Menulis dan Makluk Aneh

Juli 27, 2021



 

Ngainun Naim

 

Dunia menulis sungguh unik dan menarik. Unik karena dunia menulis menghadirkan sangat banyak sudut pandang teoretis dan empiris. Menarik karena minat orang untuk menekuni dunia menulis tidak pernah surut. Fenomena belakangan justru menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya minat masyarakat terhadap dunia menulis. Hal itu ditandai dengan banyaknya peserta kelas-kelas menulis, khususnya online.

 

Meskipun demikian sesungguhnya menulis itu tidaklah sesederhana yang dibayangkan orang kebanyakan. Jika menulis itu sederhana dan mudah maka sudah sangat banyak para penulis yang kita miliki. Faktanya, menulis itu tidak hanya berkaitan dengan teori tetapi juga praktik. Nah, di level praktik inilah banyak yang tidak tahan. Satu demi satu mereka yang memiliki minat besar memasuki dunia menulis mundur secara teratur.

 

Sejauh yang saya amati, minat menulis tinggi terlihat saat ada kegiatan kepenulisan. Bisa workshop atau pelatihan, online atau offline. Saat kegiatan seolah semuanya begitu mudah dilakukan. Praktik menulis saat acara biasanya juga bisa dilakukan dengan baik.

 

Tetapi itu bukan ukuran. Ukuran sesungguhnya adalah usai pelatihan. Berapa persen mereka yang ikut pelatihan yang mampu bertahan?

 

Saya tidak tahu persis. Jika mau diteliti tentu butuh energi tersendiri. Secara sederhana saya membagi para alumni pelatihan itu menjadi beberapa tipe. Pertama, sekadar ingin menulis. Keinginan itu bisa jadi muncul karena melihat penjelasan mentor yang terlihat mudah dan sederhana. Mereka membayangkan jika menulis itu mudah. Buktinya saat pelatihan banyak peserta yang terlihat mudah menulis. Namun saat mencoba tetiba kemudahan itu sirna. Adanya adalah kesulitan. Tidak butuh waktu lama untuk lenyapnya keinginan itu. Ia merasa tidak berbakat. Ikut pelatihan pun bergeser menjadi ingin mendapatkan sertifikat.

 

Tentu ini penting kita hargai karena ada keinginan untuk ikut acara dan bisa menulis. Persoalan kemudian berhentu di tengah jalan itu persoalan lain. Begitu juga dengan persoalan ingin mendapatkan sertifikat. Dibandingkan dengan mereka yang tidak ikut acara tetapi ingin dapat sertifikat, tentu mereka dari tipe pertama ini lebih mulia. 

 

Kedua, mereka yang ikut acara, ikut berproses, namun akhirnya berhenti. Ia tidak lagi menulis sama sekali. Jika dicermati mereka ini sesungguhnya sangat potensial namun potensi itu tidak dikembangkan. Faktor yang menjadi penyebabnya bermacam-macam. Setiap orang memiliki alasan tersendiri yang menjadikan dirinya tidak menulis lagi.


 

 

Ketiga, mereka yang ikut acara, ikut menulis, namun tidak rutin. Mereka dalam tipe ini tentu harus kita apresiasi. Sungguh tidak mudah merawat semangat menulis. Kadang bersemangat, kadang malas. Wajarlah Namanya juga manusia. Asal masih tetap terawat spiritnya maka itu harus terus dirawat. Saat semangat muncul segera ditindaklanjuti dengan menulis.

 

Keempat, mereka yang konsisten terus merawat menulis. Setiap hari selalu menulis. Ada saja yang ditulis. Tidak harus hal istimewa. Hal sederhana yang ada di sekitar merupakan sumber ide yang tidak pernah habis. 

 

Semua tipe itu baik. Tidak perlu saling merasa lebih baik. Jika diibaratnya piramida, empat tipe di atas seperti segitiga terbalik. Tipe pertama paling banyak. Semakin ke bawah menuju tip eke-4, semakin sedikit. 

 

Saya sudah bertahun-tahun mengisi acara dan mendampingi kelompok-kelompok kepenulisan. Bagi saya, ini dunia unik dan menarik. Dunia yang menghadirkan selaksa cerita tanpa tepi. Terus saja ada hal baru dan memberikan manfaat dalam hidup. Itulah sumber energi menulis yang membuat saya terus bertahan menekuninya. 

 

Mungkin aneh bagi orang lain. Tapi kata aneh tidak selalu berkonotasi negatif. Bisa juga berkonotasi positif. Mereka yang menekuni dunia menulis bisa jadi masuk kategori makhluk aneh karena sangat jarang yang melakukannya. Nah, jika ini definisinya maka semua orang dalam grup menulis yang membaca catatan sederhana ini termasuk makhluk aneh. 

 

Anda tidak setuju? Ya jawablah dengan tulisan. Aneh? Kan kita memang orang aneh. Begitu.

