Aku, Buku, dan Inspirasi Hidup

Mei 17, 2021

 


Oleh Ngainun Naim


Aku menyukai dunia membaca dan menulis. Kesukaanku membaca melalui proses yang panjang dan berliku. Aku menyebut demikian karena orang tuaku bukan pembaca ulung. Mereka berdua tidak memiliki koleksi buku atau membelikan buku sesuai dengan minatku. Namun demikian aku sungguh bersyukur karena posisi Bapakku sebagai PNS yang setiap bulan berlangganan majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA) terbitan Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Timur yang membuat minatku membaca mulai tumbuh.


Di MPA bagian belakang ada rubrik Lembar Anak-Anak (LAA). Di LAA dimuat puisi, cerita anak, dan hal-ikhwal dunia anak. Setiap bulan membaca LAA membuatku memiliki mimpi untuk bisa menulis dan dimuat di LAA.


Seumur hidup aku memang tidak pernah berkirim karya apapun ke LAA. Maklum, masih kecil dan tidak ada yang mengarahkan. Seiring perkembangan waktu, aku justru mengirim artikel ke MPA dan puluhan kali dimuat. Tentu ini merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak akan terlupakan seumur hidup.


Seiring perjalanan waktu minat membacaku semakin tumbuh. Memang aku bukan pembaca yang rakus, apalagi predator buku yang melahap halaman demi halaman buku tanpa kenal ampun. Aku termasuk pembaca lambat yang menikmati sedikit demi sedikit halaman buku. Ya, aku hanya ngemil saja dalam membaca. Jadi ya tidak terlalu banyak yang aku baca. Prinsipnya adalah aku setiap hari berusaha membaca minimal 10 halaman. Itu saja.


Aktivitas sehari-hari yang aku jalani acapkali sangat padat. Namun demikian aku selalu berusaha untuk membaca. Kadang sekali duduk dapat 2-5 halaman, kadang lebih. Aku tidak memakai target yang muluk-muluk. Pokoknya membaca dan menikmati bacaan agar hidupku semakin bermutu.


Menulis adalah proses: https://www.youtube.com/watch?v=Yo4-CUTR2xA


Lies-Marcos Natsir pernah menulis bahwa membaca membuat hidup seseorang tidak akan beku. Membaca membuat dinamis. Selalu saja ada hal baru, wawasan baru, dan pengetahuan baru yang bisa memperkaya perspektif hidup. Inilah yang dimaksudkan dengan hidup yang tidak beku, tetapi hidup yang mencair dan terus mengalirkan energi baru.


Jika dilacak dari perjalanan hidupku sampai sekarang ini, aku sangat bersyukur bisa dekat dengan buku. Meskipun aktivitas membacaku biasa-biasa saja tetapi aku menyadari bahwa apa yang kini aku capai tidak bisa dilepaskan dari dunia buku. Buku telah membentuk cakrawala hidupku yang sekarang ini.


Aku teringat bagaimana dulu mulai menyukai dunia buku. Pertama-tama adalah adanya role model, yaitu orang yang menjadi teladan. Guru-guruku sejak MTsN, MAN, hingga aku kuliah adalah orang-orang yang hebat. Beberapa orang di antaranya adalah kutu buku kelas berat. Dari mereka aku menyerap energi membaca. Jika kini aku menyukai dunia membaca maka jasa-jasa beliau tidak akan pernah aku lupakan.


Faktor kedua adalah sarana. Ya, adanya bacaan yang membuat aku bisa memuaskan hasrat membacaku. Di rumah adalah majalah, di tempat famili ada majalah remaja Anita Cemerlang dan Jaya Baya, di pondok ada koran yang dipajang di dekat masjid, di kos saat kuliah ada kakak tingkat yang memiliki banyak koleksi buku. 


Aku menjadi teringat kisah Almarhum Ajib Rosidi yang ke mana-mana selalu membawa buku. Tujuannya adalah agar bisa membaca saat ada kesempatan. Waktu kosong pun bisa dimanfaatkan untuk hal yang positif. Pola yang sama ternyata dilakukan oleh hampir semua orang yang memiliki tradisi membaca yang baik.


Faktor ketiga adalah dukungan keluarga. Bentuk dukungannya tentu bervariasi. Bagiku, dukungan ini sangat penting sehingga memungkinkan bagiku untuk membeli buku dan menyisihkan waktu untuk menekuni deretan kata demi kata.


Sejauh ini sesungguhnya belum banyak buku yang aku baca. Jika disuruh bercerita buku apa yang paling mempengaruhi dalam hidupku, jujur aku sendiri agak bingung menjawabnya. Baiklah, di tulisan ini aku akan menyebut beberapa buku yang cukup sering aku baca. Pertama, Al-Qur’an. Inilah kitab suci yang aku usahakan untuk membacanya. Jujur aku belum banyak mengetahui terhadap isi kitab suci ini. Pokoknya ya membaca saja. Aku yakin ada berkah hidup karena aktivitasku membaca kitab suci ini.


