Menulis dan Menebarkan Kebajikan

Mei 21, 2021


 

Oleh Ngainun Naim

 

Tulisan itu melampaui ruang dan waktu. Persebaran tulisan acapkali tak terduga dan di luar sepengetahuan penulisnya. Ia masuk ke lorong-lorong yang jauh dan menebarkan energi kepada para pembacanya.

Barangkali catatan pembuka ini mewakili sebagian potret relasi saya dengan Almarhum Pak Dhe Abdul Cholik. Seorang Jenderal yang ramah, blogger, dan banyak menebarkan kebajikan. Saya sendiri belum pernah sekalipun bersua secara langsung dengan beliau tetapi saya merasakan aura kebajikan beliau.

Beberapa waktu terakhir saya menemukan kembali akun facebook beliau. Memang saya tidak terlalu aktif lagi di facebook. Saya membaca ada yang aneh dalam status Pak Dhe Cholik. Status tanggal 28 April berbunyi:

 

Terima kasih banyak doa dan suport buat papi... Semoga Allah menjawabkan doa kami untk melipat gandakan semua doa dan suport nya kekeluarga kami. Kami sekeluarga merasa dicintai dan dipeluk disaat2 seperti ini. Sekali matur nuwun.. aamiin yra...

 

Saya memang tidak aktif mengikuti status demi status beliau. Saya menduga akun beliau dikendalikan oleh putra-putrinya. Indikasinya ada kata “Papi”. Dugaan saya semakin menguat ketika tanggal 11 Mei 2021 saya menemukan status di beranda beliau:

 

Stroke kedua...

Kali ini fatal...

Kuatlah pejuang ku...

 

 

Ya Allah, rupanya Pak Dhe Cholik sakit stroke. Saya berdoa semoga beliau segera sembuh. Saya ingin menemukan spirit dan tebaran kebaikan lewat tulisan beliau. Tetapi harapan saya pupus ketika Pak Akhmad Muhaemin Azzet pada tanggal 14 Mei 2021 pukul 09.29 menulis kabar duka.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Hari ini, Pakde Abdul Cholik wafat. Air mata membasah di pipi mendengar kabar duka ini. Tiap mudik biasanya saya sowan. Tahun ini tak bisa mudik ke Jombang, Pakde kembali ke haribaan Ilahi. Mohon doanya ya teman-teman. Allahummaghirlahu, warhamhu, wa 'afihi, wa'fu 'anhu, waj'alil jannata matswahu birahmatika ya arhamar rahimin... 😭🤲

 

Ternyata Pak Dhe Abdul Cholik berpulang. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga beliau husnul khatimah.

Kepergian beliau menyisakan pemikiran dan pelajaran buat saya. Salah satunya adalah keinginan untuk meneladani beliau lewat tulisan. Ya, Pak Dhe Cholik telah meninggalkan warisan abadi berupa buku-buku dan artikel yang bertebaran di jejaring sosial.

Beberapa tahun lalu tanpa sengaja saya bersua dengan tulisan beliau di facebook. Saya pun mengajukan pertemanan. Tidak butuh waktu lama saya sudah beliau setujui sebagai teman. Sebuah pertemanan yang indah meskipun hanya secara maya.

Saya menyukai berteman dengan orang-orang yang menebarkan energi positif. Status, catatan, dan tulisan yang mereka buat bernilai positif. Sebagai orang yang harus terus belajar, saya menemukan sumber belajar dari para tokoh tersebut, termasuk dari Pak Dhe Cholik.

Tulisan-tulisan di blog beliau cukup menarik. Bayangkan, beliau baru menekuni dunia blog di usia 59 tahun. Sebuah usia yang tidak muda lagi. Namun jangan tanya semangatnya. Sungguh saya belajar banyak dari beliau tentang bagaimana bersemangat menulis.

Menulis hal-hal yang positif adalah sarana untuk menebarkan kebajikan. Tulisan semacam ini memiliki pengaruh besar terhadap pembacanya, meskipun mungkin penulisnya sendiri tidak mengetahui dan menyadarinya. Pada tulisan Pak Dhe Cholik saya menemukan energi hidup yang luar biasa.

Kekaguman saya dengan Pak Dhe Cholik mengantarkan saya untuk membeli salah satu buku yang beliau tulis Bersama Pak AKhmad Muhaimin Azzet dan Bu Lily Suhana. Buku yang saya beli pada 8 Oktober 2014 tersebut berjudul Seni Merangkai Keberhasilan. Buku terbitan Quanta Jakarta tahun 2014 ini sungguh menarik.

