Tidak Ada Buku Sempurna

Januari 05, 2021

 

Ngainun Naim


 

Saat saya masih kecil, Ibuk saya berprofesi sebagai pedagang baju di pasar. Beberapa kali saya ikut ke pasar. Di pasar saya biasanya jalan-jalan dan duduk di dekat penjual songkok, tasbih, dan kitab. Di situ saya menemukan banyak buku karya beberapa nama penulis. Nama penulis yang cukup terkenal dan saya ingat sampai hari ini adalah Labib Mz, Maftuh Ahnan, dan Achmad Sunarto.

Saat itu saya belum membaca atau membeli buku. Maklum, usia SD dan MTsN belum minat terhadap dunia literasi. Saya lebih suka melihat buku kumpulan lagu-lagu yang sedang popular pada tahun-tahun itu.

Nama Labib Mz, Maftuh Ahnan, dan Achmad Sunarto kembali muncul dalam memori saat saya kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Saat itu di depan gedung Fakultas Ushuludin ada dua orang pedagang buku. Saat senggang saya datang dan melihat-lihat. Sesekali membeli jika kondisi keuangan memungkinkan.

Membeli buku kala itu merupakan perjuangan yang sungguh mengesankan. Sungguh tidak mudah memiliki sebuah buku. Jika saya membeli satu buku saja, itu berarti jatah makan saya harus berkurang. Keuangan saya tidak memungkinkan untuk memiliki sebuah buku.

Suatu ketika saya membaca perdebatan di media sosial tentang produktivitas dan validitas karya tulis. Substansi perdebatan itu adalah nama salah satu dari penulis yang saya sebut di awal tulisan ini memang dikenal sangat produktif. Jumlah buku yang dihasilkan lebih dari 300 buah. Tentu ini jumlah yang tidak sedikit. Persoalannya, substansi karyanya yang dikritik oleh seorang guru besar. Karya-karya tokoh yang produktif menulis itu dinilai tidak memenuhi standar penulisan yang baik. Sumber rujukannya juga tidak valid.

Perdebatan ini menghasilkan tiga kubu; pendukung, penolak, dan kelompok penengah. Kelompok pendukung tidak terima dengan tuduhan sang profesor, kelompok penolak setuju dengan sang profesor, dan kelompok penengan setuju sebagian pendapat profesor dan tidak menyetujui sebagian yang lainnya.

Perdebatan tersebut tidak lama. Tidak seperti perdebatan soal politik yang bisa berbulan-bulan dan melahirkan dendam kesumat tak berkesudahan. Substansi perdebatan semacam itu melahirkan spirit perbaikan dalam literasi. Produktif itu penting, tetapi memenuhi kriteria tertentu yang disepakati juga penting.

Penulis itu tugas utamanya menulis. Apa pun yang terjadi harus tetap menulis. Tidak ada tulisan yang sempurna. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat pernah menulis bahwa setiap kali buku beliau terbit selalu ditemukan adanya kekurangan di sana-sini. Itu wajar saja. Tulisan memang perlu dibuat sebaik mungkin, tetapi harus juga dipahami bahwa tidak akan pernah sempurna. Editing penting tetapi secukupnya. Setelah itu tulisan bisa dipublikasikan. Persoalan ada yang tidak setuju ya tidak apa-apa. Itu justru bisa menjadi sumber ide untuk melahirkan tulisan berikutnya.

 

Trenggalek, 4-5 Januari 2021

 

12 komentar:

  1. Saya juga punya bukunya labib MZ dan Maftuh Ahnan, seorang penulis dari Gresik yabg luar biasa, beliau terus menulis padahal belum ada pelatihan menulis. Terima kasih Pak Doktor Naim

    BalasHapus
  2. Setuju. Intinya terus menulis ya

    BalasHapus
  3. Bagai peribahasa, Tak ada gading yang tak retak..

    BalasHapus
  4. terimakasih pak motivasinya
    Allahumma nular

    BalasHapus
  5. matursuwun pak ustadz...motivasinya luarr biasa

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.