Perspektif Historis Masjid Agung Trenggalek

Juli 21, 2021


 

Ngainun Naim

 

Salah satu tempat yang saya kira cukup membanggakan bagi warga Kabupaten Trenggalek adalah Masjid Agung Baitur Rachman. Ya, masjid yang mampu menampung 4000 jamaah ini berdiri megah di barat Alun-Alun.

Mengapa Masjid Agung di setiap kabupaten itu posisinya ada di Barat Alun-Alun? Ternyata ini merupakan wujud tata kota aplikasi konsep mancapat sejak masa Mataram Islam.

Saya bukan jamaah yang aktif melaksanakan kegiatan di masjid ini. Pernah juga saya shalat jumat atau shalat jamaah di masjid Agung Baitur Rachman ini, tetapi itu hanya ketika saya ke Trenggalek kota saja. Seingat saya, entah tahun berapa, saya mengisi kegiatan kawan-kawan IPNU-IPPNU Trenggalek di dalam masjid. Selebihnya saya hanya penikmat pemandangan kemegahan masjid setiap kali lewat di sekitar Alun-Alun Trenggalek atau menemani anak-anak bermain di Alun-Alun.

Saya tidak banyak mengetahui hal-ikhwal Masjid Agung Trenggalek ini sampai saya menemukan tulisan sahabat saya, Misbahus Surur. Lewat buku berjudul Kronik Pedalaman: Perdikan, Islam, dan Akhir Majapahit (Yogyakarta: Interlude, 2020), Surur mengumpulkan remah-remah informasi dan pengetahuan tentang wilayah yang selama ini kurang banyak diperhatikan.

Buku karya Surur ini terbagi menjadi dua bab. Bab pertama berjudul Sejarah dan Geopolitik Desa. Pada bab ini 18 artikel. Bab kedua berjudul Sejarah Lokal yang terdiri dari 17 judul. Menurut saya bab kedua ini sesungguhnya bisa dibuat buku sendiri dengan judul Sejarah Lokal Trenggalek karena isinya memang sejarah tentang Trenggalek.

Mungkin juga Surur kini sedang merancang satu buku khusus tentang Trenggalek. Sejauh ini Surur telah menulis beberapa buku tentang Trenggalek, yaitu Turonggo Yakso Berjuang untuk Sebuah Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013), Trenggalek pada Suatu Pagi (Tulungagung: Akademia Pustaka, 2017), dan Sebelum Trenggalek Kini: Remah-Remah Peradaban Kerajaan Agraris (Malang: Intrans, 2019). Jika melihat buku-buku yang telah ditulis, saya optimis Surur memiliki stok data dan pengetahuan untuk Kembali menulis sisi-sisi yang selama ini belum banyak diulas dan diungkap tentang Trenggalek.

Sahabat yang kini menjadi dosen di UIN Maliki Malang ini aslinya dari Munjungan Trenggalek. Beliau sesungguhnya dosen Bahasa Arab. Riwayat pendidikannya linier dalam bidang ini. Namun beliau juga seorang sastrawan dan sejarawan.

Karyanya berupa esai sastra dan esai sejarah bertebaran di banyak media massa cetak dan online. Surur juga mendirikan nggalek.co. Bersama kawan-kawan muda Trenggalek, Surur rajin mengulik sisi-sisi Trenggalek yang belum banyak diketahui oleh masyarakat. Tulisan demi tulisan yang tersaji di nggalek.co adalah informasi dan wawasan yang sangat berharga bagi terbangunnya wawasan dan pengetahuan tentang Trenggalek.

Di buku Surur ini pula saya baru tahu jika Masjid Agung Trenggalek ternyata sudah sangat tua. Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1743 M oleh Bupati Sumotruno. Jadi jika dilihat dari tahun awal pembangunannya Masjid Agung sudah berumur ratusan tahun.

Ada lagi informasi penting yang saya dapatkan yaitu imam pertama Masjid Agung adalah Mbah Nur Kholifah atau Mbah Nur Jalifah, seorang ulama yang makamnya di Desa Rejowinangun. Saya beberapa kali ziarah ke makam beliau tetapi tidak banyak mengetahui tentang beliau. Lewat buku ini, meskipun sekilas, saya menjadi tahu tentang Mbah Nur Kholifah. Dua informasi penting yaitu tahun beliau hidup dan posisi beliau.

Sejauh ini saya hanya mengetahui tentang Mbah Nur Kholifah dari mulud ke mulud. Sejarah lisan memang lebih dominan dalam masyarakat kita. Lewat tulisan Surur, saya mendapatkan peneguhan dari pengetahuan yang saya peroleh selama ini.

Surur menulis secara detail dalam lima halaman sejarah perjalanan Masjid Agung Baitur Rachman yang tiga kali mengalami pemugaran. Jejak sejarah yang Panjang menjadi penanda posisinya yang penting. Tidak hanya bagi umat Islam, tetapi bagi masyarakat Trenggalek secara umum.

 

Trenggalek, 21-7-2021

10 komentar:

  1. Ini membuktikan bahwa para pemimpin zaman dahulu sudah memiliki konsep tata ruang (kota) yang bagus

    BalasHapus
  2. Hebat ada tokoh baru Pak Surur, yang ikut mengabadikan cerita Trenggalek

    BalasHapus
  3. Saya tinggal di belakang masjid yang berada di barat alun-alun utara Yogyakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. SEmoga ada kesempatan silaturrahim Bu. Pandemi betul-betul membuat semuanya serba terbatas.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.