Bapak, Masa Lalu, dan Pengulangan

Juli 03, 2021


 

Ngainun Naim

 

Saya memiliki banyak sekali kenangan tentang Almarhum Bapak. Saya kira kelima adik saya semuanya juga memiliki kenangan tersendiri. Masing-masing memiliki interaksi khusus dengan Bapak. Tentu interaksi yang tidak selalu sama, bahkan banyak yang berbeda.

Satu hal yang ingin saya tulis ini berkaitan dengan cara pandang. Orang kampus menyebutnya dengan paradigma. Mbuh lah kui opo maksude. Bagi yang belum kuliah mungkin pusing dengan kata itu. Intinya saya ingin mengenang bagaimana Bapak memandang persoalan.

Tetiba saya teringat status facebook kawan yang menjadi dosen di UIN RM Said Surakarta, Dr. Muhammad Nashiruddin, M.Ag., M.A. Beliau berkisah tentang Ibu dan Bapaknya yang sungguh luar biasa. Pak Nashiruddin merupakan anak bungsu dari 10 orang bersaudara. Bapaknya seorang penjual buku dan kitab di pasar, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang sibuk merawat anak-anaknya. Bayangkan, merawat 10 anak tentu bukan pekerjaan yang ringan sederhana.

Bagi generasi sekarang, banyak anak dianggap sebagai hal yang tidak biasa. Keluarga generasi sekarang ini umumnya keluarga kecil dengan anak di bawah lima. Memang zaman telah berubah dan berbeda, termasuk dalam soal jumlah anak.

Zaman sekarang tentu tetap saja masih ada keluarga yang memiliki anak dalam jumlah besar. Tapi mereka yang memilih memiliki anak banyak semacam ini ya minoritas. Tidak banyak karena pertimbangannya tentu lebih rumit. Kalau orang zaman dulu kayaknya tidak banyak pertimbangan. Pokoknya yakin bahwa Allah telah mengatur rezeki kita.

Kembali ke kisah Pak Nashiruddin. Banyak tetangga yang mencibir—bahkan menghina—terhadap keluarga beliau. Umumnya mereka mempertanyakan tentang bagaimana Bapak dan Ibu beliau memberi makan anak-anaknya, bagaimana membiaya pendidikannya, dan banyak hal lainnya. Intinya keluarga beliau diremehkan oleh para tetangga.

Ibunya Pak Nashiruddin seringkali menangis mendengar sindiran atau hinaan para tetangga tetapi Bapaknya meyakinkan bahwa mereka punya Allah. Rezeki itu urusannya Allah. Tugas manusia adalah berikhtiar sebaik mungkin dan selalu berdoa agar mendapatkan keberkahan.

Satu hal yang menjadi dasar sukses keluarga Pak Nashiruddin saya kira adalah ibadah kedua orang tuanya. Setiap malam Bapak dan Ibunya selalu bangun untuk mendoakan anak-anaknya. Saat anak-anaknya tidur terlelap, pasangan suami istri itu khusyuk melakukan ibadah dan bermunajat demi kebajikan kehidupan keluarga, khususnya anak-anaknya.

Usaha beliau berdua tidak sia-sia. Kini anak-anaknya sukses. Kawan saya Pak Nashiruddin adalah contohnya. Menurut saya, salah satu faktor sukses Pak Nashiruddin adalah tirakat kedua orang tuanya.

Nah, kini di usia sepuhnya, Ibu Pak Nashiruddin sering sekali berkisah yang sama. Kisah tentang masa lalu. Kisah ketika anak-anaknya masih kecil-kecil dalam jumlah yang banyak. Hinaan dan cacian acap kali mereka terima. Kini keluarga tersebut telah mendapatkan hasil dari perjuangannya.

Saya tetiba Ingat Bapak dan Ibu. Harus saya tulis dengan penuh kesadaran bahwa saya hari ini adalah produk dari Bapak dan Ibu. Produk lahir dan batin. Ikhtiar dan tirakat Bapak dan Ibu yang menjadi penopang hidup saya sampai hari ini. Tanpa kerja keras dan tirakat beliau berdua, saya tidak akan bisa seperti sekarang ini.

Saya ingat persis bagaimana Bapak berjuang sekuat tenaga mewujudkan mimpinya untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk kami para anaknya. Tentu terbaik sesuai dengan kemampuan, bukan sesuai idealitas. Jika sesuai idealitas jelas tidak mampu.

Demi mewujudkan cita-cita itu Bapak bekerja keras setiap hari. Selain mengajar, Bapak memutar otak untuk menambah penghasilan. Caranya yang beliau tekuni adalah dengan menanam sayur mayur di sekitar rumah. Dalam hal ini rasanya tidak ada anak-anaknya yang bisa meniru. Ya kerja kerasnya, ya kreativitasnya. Kami anak-anaknya hanya kreatif menikmati hasil.

Setahun lebih setelah Bapak berpulang, kami masih bisa menikmati jambu yang ditanam Bapak. Segar dan nikmatnya begitu menggoda. Saya jelas tidak bisa meniru Bapak dalam bidang ini. Jika pun bisa meniru ya menirunya dalam tulisan, bukan dalam tindakan he he he.

Satu pembeda antara generasi muda dengan generasi muda adalah cara pandang. Bagi generasi muda, hidup itu adalah masa depan. Mimpinya tinggi, harapannya besar, dan cita-citanya melampaui ruang dan waktu. Kehidupan seolah terbentang luas tak bertepi. Maka kata kunci yang biasanya diucapkan oleh generasi muda adalah “nanti…”.

Kondisi berbeda terjadi pada generasi tua. Bagi beliau, cara pandangnya bukan lagi tentang masa depan tetapi tentang masa lalu. Kenangan perjuangan, kenangan keindahan, dan kenangan lainnya mengisi hari-harinya. Perbincangan dengan beliau-beliau akan didominasi oleh cara pandang tentang masa lalu.

Saya nyaris selalu mendengar kisah-kisah tentang masa lalu saat berbincang dengan Bapak di usia sepuhnya. Hal yang sama juga saya temui saat saya mengantar beliau jalan-jalan. Kisahnya cukup lengkap dan tetap saja menarik meskipun diulang-ulang. Justru dari kisah demi kisah itulah saya memahami bahwa hidup itu dinamis. Saya menjadi mengerti bahwa saya memiliki relasi dengan masa lalu untuk membangun masa depan.

 Trenggalek, 2-3 Juli 2021

14 komentar:

  1. Kenangan yang tak akan pernah terlupa

    BalasHapus
  2. Njih Pak... Saya sangat setuju jika keberhasilan kita sekarang adalah hasil tirakat dan ikhtiar orang tua kita...

    BalasHapus
  3. Kita saat ini adalah kita di masa lalu dan kita dimasa depan leres prof.
    Masa lalu membentuk kita sekarang dan kita sekarang utk masa depan

    BalasHapus
  4. intinya tirakat...itu juga dengan ibu saya yg mempunyai 9 anak..

    BalasHapus
  5. Perjuangan bapak ibu dan tirakatnya untuk membesarkan dan Demi anak2 nya
    Sangat inspiratif utk mengingatka sy dari keluarga petani gurem. Bapak ibu membanting tulang. Tetima kasih pak doktor. Perlu kita bukukuna

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.