Jagong Buku

Januari 17, 2021

 

Ngainun Naim

 


Salah satu tradisi yang tumbuh dalam masyarakat Jawa adalah jagong. Kita mengenal ada banyak jenis jagong. Ada jagong bayi, jagong manten, jagong kaji, dan sejenisnya.

Jagong sesungguhnya adalah aktualisasi dari silaturrahmi. Saling mengunjungi, menyapa, menanyakan kabar, dan membangun relasi yang lebih erat. Lewat jagong terbangun ikatan emosional yang terjaga di antara sesama.

Jagong—menurut saya—memiliki energi transformasi. Mungkin terlalu ilmiah atau sok keren. Bisa juga begitu, tetapi jika kita mau merenungkan, energi transformasi itu bisa digali dari jagong. Orang yang jagong haji, misalnya, bisa mendapatkan energi spiritual untuk menjadi lebih baik dalam ibadah. Orang yang jagong bayi bisa mendapatkan energi transformasi untuk bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Allah.

Spirit semacam ini yang saya kira menjadi salah satu motivasi kawan-kawan yang mengadakan acara Jagong Buku. Sekarang sedang pandemi. Interaksi langsung mengandung resiko. Maka jagong pun dilaksanakan secara virtual.

Sabtu 17-1-2021 acara digelar. Pembicaranya adalah empat orang kawan yang telah menerbitkan buku solo. Pertama, Suprianto, Kamad MI Miftahul Huda, Pakisaji Kalidawir. Bukunya berjudul_Merenda Asa, Kisah Hidup, Gagasan dan Pencerahan. Kedua, Eti Rohmawati, Kamad MTs Arrosidiyah Rejotangan. Bukunya berjudul New Normal, New Hope. Ketiga, Mohamad Ansori,  Kepala Sekolah Dasar  Islam (SDI) Bayanul Azhar Bendiljati Kulon Sumbergempol Tulungagung. Bukunya berjudul Membangun Pembelajaran Inspiratif. Dan keempat, Nurhadi, Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kemenag Tagung. Bukunya berjudul Melukis Mimpi di Masa Pandemi.

Acara berlangsung sangat dinamis. Diskusi juga berjalan secara produktif. Substansinya acara semalam cukup mendapatkan apresiasi. Acara Jagong Buku diharapkan tidak hanya sekali. Buku demi buku akan terus lahir sehingga acara Jagong Buku pun rutin digelar. Semoga.

 

Trenggalek, 17-1-2021

10 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.