 

Trenggalek, 27-7-2021

 

30 komentar:

  1. Sedari kecil saya merasa saya aneh 😅 ternyata kita memang orang aneh ya pak, tapi saya tidak suka menulis saya hanya suka melukis walaupun tak pernah jadi pelukis

    BalasHapus
  2. Sukses dan konsisten sll Gus

    BalasHapus
  3. Makluk aneh karena mencolok perbedaan dari kebiasaan orang banyak..tapi istimewa yang tidak bisa ditiru oleh orang banyak pula

    BalasHapus
  4. Orang aneh bertemu orang aneh diajak untuk aneh mencermati tulisan aneh dipersilakan komentar aneh atas pengakuan aneh berkesimpulan positif aneh tapi aneh positif...
    Hanya yang aneh banyak mengundang hasrat..
    Hanya yang aneh yg memikat..
    Hanya yang aneh yang mempesona..
    Jika dikau ingin jadi pengundang hasrat, pemikat, dan mempesona jadilah Aneh...
    Dengan aneh akan hidup, tanpa aneh tak terasa hidup..
    Hidup aneh, Aneh hidup...
    Ternyata hidup dan aneh saudara yg tak bisa dipisahkan...
    Jika dikau gak percaya tulislah argumenmu...

    BalasHapus
  5. Semoga kita semua istiqamah dalam menulis. Mantul tulisannya gus. Salam ta'zim

    BalasHapus
  6. Menulis ✍️ membutuhkan ketelatenan.

    BalasHapus
  7. Memang aneh.. ..saat saya mengajak teman sesama guru untuk menuliskan pengalamannya..maksimal 3 halaman...kurang boleh. Grup wa yang saya bentuk pun tidak ada yang menanggapi. Kosong. Keanehan selanjutnya grup itu.pun saya isi sendiri tulisan saya....sampai sekarang. Aneh kan? Salam Literasi Prof.

    BalasHapus
  8. Kucoba ikuti jejakmu kang
    dengan segala kemampuan
    Semoga Allah ridho

    BalasHapus
  9. Keren, Prof. Aneh, tapi nyata. Betapa beruntung saya sedikit banyak belajar dari keanehan itu saat mengikuti mata kuliah jurnalistik yang Bapak komando.Tergelitik ketika ditanyai seputar literasi atau koleksi buku. Aneh, ketika itu saya yang tidak memiliki koleksi buku, tetapi ingin belajar lebih tahu dunia aneh itu dan ingin membaca buku tanpa harus membeli, perpustakaan jadi solusi. Ternyata, sepuluh tahun kemudian, setelah konsisten prioritas sebagian rezeki untuk anggaran beli buku, keanehan lain muncul. Saya ingin membuang toksin melalui menulis. Writing is healing and a great fun, thanks so much Profesor. Terbukti bahwa aneh itu virus yang bisa menular. Barakallah.

    BalasHapus
  10. Dikatakan Makhluk Aneh karena dia beda dengan yang lainnya. Hobi menulis masuk katagori makhluk aneh karena orang lain tidak Mampun tapi dia mampu.
    Klo saya menilai prof Naim bukan makhluk aneh. Tapi makhluk nyentrik.yg konotasi orang pasti positif. Bahkan tidak sekedar nyentrik tapi prof Naim ini kamus hidup berjalan. Ditanya model dan bentuk apa jawabnya cepat tepat dan mudah dipahami. Banyak penulis tapi tidak se nyentrik prof Naim. Ketelatenannya super, kesabarannya beda dg lainnya, masih muda biasanya darah mudanya muncul tapi prof Naim ini tetap tenang gak keluar emosi ini kan nyentrik masih muda tapi manajemen hatinya tertata kayak orang thoriqoh.
    Doakan prof santrimu di Fatayat bisa nyantol ada yg Istiqomah menulis hh😀
    Ya minimal doa kan saya ya prof santri di Fatayat, di STAIN,IAIN bahkan sekarang UIN ini bisa Istiqomah menulis. Amin ya rabbal alamin 🤲🤲.

    BalasHapus
  11. Betul banget, yang sukar itu untuk bisa konsisten.

    BalasHapus
  12. saya berusaha konsisten menulis, selalu memiliki target dalam buku yang saya terbitkan dalam setiap tahun, hiburan dengan menulis cerpen dan puisi. sejak dulu saya merasa juga aneh, tapi keanehaan saya rasakan ketika saya sering menghabiskan waktu dalam kesunyian bersama tulisan saya. terkadang meskipun bersama banyak orang masih saja merasa sunyi... dasar makhluk aneeeehhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aneh, tulisan begini kok dikomentari. Memang makhluk aneehhh he he he

      Hapus
  13. di paksa untuk jadi aneh demi kelangsungan hidup hehehehe....

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.