3 M dalam Menulis

September 20, 2020

 

Ngainun Naim

 


Da'i terkenal KH Abdullah Gymnastiar pernah membuat akronim yang sangat menarik, yaitu 3 M. (M)ulai dari diri sendiri, (M)ulai dari yang kecil, dan (M)ulai sekarang juga.

Akronim 3 M tersebut penting artinya untuk membangun tradisi baru. Tradisi tidak akan terbangun lewat retorika, tetapi lewat aksi. Pada kerangka inilah 3 M menunjukkan relevansinya.

Problem berat membangun tradisi adalah memulai. Saya kira ini terjadi pada semua hal, termasuk dalam menulis. Persoalan psikologi biasanya yang menjadi hambatan utama dalam menulis. Jika persoalan ini mampu ditundukkan maka tradisi baru yang positif bisa terbangun.

(M)ulai dari diri sendiri. Berbicara itu mudah. Menilai juga mudah. Mengkritik lebih mudah lagi. Modalnya adalah suara. Tinggal bicara.

Tapi menulis tidak semudah itu. Tulisan kita bisa dikritik habis oleh seseorang, padahal sang pengritik tidak menulis. Saya kira itu terjadi di mana saja. Tidak hanya di dunia menulis tetapi nyaris di semua bidang kehidupan. Namanya juga pengkritik. Kerjanya ya nyinyir.

Mari menulis. Cara terbaik mengajak menulis adalah dengan menulis. Mulai dari diri sendiri dengan menulis. Terus menulis dan menulis.

(M)ulai dari yang kecil. Ini penting sebagai basis. Banyak orang yang memiliki prinsip terbalik, yaitu mulai dari hal ideal. Hal besar.

Tentu ini tidak salah. Justru bagus. Kata para motivator, cita-cita itu jangan tanggung-tanggung. Buat cita-cita setinggi mungkin. Jika tidak tercapai yang tinggi setidaknya yang bisa kita capai sedikit di bawahnya.

Tapi menulis tidak seperti itu. Menulis itu basisnya tradisi. Tidak bisa tulisan bagus dari hasil kerja semalam. Prosesnya panjang. Nah, setelah proses yang panjang ya sesuatu yang ideal itu akan tercapai.

(M)ulai sekarang juga. Ya, jangan menunda. Jadikan menulis sebagai ‘wirid’ harian. Lewat cara semacam inilah menulis akan menjadi bagian dari dinamika hidup.

Saya acapkali tersenyum membaca  story kawan yang bertanya tentang kapan jurnal terbit atau adakah jurnal yang terbit dalam waktu dekat. Tentu tidak salah. Semua orang boleh kok memilih sikap jenis apa pun.

Dalam konteks story tersebut terlihat bahwa semuanya membutuhkan proses. Semestinya semuanya dengan perencanaan yang baik dan lakukan menulis secara rutin. Insyaallah hal-hal yang semacam itu tidak akan terjadi.

 

Trenggalek, 20 September 2020

32 komentar:

  1. Alhamdulillah, dapat tambahan semangat dan energi positif lagi.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  2. Terima kasih Ustadz dll memginspirasi

    BalasHapus
  3. Setuju pak Yai, kebiasaan akan 'menjadi' jika dilakukan. Dimulai dari kurang menarik, pasti. Akan menjadi baik, mungkin. Tapi itu tidak penting. Kecerdasan dan akal yg diberikan Nya, akan bekerja sendiri. Auto memperbaiki. Yg berat adalah mencegah utk berhenti. Tapi pada ahirnya keajaiban habit, akan membantu.
    Pengalaman yg sekelumit.

    BalasHapus
  4. Tulisan yang selalu memotivasi
    Terima kasih pak doktor

    BalasHapus
  5. Terima kasih Pak selalu jadi motivator.

    BalasHapus
  6. Terimakasih untuk tambahan bahan bakarnya prof👍

    BalasHapus
  7. Masya Allah pak, sgt memotivasi kami

    BalasHapus
  8. Terima kasih prof. Saya kadang suka bingung, perasan pernah saya tulis tapi besok besok kayak tulisan itu sayabulang lagi he he..kata katanya itu itu saja prof

    BalasHapus
  9. Siap laksanakan Pak Doktor Naim, menginspirasi

    BalasHapus
  10. Mbaca lagi Pak Doktor Naim, hehe

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.