan beliau melalui WA. Semoga keberkahan selalu melimpahi kami. Amin.

 

Surabaya, 10-12-2022

29 komentar:

  1. Terima kasih prof. Ngainun. Selalu menginspirasi. (Abdisita)

    BalasHapus
  2. Linula molalahu itu artinya apa Mas Prof.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Linola itu kerajaan kecil yang menjadi bagian dari kerajaan besar. Molalahu itu nama kerajaan.

      Hapus
  3. Luar biasa Prof.... Ilmuan berkelas yang produktif menulis, termasuk hal-hal kecil yang menginspirasi....

    BalasHapus
  4. Tembakan yang memberikan berkah Pak.....

    BalasHapus
  5. Indahnya dunia penulis..Alhamdulillah

    BalasHapus
  6. Catatan ringan namun sangat padat dan menyejukkan bagi dunia literasi

    BalasHapus
  7. EYD nya kena banget, penulisannya rapi, Prof. 👍👍

    BalasHapus
  8. persahabatan yang menginspirasi prof. terimakasih sharingnya

    BalasHapus
  9. Saya berpikir tulisan Prof. berat², ternyata ringan dan renyah kayak krupuk. Saya suka bacanya, He he he... Sangat menginspirasi sekali Prof.

    BalasHapus
  10. Sebenarnya, saya mirip-mirip Prof. ngaimun. Sedikit2 tulis. Cuma setelah tiada ibu yang selalu memberi saya hadiah Diary setiap saya Ultah di Bulan Januari, saya jadi malas nulis. Kalaupun menulis bertebaran di mana2.

    BalasHapus
  11. kalimat terakhir menarik prof, bagaimana jika tiap hari tdk memiliki kejadin menarik prof, mau menulis apa tdk ad bahan

    BalasHapus
  12. Sangat menginspirasi Prof.https://wwwnurhasanah-83.blogspot.com/ sudi mampir k blog saya Prof thank

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.