Literasi Diri: Catatan Pengantar

November 09, 2020

 Ngainun Naim


Sebuah tulisan, sesederhana apa pun, memiliki makna yang tidak bisa diabaikan. Bagi penulisnya mungkin dianggap tidak bermakna, tetapi bagi orang lain justru sangat berharga. Kondisi ini terjadi karena dalam kerangka ilmu hermeneutika, sebuah teks itu tergantung kepada konteks dan pembaca. Jika ini dipahami secara baik, sebuah tulisan yang baik akan tetap dijaga, dikelola, dan diposisikan sebagai bagian penting dari kerja intelektual yang sangat berharga.

Berteori itu lebih sederhana dibandingkan dengan mempraktikkannya. Itu juga yang terjadi pada diri saya. Keinginan menghimpun—bukan menulis—tulisan demi tulisan tentang saya dan buku-buku saya sudah lama saya lakukan. Banyak tulisan juga masuk ke email saya. Beberapa tulisan di facebook atau blog juga sudah saya simpan. Tetapi selalu saja ada alasan untuk menunda-nunda pengerjaannya menjadi sebuah buku.

Awal tahun 2020 saya bertekad menyusun naskah untuk buku ini. Setelah buku Literasi dari Brunei Darussalam: Kesan, Pelajaran, dan Hikmah Kehidupan (Tulungagung: Akademia Pustaka, 2020) dan buku antologi Membangun Relasi, Peluang Riset dan Dakwah Ilmiah: Catatan Pengalaman dari Brunei Darussalam (Tulungagung: Akademia Pustaka, 2020) terbit pada awal tahun, naskah ini mulai saya susun. Namun pandemi Covid-19 datang menyerang. Kita semua harus bekerja dari rumah (Work From Home). Seharusnya ini menjadi kesempatan yang bagus untuk mengerjakan naskah buku ini. Namun saya tidak bisa melakukannya secara maksimal. Bapak saya sakit. Saya harus merawat beliau, mengantar periksa, menunggui saat sakit di rumah sakit, sampai kemudian beliau wafat pada 11 Mei 2020. Semoga beliau khusnul khatimah. Amin.

Meninggalnya Bapak membuat rencana menerbitkan buku ini pada bulan Juli, bulan di mana saya berulang tahun, menjadi terbengkalai. Saya tunda pengerjaannya. Saya mundur sejenak. Spirit untuk kembali mengerjakan buku ini baru muncul di pertengahan bulan Agustus 2020.

Pelan-pelan saya mulai tata tulisan demi tulisan yang telah ada. Saya pun Kembali mengeditnya. Gagasan awal buku ini berasal dari guru literasi saya, Pak Much. Khoiri.  Beliau juga berbesar hati mengirimkan naskahnya saat saya sendiri belum memiliki kebulatan tekad untuk menyelesaikan buku ini. Terima kasih tak terhingga untuk beliau atas inspirasi dan dorongannya.

Jujur, buku ini sekadar meniru apa yang sudah dirintis Pak Much. Khoiri. Beliau telah menulis beberapa buku semacam ini, yaitu Much. Khoiri dalam 38 Wacana (Surabaya: Unesa University Press, 2016), Virus Emcho, Berbagi Epidemi Inspirasi (Lamongan: Pagan Press, 2017), dan Virus Emcho, Melintas Batas Ruang Waktu (Sidoarjo: Tankali, 2020). Ketiga buku Pak Much. Khoiri ini menjadi rujukan saya dalam Menyusun naskah buku ini.

Saya tidak memiliki pretensi atas buku ini selain sebagai ikhtiar mendokumentasikan tulisan demi tulisan tentang saya dan buku yang saya tulis. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebesaran hati para kolega yang mau menulis. Bagi saya, tulisan yang terhimpun di buku ini adalah energi yang terus menjadi membuat saya menekuni dunia literasi.

Saya merencanakan untuk rutin menerbitkan buku semacam ini. Masih ada beberapa tulisan yang menunggu di belakang naskah ini. Semoga dimudahkan oleh Allah.

Buku ini saya persembahkan untuk Bapak saya yang telah berpulang, Bapak Kalib Surjadi. Segala kebajikan yang barangkali telah saya lakukan adalah buah didikan beliau. Semoga menjadi pahala buat beliau. Juga saya persembahkan untuk Ibu saya, Wijiati yang dengan penuh kesabaran mendidik kami anak-anaknya. Semoga beliau sehat selalu.

Secara khusus buku ini saya persembahkan untuk sumber energi hidupku, yaitu istri—Elly Ariawati, S.Sos., S.P., M.Si—dan Ananda tersayang Qubba Najwa Ilman Naim dan Leiz Azfat Tsaqif Naim. Merekalah yang memungkinkan saya terus berkarya di tengah aktivitas yang kadang tanpa jeda. Terima kasih untuk mereka semua. Kepada semua pihak—guru, kolega, sahabat, mahasiswa, dan siapa pun juga—saya haturkan terima kasih atas semua ilmu dan persahabatannya.

Sebagai penutup pengantar ini, silahkan membaca tulisan demi tulisan di buku ini. Semoga mendapatkan inspirasi untuk terus menekuni dunia literasi. Salam.

 

Trenggalek, 17-8-2020

 

 

Ngainun Naim

28 komentar:

  1. salam literasi pak, mantaap n sangat menginspirasi semangat. sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

      Hapus
  2. Bisa mengispirasi menumbuhkan sebuah aksi. Salam ta'aruf Usdhof RVL

    BalasHapus
  3. Masya Allah. Salut, pak. Sangat menginspirasi.

    BalasHapus
  4. Luar biasa prof,di tengah jadwal padat merayap dan situasi, kondisi apa pun tetap menelurkan sebuah karya. Dan semoga almarhum Kalib Surjadi husnul khotimah dan di tempatkan di surgaNya Allah SWT. Aamiin...

    BalasHapus
  5. Rabbi habli minasshalihin, luar biasa Pak Naim, sangat menginspirasi

    BalasHapus
  6. Selamat atas terbitnya buku pak Ngainun. Semoga bermanfaat dan menginspirasi njih..🙏 🙏

    BalasHapus
  7. Terima kasih pak terus berbagi, sehingga kami bisa baca, dapat ilmu yg bermanfaat.

    BalasHapus
  8. Pasti akan banyak membawa manfaat pak

    BalasHapus
  9. Masyaallah. Terharu saya. Semoga tetap produktif dan menginspirasi (seperti biasanya).

    BalasHapus
  10. Trimakasih pak ilmu dan inspirasinya....

    BalasHapus
  11. Terima kasih sudah menginspirasi

    BalasHapus
  12. Subhanalloh...
    Terima kasih Pak Dr. Inspirasi dan motivasinya, salam santun guru letetasi terbaik..

    BalasHapus
  13. semoga almarhum Bapak Kalib Surjadi husnul khotimah

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.