Antologi

Agustus 30, 2020

 Ngainun Naim

 


Proses menekuni dunia menulis yang saya alami sangat dinamis. Saya pernah mengalami jatuh bangun berkali-kali. Pernah lama jatuh dan tidak segera bangun. Saya kira kondisi semacam ini sifatnya universal. Artinya, dalam bidang kehidupan yang sangat luas, kita semua pernah mengalaminya. Pernah sangat bersemangat, cukup bersemangat, kurang bersemangat, dan tidak bersemangat sama sekali

Penulis profesional yang produktif dan memiliki jam terbang tinggi pun mengalami hal yang sama. Karakteristik manusia memang semacam itu. Aspek yang berbeda adalah bagaimana segera menyadari ketika semangat menurun dan strategi untuk mengatasinya. Penulis profesional biasanya—tetapi tidak selalu juga—segera bangkit dan menulis, sementara yang belum profesional biasanya—tetapi juga tidak selalu—menikmati kondisi semangat yang menurun.

Salah satu cara yang bisa dipilih untuk menjaga semangat menulis adalah ikut antologi. Ya, menulis buku keroyokan. Tulisan banyak orang yang dikumpulkan menjadi satu buku.

Di kampus tempat saya bekerja, sejak pandemi sudah menghasilkan beberapa buku antologi. Temanya bermacam-macam, tergantung kesepakatan. Biaya penerbitan ditanggung bersama.

Sekarang saya sedang mengerjakan editing sebuah buku antologi yang temanya unik, yaitu Jangan Blendrang. Jika Anda bukan orang Jawa mungkin agak kesulitan memahaminya, walaupun sangat mungkin di tempat Anda juga ada jangan blendrang. Sayur kemarin yang dihangatkan untuk dikonsumsi hari ini itulah yang disebut jangan blendrang.

Untuk apa menulis antologi dengan tema tidak ilmiah semacam ini? Tentu ada banyak alasannya. Buat saya sendiri ya buat meyakinkan banyak kawan bahwa mereka bisa menulis buku. Paling tidak dalam hidup mereka pernah memiliki buku yang ada nama mereka di dalamnya. Masak dalam hidup hanya memiliki buku tabungan dan buku nikah saja. Kan keren jika memiliki buku antologi.

Apakah yang terlibat dalam menulis di buku antologi belum mampu menerbitkan buku secara mandiri? Jangan salah. Sejauh pengalaman dan pengamatan, banyak yang sudah memiliki buku mandiri. Meskipun demikian, mereka tetap bersemangat menulis antologi. “Sensasinya berbeda”, kata salah seorang teman.

Namun ada juga kawan yang sudah ikut menulis puluhan buku antologi. Rupanya itu menjadi daya dorong untuk berani menulis buku mandiri. Jadi dari menulis antologi menjadi menulis buku mandiri.

Saya teringat kawan saya Agung Nugroho Catur Saputro, dosen di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta yang menulis buku keren, Ketika Menulis Menjadi Sebuah Klangenan (2018). Di buku tersebut Agung menulis bahwa menulis antologi itu merepresentasikan keseriusan dan kebersamaan di antara sesama penulis. Terbitnya sebuah buku antologi merupakan ikhtiar serius untuk menghidupkan budaya literasi.

Adanya buku antologi menunjukkan bahwa di negeri ini masih ada yang peduli dengan dunia literasi. Kata Agung Nugroho, “Buku karya antologi adalah simbol kepedulian, simbol kebersamaan, simbol persatuan, dan simbol bersatunya hati dan pikiran para penulisnya”.

Nah, jika ada tawaran antologi, meskipun harus membayar, sebaiknya diikuti. Itu sarana belajar yang baik. Persoalan membayar itu saya kira wajar, asal membayarnya juga wajar. Tidak sangat mahal. Jika tulisan yang dibuat belum layak terbit di penerbit mayor, berharap mendapatkan royalty dari tulisan kita itu kok berlebihan. Saatnya belajar, investasi, dan jika perjuangan sudah dilakukan secara konsisten, saat mendapatkan honor itu sesungguhnya sebuah berkah. Salam.

 

Trenggalek, 30 Agustus 2020

44 komentar:

  1. Siap menunggu terbitnya sang blendrang

    BalasHapus
  2. Membaca alenia ke enam menggelitik untuk senyum-senyum sendiri, Pak DR Naim bercanda, canda motivasi ha ha...

    BalasHapus
  3. Menulis antologi bagi saya adalah wadah untuk mengasah rasa percaya diri dalam menulis. Terimakasih prof untuk tawaran-tawaran antologinya.

    BalasHapus
  4. Asikkk buku antologi, bida menyatukan karya ...

    BalasHapus
  5. Mengena sekali, semoga ini menjadi motivasi khususnya buat saya, Terimakasih...

    BalasHapus
  6. Ya Pak, menginspirasi. Terima kasih

    BalasHapus
  7. Yang saya,alami..justru di alenia kedua.. Ada rasa bersalah karena belum bisa konsisten menulis setiap hari 😊🙏🙏 atas motivasinya..

    BalasHapus
  8. Sebagai pegiat literasi jalur Antologi tersanjung pokoknys.nulis dan bukukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari terus merawat spirit literasi ya Bu Kanjeng

      Hapus
  9. hebat dg antologi ada rasa kesatuan dan persatuan

    BalasHapus
  10. Pasang surut semangat menulis tidak jauh beda dengan kadar kondisi keimanan seseorang...
    Ketika imannya tipis, sombongnya minta ampun, lupa bahwa kita makhluk yg lemah....
    Begitu juga sebaliknya

    BalasHapus
  11. Spektrum jangan blendrang ternyata cukup luas, dari jawa timur mataraman sampai arekan mengenal istilah yg sama. Jarang2 ada sayuran yg namanya menglokal, apalagi jenis kuliner minor.

    BalasHapus
  12. Benar sekali adanya bahwa, karya antologi adalah simbol kebersamaan, simbol persatuan, simbol kepedulian.
    Terimakasih Bapak, tulisan yg jadi suntikan motivasi

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah dapat tambahan ilmu. Tapi kapan tulisan saya menjadi buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Kapan jadi buku? Tulisan ibu sudah banyak. Tinggal kumpulkan, beri judul, dan segera terbitkan. Insyaallah jadi buku

      Hapus
  14. Menulis antologi juga ada manfaatnya. Saya bisa belajar dari tulisan teman-teman

    BalasHapus
  15. Msih berproses untuk bisa menulis... Bismilah.. Berawal dr ikut kroyokan..smg bs segera mnerbitkn buku solo.

    BalasHapus
  16. Antologi itu apa pak prof🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku yang ditulis oleh banyak orang. Foto di atas adalah contohnya.

      Hapus
  17. Alhamdulillah saya juga sudah punya 7 buku antologi. Belum bisa buku mandiri. Tetapi tetap semangat....

    BalasHapus
  18. satu tema dengan beragam tulisan
    seneng baca pemikiran penulis lain
    menambah wawasan juga
    terima kasih utk motivasinya pak doktor

    BalasHapus
  19. Yang menukik dari tulisan ini adalah, masak kita cuma memiliki buku tabungan dan buku nikah? Sampek ditulis tebal... Disitu tersirat mana buku karya kita sendiri??

    Si Blendrang kita tunggu prof.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon doanya. Naskah dikerjakan di sela kesibukan yang padat.

      Hapus
  20. Harkat dan martabat sayur blendrang terangkat. Energinya mbarokahi penulisnya.

    BalasHapus
  21. Saya suka di kalimat, buku karya antologi adalah simbol kepedulian ... Betul 👍

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.