Kedua, buku karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Judulnya Membumikan Al-Qur’an. Buku ini pertama kali aku baca saat kuliah di bangku S-1. Itu pun lewat pinjam di perpustakaan. Aku baru mampu membelinya setelah menikah. Buku ini sungguh dahsyat. Aku sangat menikmatinya. Banyak sekali ilmu yang aku dapatkan setelah membaca bagian demi bagian dari anggitan pakar tafsir Indonesia ini.


Ketiga, buku monumental karya cendekiawan Muslim Indonesia, Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Buku tersebut berjudul Islam, Doktrin, dan Peradaban. Buku ini menjadi pendorong diriku untuk menekuni dunia keilmuan Islam. Sampai sekarang aku masih membaca buku tersebut, meskipun pada bagian-bagian tertentu saja.


Keempat, buku karya Hernowo Mengikat Makna dan Mengikat Makna Update. Kedua buku ini telah memberikan perspektif dan semangat baru terkait aktivitas membaca dan menulis. Kedua buku karya Hernowo tersebut sudah aku baca berulang-ulang, khususnya saat membutuhkan suntikan energi ketika spirit literasi sedang menurun.


Sesungguhnya ada banyak buku-buku lain yang memberikan inspirasi dalam hidupku. Buku-buku yang aku sebut di atas hanya eksemplar semata tanpa bermaksud menafikan peranan buku-buku yang lainnya. Jika suatu saat aku menulis topik yang mirip dengan tulisan ini sangat mungkin daftar buku yang aku tulis akan berbeda lagi. Aku kira ini wajar mengingat dinamika kehidupan yang aku arungi.

Lies-Marcos Natsir pernah menulis bahwa membaca membuat hidup seseorang tidak akan beku. Membaca membuat dinamis. Selalu saja ada hal baru, wawasan baru, dan pengetahuan baru yang bisa memperkaya perspektif hidup. 

 

Buku demi buku adalah sumber energi. Aku kerap kali mendapatkan inspirasi tidak terduga karena membaca buku. Suatu ketika aku membaca buku yang ditulis oleh Idy Subandy Ibrahim dan Yudi Latif. Di buku tersebut aku menemukan frasa yang menarik, yaitu Chimera-MonsteryAku kemudian mengeksplorasinya menjadi sebuah artikel yang dimuat di Surabaya Post.


Pada saat lain aku membaca buku Nurcholish Madjid. Di dalamnya ada uraian tentang eskatologis. Kebetulan saat itu sedang ada sekte di Bandung yang meyakini kiamat sudah dekat dan mengajak jamaahnya untuk bunuh diri meskipun kemudian digagalkan oleh polisi. Dari fenomena ini mendorongku menulis artikel yang kemudian dimuat Solopos. Judulnya “Mimpi Esatologis Menuju Sorga”.


Ketika riset S-3 aku pernah berminggu-minggu didera insomnia. Berbagai upaya aku lakukan agar bisa tidur normal. Nah, buku adalah solusi yang membuat aku kembali menjalani kehidupan secara normal. Sebuah buku spiritual memberikan wawasan dan pencerahan tentang bagaimana mengatasi persoalan yang tengah kuhadapi.


Aku dan buku adalah rangkaian yang berkaitan. Aku akan berusaha menikmati bacaan demi bacaan sebagai aktualisasi dan pengembangan potensi diri. Semoga apa yang aku lakukan bisa memberikan berkah dalam kehidupan. Amin.

 

 

22 komentar:

  1. Alhamdulillah terimakasih

    BalasHapus
  2. Terbayang ikhtiar untuk menjadikan Membaca sebagai passion dan semua berproses dengan indah

    BalasHapus
  3. Tksh ilmu, dan penglaaman yg baik bagus ditiru, terutama sy pak.

    BalasHapus
  4. Inspiratif motivatitif untuk semangat literasi hingga kian bergizi

    BalasHapus
  5. Pengalaman membaca bukunya begitu natural...namun sungguh hal yang patut dijadikan contoh adalah semangat dan energi menulisnya. Sehingga terbentuk ikatan indah antara membaca dan menulis. Salam literasi pak .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam literasi Pak Guru. Terima kasih berkenan mengunjungi dan meninggalkan komentar.

      Hapus
  6. Kembali mengingatkan saya pribadi. Ingin rutin membaca namun masih saja belum bisa istiqomah.

    BalasHapus
  7. Barokallah Bapak, terimakasih sudah memotivasi lewat tulisan panjenengan🙏

    BalasHapus
  8. Ngawiti kisah moco perjalanan Prof. Naim # Dadoso pepeleng ing ati selaminipun....

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah, senang sekali saya membaca tulisan bapak, bisa menumbuhkan energi baru untuk membaca lagi, selama ini saya hanya membaca jika ada masalah pekerjaan yang saya hadapi

    BalasHapus
  10. Untuk menambah video dari YouTube klik menu insert video pilih yg YouTube lalu copas link YouTube yg akan dimasukkan ke blog. Semoga dapat mempercantik isi blognya pak kyai.

    BalasHapus
  11. Membaca membuat dinamis. Selalu saja ada hal baru, wawasan baru, dan pengetahuan baru yang bisa memperkaya perspektif hidup. Terima kasih mas Doktor

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.