Secuil Kisah Berburu Buku

Juli 28, 2020

Ngainun Naim


Buku sudah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan saya. Saya tidak ingat persis sejak kapan menyukai membaca. Jika saya ingat-ingat, kuliah S-1 menjadi momentum saya menyukai buku, meskipun pada masa-masa sebelumnya saya sudah mulai menyukai berbagai bacaan, khususnya koran dan majalah.
Kecintaan pada buku membuat saya selalu berusaha dekat dengan buku. Di tas yang saya bawa ke kantor atau bepergian selalu terselip buku. Saat ada kesempatan saya segera membukanya dan menelusuri deretan kata demi kata. Rasanya nikmat sekali memiliki kesempatan membaca.
Kedekatan dengan buku terasa kurang nyaman jika bukunya bukan milik sendiri. Maka memiliki buku menjadi sebuah kebutuhan yang sulit untuk dihindarkan.
Hasrat untuk memiliki buku mulai tumbuh saat saya duduk di bangku kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tetapi hasrat itu tidak diimbangi dengan dana yang memadai. Jangankan untuk membeli buku, sekadar makan saja harus berjuang keras dengan bekerja. Siasat yang biasanya saya lakukan ketika baru beli buku adalah dengan mengurangi jatah makan.
Masa kuliah selama beberapa tahun membuat saya memiliki koleksi buku. Tidak terlalu banyak karena memang dana yang tersedia juga terbatas. Tetapi cukup lumayan. Jumlahnya kisaran 100 eksemplar.
Tamat kuliah saya mulai bekerja. Saat itulah nafsu beli buku semakin tak terkendali. Namun di kota kecil tempat saya tinggal, Tulungagung, belum ada toko buku yang memadai. Beberapa toko buku lebih banyak menjual buku tulis dan ATK. Buku bacaannya sama sekali tidak memadai. Maka tidak ada pilihan selain harus pergi ke kota yang ada toko bukunya yang representatif. Biasanya saya ke Malang, Surabaya atau pernah juga ke Yogyakarta.
Setiap ada kesempatan, saya berusaha untuk pergi ke Malang hanya demi memuaskan hasrat beli buku. Kadang naik bus dan kadang naik sepeda motor.
Bertahun tahun buku demi buku saya beli. Kegilaan terhadap buku semakin menjadi-jadi saat tahun 2007 saya kuliah lagi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kota Pelajar Yogyakarta merupakan sorga buku. Ada banyak toko buku dan pameran. Buku-buku aneka jenis dengan harga murah begitu mudah diperoleh.
Selama kuliah S-3 di Yogyakarta saya mengoleksi sekitar 600 eksemplar buku. Suatu jumlah yang saya kira cukup lumayan untuk ukuran saya sendiri.
Tamat kuliah tidak menghentikan hasrat beli buku. Nyaris setiap ada kesempatan saya selalu belanja buku. Kini buku semakin menyesaki rumah kami yang sempit.
Dua tahun belakangan model beli buku berkembang seiring hadirnya jejaring sosial. Satu hal yang saya syukuri dari adanya facebook, WA, dan instagram adalah berkembangnya informasi penting yang tidak mungkin didapatkan dari media lain. Informasi tentang buku, misalnya. Selama ini  informasi tentang buku bisa diperoleh melalui rubrik resensi buku atau dengan rajin mengunjungi toko buku. Informasi semacam ini, selain memiliki kelebihan, juga ada kelemahan. Kelemahan pertama, buku yang dihadirkan di rubrik resensi sangat terbatas. Umumnya satu judul buku setiap minggunya. Itupun belum tentu buku yang sesuai dengan minat. Kedua, toko buku yang representatif tidak ada di setiap kota. Toko buku representatif kebanyakan ada di kota besar.
Pada kondisi semacam inilah, saya merasakan betul betapa FB menjadi seolah ”toko buku” alternatif. Yang saya maksudkan adalah tidak setiap buku bisa beredar di toko buku. Buku-buku penting yang dicetak terbatas juga tidak bisa nangkring di toko buku. Order buku semacam ini biasanya bisa dilakukan melalui pemesanan langsung. Cara semacam ini semakin banyak dalam beberapa waktu terakhir.
Selain itu, saya juga menjadi anggota beberapa grup WA jual beli buku. Lewat grup-grup inilah saya membeli buku. Beberapa buku lama atau buku terbitan penerbit tertentu yang tidak saya temukan di toko buku justru saya temukan di jaringan maya ini.
Begitulah, membeli buku menjadi semacam ritual yang mengesankan. Ada harapan, tantangan, kepuasan, dan juga kadang kekecewaan. Saya kira hal yang sama juga terjadi dalam bidang kehidupan yang lainnya.
Kini, ribuan buku teronggok di berbagai sudut rumah. Setiap tambahan rak selalu tidak berumur panjang karena dalam waktu yang tidak terlalu lama rak tersebut penuh oleh deretan buku.
Memiliki buku tidak harus dibaca semuanya. Memang, idealnya dibaca sampai tuntas. Tetapi melihat kesibukan dan kesempatan yang ada, membaca semua buku-buku itu secara tuntas nyaris mustahil.
Saya memang membaca setiap hari. Tetapi paling satu bulan hanya tamat 1 atau 2 buku. Padahal, sebulan minimal mendapatkan 3 buku baru.
"Memiliki buku itu penting. Soal membacanya itu soal lain", kata dosen saya Prof. Dr. M. Amin Abdullah.
Kata itulah yang saya ingat betul. Buku yang dimiliki memudahkan saat dibutuhkan. Saat menulis,  misalnya. Tidak jarang saya justru menemukan gagasan menarik dari buku yang pernah saya miliki.
Sampai sekarang dan entah sampai kapan saya akan terus membeli dan membaca buku. Alasannya sederhana, yaitu membaca buku membuat saya memiliki wawasan yang bermakna untuk memperkayan kehidupan.


