Menulis Itu Keterampilan Sekolah Dasar

Agustus 07, 2020

 

Ngainun Naim

 

Apa yang ada dalam benak Anda saat membaca judul tulisan ini? Saya yakin Anda memiliki persepsi tertentu. Bisa jadi Anda setuju dengan judul catatan ini. Bisa juga sebaliknya, tidak setuju.

Baiklah. Saya ingin bercerita dulu tentang sebuah pesan yang masuk ke WA saya beberapa waktu lalu. Pengirimnya seorang teman yang menjadi anggota sebuah grup WA. Di grup ini saya rutin mengirimkan link blog yang nyaris setiap hari saya isi.

Memang isinya ya biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Isinya bisa hal remeh yang saya alami sehari-hari. Kadang berisi pengalaman membaca buku yang baru saja saya lakukan. Juga berisi pengalaman menulis. Mirip tulisan ini.

Kawan tersebut menyampaikan bahwa beliau ingin memiliki tulisan yang bagus. Tulisan bermutu yang tidak membuat minder jika dibaca orang. Tentu, keinginan sahabat saya itu saya kira juga menjadi keinginan semua orang yang menekuni dunia menulis, baik yang masih pemula maupun yang sudah senior.

Persoalannya, tulisan yang bagus itu tidak lahir begitu saja. Ada proses, perjuangan, dan latihan yang terus-menerus. Tulisan bagus tidak lahir dari keinginan, tetapi dari proses secara berkelanjutan.

Nah, berkaitan dengan menulis ini sesungguhnya tidak butuh pendidikan yang tinggi-tinggi. Ini bukan murni pendapat saya. Seorang penulis produktif Indonesia, Andrias Harefa, lewat salah satu bukunya membuat pernyataan yang cukup menarik. Ia menulis bahwa keterampilan menulis itu merupakan keterampilan tingkat sekolah dasar. Menurut keyakinan Harefa, semua orang yang telah tamat sekolah dasar pasti bisa menulis. Ia mengambil contoh Adam Malik yang pernah menjadi Wakil Presiden RI hanya sempat sekolah sampai kelas 5 SD.

Lebih jauh Andreas mengambil contoh dirinya yang mulai menulis semacam artikel pada tahun 1978. Saat itu ia menulis untuk lomba tingkat SLTP Se-Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu. Ia berhasil menjadi juara pertama dalam lomba tersebut. Berdasarkan hasil perenungannya, ia menang karena telah memiliki satu kebiasaan, yaitu korespondensi dengan sahabat pena yang dikenalnya lewat majalan-majalah remaja. Kebiasaan korespondensi membuatnya terbiasa menuangkan gagasan lewat tulisan.

Menulis, menurut Harefa, harus dimulai dari keyakinan. Tanpa keyakinan, orang tidak akan bisa menulis. Jika seseorang ingin bisa menulis, hal yang diperlukan bukan suatu bakat istimewa, tetapi minat yang besar dan kemauan berlatih. Perpaduan dua hal ini yang bisa membuat seseorang menjadi penulis.[1]

Coba simak pendapat Andrias Harefa tersebut. Menulis itu keterampilan sekolah dasar. Jika Anda sudah sarjana, sudah menulis banyak makalah, dan sampai sekarang belum juga mau menulis, mungkin persoalannya bukan pada modal pendidikan Anda, tetapi persoalannya ada pada Anda sendiri. Konon orang yang sukses itu bisa mengalahkan dirinya sendiri. Paling tidak mengalahkan rasa malas untuk menulis.

 

Trenggalek, 7 Agustus 2020


[1] Andrias Harefa, Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang, 1st ed. (Jakarta: Gramedia, 2002), 3–5.

49 komentar:

  1. Betul sekali pak Naim...menulis butuh proses berkelanjutan dan harus dinikmati prosesnya.

    BalasHapus
  2. Bagaimana mengalahkan diri aendiri, nah itu kunci pentingnya

    BalasHapus
  3. Pak dosen ini kalau buat tulisan seperti yang sedang saya rasakan...

    Terima kasih untuk motivasinya ...

    BalasHapus
  4. Trimakasih pak prof. Motivasinya Semoga saya bisa menirunya...

    BalasHapus
  5. Kita belum mulai menulis lagi saja Pak lagi padat karya saja ,,,terima kasih share ilmunya ( bu sri)

    BalasHapus
  6. Selalu riil tulisan pak prof..

    BalasHapus
  7. Mari berproses untuk naik kelas, Setuju Pak .Naim

    BalasHapus
  8. Terima kasih pak, pernyataan ini sgt memotivasi kami

    BalasHapus
  9. Terima kasih Bapak, saya senang membaca tulisan Bapak

    BalasHapus
  10. Super, tulisannya mengalir, mudah dicerna...saya suka...

    BalasHapus
  11. Minat yang besar dan kemauan berlatih. Inspiratif prof.

    BalasHapus
  12. Sangat memotivasi. Terima kasih.

    BalasHapus
  13. Bisa karena biasa. Masalahnya untuk membiasakan itu yang sulit

    BalasHapus
  14. Sepakat pak, mengalahkan diri sendiri ialah kunci. Mengalahkan diri dari (malas, seabrek alasan, merasa tak ada waktu, dll.) berat memang, tapi jika tak dikalahkan, kita akan terbenam oleh diri kit sendiri. Hehe

    BalasHapus
  15. Setuju. Org sukses pasti bisa mengalahkan dirinya sendiri dari kemalasan

    BalasHapus
  16. Setuju sekali pak dosen.malas itu musuh utama. Paksakan kebaikan itu jadikan kebiasaan. Pasti.ketagian. terima kasih pak dosen.

    BalasHapus
  17. Egeh pak. Leress... matursuwun pak motivasinya...

    BalasHapus
  18. Terima kasih ilmunya, Bapak. Saya mengamini ungkapan Andrias dan sari yang Bapak tuangkan. Saya pribadi merasa tulisan saya luwes setelah praktik setiap hari. Jika dalam jenjang sekian waktu tidak menulis, otot-otot diksi dan koherensi rasanya kaku, perlu dilemaskan dengan sering latihan.

    BalasHapus
  19. Terima kasih pak, infonya sangat betmanfaat.

    BalasHapus
  20. Terimakasih ini motivasi untuk saya.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.