Literasi, Tradisi, dan Apresiasi

Januari 27, 2022


 

Ngainun Naim

 

Literasi tidak pernah berhenti menawarkan perubahan bagi siapa saja yang menggelutinya. Kalimat penuh energi ini saya peroleh dari Rubrik Tokoh Harian Kompas edisi 23 Januari 2022. Di rubrik tersebut ada tulisan dengan judul “Atep Kurnia Hidupkan Literasi dari Kolong Mesin Tekstil” yang berkisah tentang bagaimana Atep Kurnia mengalami transformasi kehidupan karena kecintaannya dengan dunia membaca dan menulis.

Atep Kurnia berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang beruntung. Namun tradisi membaca sejak belia menjadi energi hidup yang tiada tara. Perjalanan hidupnya bertransformasi dari beragam profesi karena pengaruh kuat literasi. Di mana pun ia bekerja, membaca dan menulis adalah aktivitas yang selalu ia perjuangkan untuk tidak ditinggalkan.

Capaian yang kini diperoleh oleh Atep Kurnia bukan capaian secara mendadak. Hal ini sejalan dengan perspektif yang menyatakan bahwa literasi adalah kerja abadi. Ia kerja yang tidak instan melainkan berkelanjutan. Oleh karena itu topik literasi harus sesering mungkin diperbincangkan, disosialisasikan, dan dikerjakan sebagai aktivitas sehari-hari. Lewat berbagai strategi diharapkan literasi bisa menjadi tradisi yang memiliki akar kokoh-membumi.

Kerja-kerja literasi secara umum masih kurang mendapatkan apresiasi. Masyarakat lebih menyukai kerja-kerja instan, kerja yang mendongkrak popularitas, dan memberikan dampak finansial yang konkret. Literasi tampaknya jauh dari itu.

Kerja literasi tidak bisa instan karena membutuhkan proses belajar dan terus belajar sepanjang hayat. Jika tidak mau belajar, literasi bisa berhenti. Substansi literasi itu sendiri adalah belajar dan terus belajar.

Mereka yang menekuni dunia literasi juga tidak akan mampu melampui popularitas para pesohor. Jika pun dikenal oleh publik, itu pun tetap tidak akan mampu melampui popularitas pesohor. Seseorang yang menekuni dunia literasi dengan harapan akan terkenal tampaknya perlu menata kembali niatnya.

Literasi juga tidak akan bisa membuat seorang penulis menjadi kaya raya. Memang ada yang mampu meraup royalti sangat banyak tetapi jumlahnya sangat sedikit. Apresiasi terhadap penulis di negeri ini masih belum sesuai dengan harapan. Jika pun mendapatkan keuntungan materi, jumlahnya kadang belum sesuai dengan ekspektasi.

Literasi memang harus dilakoni dengan sepenuh hati. Niat harus dipancang secara kuat. Prinsip literasi yang ideal adalah terus berproses, terus belajar, dan terus berkarya. Jika kemudian mendapatkan banyak materi, menjadi tenar, dan mendapatkan keuntungan lainnya maka itu merupakan bonus.

Logikanya memang terbalik dengan yang selama ini banyak dipahami oleh masyarakat. Memang saya sendiri sesungguhnya juga belum seideal yang saya tulis. Namun menjadikan literasi sebagai aktivitas asketis semacam itu selalu saya upayakan. Prinsip yang saya kembangkan pada diri saya adalah menulis adalah menulis. Persoalan kemudian saya mendapatkan banyak barakah dari aktivitas menulis maka itu merupakan bonus.

Jadi bukan memburu bonusnya melainkan melakoni aktivitasnya. Jika bonus yang menjadi orientasi maka literasi tidak akan bisa menjadi tradisi. Literasi justru hanya akan menjadi media antara. Ketika bonus sudah diperoleh, literasi sendiri akan ditinggalkan.

Saya sendiri memimpikan semakin banyak orang yang mau dan mampu menekuni dunia literasi. Mimpi ini saya kira wajar meskipun untuk terwujudnya jelas membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Bukankah mewujudkan mimpi memang tidak gratis?

Demi terwujudnya mimpi tersebut saya mengajak banyak kawan di berbagai pelosok tanah air. Ada kawan dosen, guru, dan berbagai profesi lainnya. Saya mengajak mereka semua untuk menulis lewat media komunikasi WA, Facebook, Instagram, dan media sosial lainnya. Tugas pokok saya adalah mengajak. Persoalan berapa persen dari komunitas yang saya ajak yang mau menekuni dunia literasi, itu sudah di luar kapasitas saya.

Jika literasi telah menjadi tradisi maka akan sangat banyak manfaat yang bisa diperoleh. Studi yang ada menunjukkan bahwa negara yang maju memiliki basis literasi yang sangat mapan. Hal ini bermakna bahwa ketika literasi telah menjadi tradisi maka kemajuan kehidupan dalam skala luas akan terjadi. Sebaliknya, semakin sedikit masyarakat yang mau membaca dan menulis maka semakin lama untuk bertransformasi menjadi masyarakat yang maju.

28 komentar:

  1. Matur nuwun Prof. Selalu menginspirasi

    BalasHapus
  2. Semoga niat berliterasi tidak hanya demi bonus, namun memang niat ngalap barakah ilmu. Terima kasih sangat catatannya, Bapak Naim.

    BalasHapus
  3. Mantap jiwa. Memantik geliat Literasi Diri membara. Terimakasih Prof. 🙏

    BalasHapus
  4. Mantab Prof. Siraman vitamin Literasi. Literasi tiada henti

    BalasHapus
  5. Semoga tradisi literasi menjadi budaya unggulan bangsa Indonesia

    BalasHapus
  6. Jika literasi manjadi tradisi....indahnya bumi ini

    BalasHapus
  7. Terimakasih Bapak. Tulisan yg memotivasi untuk meluruskan niat, untuk
    terus berproses dan menikmati prosesnya.

    BalasHapus
  8. Substansi literasi itu sendiri adalah belajar dan terus belajar. Ini yang menjadikan kita tidak akan pernah berhenti berliterasi

    BalasHapus
  9. Sangat bermanfaat Prof. Naim.
    Tulisan yang menarik

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah bisa singgah dan nikmati motivasi yang cetar membahana

    BalasHapus
  11. Mantap prof...terus menebar virus literasi demi mengembangkan diri yang berprestasi...

    BalasHapus
  12. Betul Mas Prof. Naim, apresiasi literasi belum seperti harapan, Magetan kemarin ada acara Gebyar literasi duta baca Indonesia. Pengunjung tudak baca buku hanya keliling keliling saja. Minat baca belum baik.

    BalasHapus
  13. Semoga bisa istiqamah seperti njenengan prof.... Terima kasih sangat bermanfaat.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.