Pancasila Sebagai Jalan Tengah

April 23, 2020

Ngainun Naim


Sebuah pesan masuk via messenger pada tanggal 16 Februari 2020. Pengirimnya adalah seorang peneliti senior dari LIPI, Prof. Dr. Anas Saidi, M.A.

“Mas...aku minta alamat ya...aku mau kirim buku...”.

Saya terkejut bukan main. Apa tidak salah Mas Anas—begitu saya biasa menyapa beliau—mau mengirimkan buku? Ah, semoga saja tidak salah. Segera kubalas pesan tersebut dengan menyebutkan alamat.

“Ok...tunggu ya...”.

Hati bertanya-tanya sekaligus senang. Buku apa gerangan yang beliau kirimkan.

Saya mengenal beliau sebagai narasumber pelatihan penelitian awal tahun 2000 saat saat saya masih sebagai dosen baru di STAIN Tulungagung. Saya suka sekali dengan cara beliau menjelaskan berbagai teori dan metode penelitian. Sebagai peneliti yang sarat pengalaman, banyak sekali ilmu yang beliau berikan. Motivasi demi motivasi juga beliau tanamkan kepada kami agar rajin membaca, berpikir kritis, dan banyak melakukan penelitian.

Jujur saya sangat termotivasi dengan apa yang beliau sampaikan. Setelah itu beberapa kali saya bertemu beliau. Pernah juga saya sengaja “sowan” beliau di LIPI pada tahun 2016. Setelah itu beberapa kali saya juga bertemu beliau di berbagai momentum.

Buku yang beliau kirim saya terima tanggal 24 Februari 2020. Ada dua eksemplar. Karena judulnya sama maka satu buah saya berikan kepada Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), Dr. Akhmad Rizqon Khamami, M.A. yang kebetulan duduk di kursi yang sama saat buku saya buka.

Buku tersebut ternyata merupakan naskah orasi Profesor Riset yang tidak dibacakan di LIPI. Judulnya keren, “Islamisme, Pancasila, dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia”. Saya merasa gembira sekali mendapatkan hadiah buku ini. Saya membaca pelan-pelan buku ini. Bagian demi bagian saya cermati. Terlihat sekali buku ini menyuguhkan argumentasi yang sangat menarik tentang fenomena demokrasi di Indonesia di tengah menguatnya Islamisme.

Anas Saidi menyajikan argumentasi bahwa Islamisme merupakan fenomena yang mengancam terhadap masa depan demokrasi Indonesia. Demokrasi Indonesia sesungguhnya mengalami perkembangan yang cukup penting semenjak era Reformasi. Namun perkembangannya sejauh ini masih jauh dari harapan.

Realitas kehidupan sosial politik yang sekarang gaduh tak berkesudahan merupakan potret lain demokrasi Indonesia. Jika dibiarkan maka masa depan Indonesia bisa suram. Pada titik inilah maka diperlukan jalan tengah yang dapat menjembatani berbagai perbedaan yang ada.

Pancasila, menurut Anas Saidi, adalah jawabannya. Ia menyajikan delapan argumentasi yang cukup mapan mengapa Pancasila bisa menjembatani berbagai perbedaan yang ada. Titik temu jauh lebih penting dibandingkan mencari titik perbedaan. Aspek titik temu inilah yang harus terus diupayakan agar perjalanan bangsa ini semakin mengarah menuju kehidupan kebangsaan ideal sebagaimana cita-cita bersama.

Orasi Profesor Riset ini sangat menarik dan bisa menjadi titik pijak yang sangat fundamental. Agenda selanjutnya adalah bagaimana membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila yang semakin terasing ini membutuhkan strategi pembumian. Bukan sekadar jargon tetapi menjadi aksi nyata.

Tulungagung, 23 April 2020

9 komentar:

  1. Alhmdulillah membaca lagi.... Masih jam 02.03 sudah rame ronda musik koplo Pak... Gerrrrrr....

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he he. Mari terus budayakan membaca dan menulis.

      Hapus
  2. Baru saja mendapatkan buku ini versi pdf. Jadi penasaran untuk membacanya berkat catatan prof. Terimakasih.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.