Menampilkan Islam Sebagai Agama Ramah

Agustus 09, 2020

 

Ngainun Naim

 

Munculnya kelompok-kelompok yang menampilkan Islam dengan wajah keras sesungguhnya menjadi bagian dari sejarah Islam. Kelompok ini senantiasa ada, hadir, dan mewarnai Islam di mana pun. Keberadaannya sebenarnya hanya minoritas tetapi cukup mengganggu karena mempengaruhi terhadap penampilan Islam secara keseluruhan.

Upaya-upaya untuk menampilkan Islam yang ramah selalu dilakukan. Hal ini penting dilakukan secara terus-menerus agar Islam senantiasa menampilkan wajah ramah dan memberikan kontribusi pada kehidupan. Energi untuk menebarkan kebajikan dalam bentuk apa pun—termasuk  dalam bentuk karya tulis—harus terus dibudayakan.

Kebetulan saya baru saja menamatkan sebuah buku karya Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah. Beliau baru saja mendapatkan SK sebagai Guru Besar Ilmu Pendidikan Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebuah capaian akademis yang membanggakan dan penuh perjuangan.

Buku Inkulturasi Islam ini merupakan salah satu buku yang menunjukkan bagaimana Abdul Mu’ti adalah seorang intelektual yang rajin menghasilkan karya ilmiah. Buku ini memberikan perspektif damai dalam menghadapi dinamika kehidupan yang semakin kompleks. Sebagaimana dinyatakan di beberapa bagian, buku ini lahir dari kegelisahan penulisnya terhadap munculnya konflik, ketidakdilan, dan pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan dalam bentuknya yang beragam. Lewat buku ini diharapkan perspektif positif tentang Islam dapat terus tersemai.

Saya mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan baru di buku ini. Misalnya penjelasannya tentang Caring Society, yaitu suatu masyarakat yang memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap sesama. Agar tumbuh caring society dibutuhkan charity yang bersifat fungsional dan produktif, bukan temporal konsumtif (17). Juga penjelasannya tentang bystander apathy, yaitu sikap masa bodoh dan tidak peduli dengan penderitaan orang lain (22).

Ada banyak lagi informasi dan pengetahuan yang saya peroleh lewat buku ini. Meskipun sudah terbit cukup lama, aktualitas pesannya tetap sejalan dengan kondisi sekarang ini. Inilah kekuatan tulisan yang berdimensi waktu panjang. Terima kasih Pak Abdul Mu’ti atas pengetahuannya lewat buku ini. Selamat untuk anugerah gelar Profesornya.

 

Trenggalek, 9 Agustus 2020

24 komentar:

  1. Subhanallah..bpk rajin nian banyak mem baca buku2 yg bermanfaat...
    Hebat pak....

    BalasHapus
  2. Tulisan Pak Abdul Mu'ti memang mantap makasih Pak Naim share resensinya ( bu sri)

    BalasHapus
  3. Membaca banyak menambah wawasan...belum semua orang bisa konsisten membaca
    (termasuk saya)banyak lalainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh perjuangan. Asal ada usaha, Insyaallah bisa

      Hapus
  4. Salut...
    Sebuah contoh untuk dicontoh buku, penulis dan peresensi..
    Semua hebat

    BalasHapus
  5. Selalu menginspirasi tiada henti. Keren prof.

    BalasHapus
  6. Hebat prof Abdul Mu'ti. Trim infonya Bapak

    BalasHapus
  7. Menghadirkan Islam yang rahmatan lilalamin

    BalasHapus
  8. Luar biasa, tiada henti untuk menginspirasi dan memotivasi Prof...

    BalasHapus
  9. Ketika membaca sudah jadi kebiasaan...
    Keren...

    BalasHapus
  10. Saya yakin sebentar lagi Bapak Naim akan mendapatkan SK.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.