Ngainun Naim, Pengajar IAIN Tulungagung. Aktif menulis buku dan melakukan penelitian. Penulis bisa dihubungi di Nomor WA 081311124546, atau email: naimmas22@gmail.com

44 komentar:

  1. Semoga ke depannya koleksi buku saya juga makin banyak. Inspirasi buat saya

    BalasHapus
  2. Bagaimana pak yang seperti saya, sangat tergantung dg buku digital. Karena buku fisik sering tdk terbaca. Dibawa pindah2 ahirnya malah hilang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya selalu mencetak buku digital karena--entahlah--belum bisa menikmati secara tuntas buku digital

      Hapus
  3. Setali tiga uang sama perpustakaan Prof. Mulyadhi. Mantab prof

    BalasHapus
  4. Ada harapan, tantangan, kepuasan, dan kekecewaan. Mungkin bisa dipertajam, terkait kecewa.

    BalasHapus
  5. Terima Bapak Ngainun Naim, sangat menginspirasi bagi kami

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah saya memiliki puluhan buku yang pernah saya beli dan tertata rapi di dalam lemari triplek di pesantren.. bukan hanya itu kitab" juga tertata rapi di atas lemari... memang saya suka beli buku tapi entah kenapa bacanya itu lambat.. smoga saya bisa tetap istiqomah membaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap. Lambat tidak apa-apa asal istiqamah.

      Hapus
  7. Pak Naim ...bravo Pak,,, orang hebat kebanyakan konsumsinya buku ya kan Pak,,, nt bisa mengikuti jejak Pak Habibie bukunya sampai 6 kontainer tidak muat ( bu sri)

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah saya suka mengoleksi dan berburu buku.

    BalasHapus
  9. Luar biasa menginspirasi

    BalasHapus
  10. Mantap sekali pak. Sangat menginspirasii..

    BalasHapus
  11. Mantap dan luar biasa menginspirasi.

    BalasHapus
  12. Buku saya hbis dimakan banjir dan saya merasa zedih zekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masyaallah. Tentu sedih Om. Itu harta yang sangat berharga

      Hapus
  13. Masya Allah, pak. Luar biasa.

    BalasHapus
  14. Selalu penuh dengan inspirasi. Four thumbs up, as always 👍👍👍👍

    BalasHapus
  15. Trimakasih pak. Mugi saget nulari...

    BalasHapus
  16. Semoga sy bs mengikuti jejak he he, buku saya banyak entah brp jumlahnya blm semua terbaca walau membelinya ketika masih kuliyah di Malang, dan sy anak oenjual buku, buku buku yg tdkblaku jual dan sy tertarik sy ambil seblm dikilokan, sayang buku sy tdk menetap tempatnya kesana kemari ada yg blm pulang he he

    BalasHapus
  17. Sangat Inspiratif. Semoga virus ini menular...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.