Saya ingin mengambil beberapa contoh tulisan Pak Dhe Cholik yang berjudul “Budayakan Kebiasaan Baik”. Menurut Pak Dhe, setiap orang pada hakikatnya mempunyai kebiasaan baik.  Beliau menyebutkan di tulisan ini beberapa kebiasaan baik yang penting untuk kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu menebar salam, menyungging senyum, berdoa sebelum dan sesudah makan, minta maaf, dan memberi maaf. Di bagian akhir tulisan beliau membuat kalimat yang menghentak, “Dendam yang berkepanjangan sesungguhnya menyakitkan dan membuat hidup kita tidak tenteram” (h. 95).

Contoh lainnya adalah tulisan beliau yang berjudul “Ulurkan Tangan”. Menurut beliau, mengulurkan tangan itu artinya membantu orang lain dalam kebaikan. Bentuk bantuannya tentu disesuaikan dengan kemampuan. Dalam memberikannya perlu menjaga agar yang diberi tidak sakit hati. Membantu orang lain adalah aktualisasin mensyukuri karunia dan nikmat Allah (98-100).

Ada banyak lagi tulisan beliau yang berkaitan dengan kebajikan. Substansi yang beliau angkat adalah kebajikan itu kunci sukses. Jika ingin hidup sukses maka marilah kita melakukan sebanyak mungkin kebajikan.


 

Tanggal 23 Agustus 2015 saya mendapatkan kiriman—setelah memesan langsung ke beliau—buku biografi yang berjudul Bintang Untuk Emak (Bogor: Sixmidad, 2015). Buku ini memuat kisah panjang perjalanan hidup beliau. Saya membaca dan menikmati betul perjalanan hidup beliau yang keras. Sungguh, buku ini menjadi penegas bahwa tulisan itu abadi.

Buku ini bahasanya mengalir dan kadang kocak. Saya tersenyum membaca pengantar penulis di halaman vii, “Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi laki-laki yang gagah. Makanya setiap ada orang yang berpakaian seragam saya langsung kepincut, ingin seperti dia”.

Coba simak kalimat tersebut. Terlihak kocak tetapi itulah titik pijak beliau meniti karir sebagi seorang tantara sampai menjadi Jenderal. Perjuangannya dalam meniti karir sungguh serius. Misalnya setelah lulus Akabri, beliau ikut kursus dasar kecabangan selama enam bulan dengan hasil sebagai lulusan terbaik (14-17).

Di buku ini Pak Dhe Cholik menjelaskan bahwa hobi menulis telah tertanam semenjak kecil. Hobi menulis itu beliau anggap sebagai hal yang mengasyikkan dan beliau tekuni sampai akhir hayat. Selain itu religiusitas beliau terlihat pada niat beliau untuk menjadikan menulis sebagai lading ibadah.

Buku ini juga berkisah pernak-pernik perjalanan ke berbagai negara di dunia. Ketika orang belum banyak pergi ke luar negeri, Pak Dhe Cholik sudah menjelajahi banyak negara. Aspek yang membedakannya adalah beliau merekam perjalanannya dalam tulisan.  

Bagian buku ini yang paling mengesankan adalah Bab 100, “Seandainya Saya Rajin Menulis Diary”. Bagian ini mengisahkan bagaimana beliau menyesal tidak rajin menulis diary. Seandainya beliau rajin, tentu buku riwayat hidup beliau jauh lebih tebal lagi. Padahal buku ini tebalnya saja 330 halaman.

Kini kita tidak bisa menikmati lagi buku baru Pak Dhe Cholik. Beliau telah menutup buku kehidupannya. Selamat jalan Pak Dhe Abdul Cholik.  Amal kebajikanmu, khususnya lewat tulisan, akan abadi. Semoga Pak Dhe Abdul Cholik husnul khatimah. Amin.

 

Tulungagung, 21-5-2021

10 komentar:

  1. Tinjauan buku yang cakep surakep. Matur nuwun

    BalasHapus
  2. Menulis adalah bekerja utk keabadian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Omjay. Terima kasih atas kunjungannya.

      Hapus
  3. Membawa energi positif ulasan nya matursuwun

    BalasHapus
  4. Menulis adalah ladang kebajikan. Semoga selalu tertanam pada kami semua. Aamiin.. terimakasih tulisannya sangat inspiratif. Salam.literasi

    BalasHapus
  5. Saya juga siap menjadi muridnya orang-orang seperti Pakde Cholik, senang membaca bukunya, meneladani sikapnya

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.