Kisah Artikel Pertama

Februari 13, 2022


 

Ngainun Naim

 

Proses kepenulisan sesungguhnya merupakan proses panjang dan berkelanjutan. Secara implisit hal ini mengindikasikan adanya proses belajar. Ya, terus belajar dan belajar. Tidak ada kata berhenti karena begitu berhenti belajar maka proses kreatif juga akan melemah sampai kemudian mati.

Banyak penulis produktif pada sebuah masa tetapi kemudian perlahan nama mereka meredup lalu hilang. Bisa jadi mereka tetap menulis tetapi pindah media dan genre. Bisa juga mereka tidak lagi tertarik untuk menulis karena kurang menguntungkan secara materi. Bisa jadi juga karena tidak mampu lagi mengelola energi kreatifnya karena memang tidak lagi mau belajar.

Saya bukan penulis yang baik. Spirit menulis saya naik turun. Pada suatu waktu sangat bersemangat, namun di saat yang lain menurun. Saya kira ini alami dan dialami oleh banyak penulis. Jadi ya wajar saja.

Namun demikian saya sangat bersyukur karena saya bisa kembali bersemangat menulis. Sungguh ini merupakan anugerah hidup yang luar biasa. Bagi saya, menulis itu memberikan berkah hidup yang tidak terkira. Menulis bukan sekadar menuangkan ide di kepala ke layer komputer namun juga menentukan perjalanan hidup. Setidaknya itulah yang saya alami.

Beberapa waktu lalu saya sedang bongkar-bongkar arsip. Tetiba saya menemukan foto kopi artikel saya yang pertama kali dimuat di koran. Artikel dengan judul “Ketika Para Guru Mogok” itu dimuat di Koran Surya edisi 8 Oktober 1996. Saya merasa bahagia karena inilah artikel yang menjadi penanda bagi saya untuk mulai menekuni dunia menulis.

Mimpi untuk bisa menulis sesungguhnya mulai tumbuh saat saya duduk di bangku MTsN. Namun demikian sebagaimana hukum proses, saya baru mulai menemukan formula untuk menulis saat duduk di bangku kuliah. Secara formal saya tidak pernah belajar menulis di lembaga pendidikan tertentu atau kepada guru tertentu. Saya belajar lewat banyak kesempatan interaksi, membaca, mengamati, dan lewat berbagai komunitas.

Sebagaimana umumnya orang yang belajar menulis, kesulitan utama saya adalah memindahkan ide ke dalam tulisan. Zaman itu belum musim komputer. Masih zaman “kolonial” di mana karya tulis didominasi oleh mesin ketik. Jadi saya berlatih menulis di lembaran-lembaran bekas surat, bloknote, atau buku tulis.

Jangan dibayangkan satu tulisan selesai dalam sekian jam. Tidak, sama sekali tidak semacam itu. Satu artikel yang kalau diketik jadinya 3-4 halaman itu proses menulisnya bisa sebulan. Paling cepet dua minggu.

Konsep artikel yang suda ditulis tangan dipindahkan ke mesin ketik. Jangan dibayangkan saya memiliki mesin ketik. Sepanjang kuliah S-1 saya tidak memiliki mesin ketik. Jika harus mengetik, saya menunggu jam-jam di mana mesin ketik tidak digunakan. Kadang di kantor senat mahasiswa, sekretariat PMII, balai desa, atau tempat lain yang memungkinkan saya meminjam untuk mengetik.

Pernah saat masih mengetik setengah halaman mesin ketik sudah diminta yang punya karena akan segera dipakai. Pernah juga kamar kos dilempar kerikil oleh tetangga kamar gegara saya mengetik sudah larut malam. Saat itu pinjaman ketik memang dapatnya malam. Tidak ada pilihan, mengetik harus berlanjut tetapi tetangga kos tidak terganggu. Ketemu strateginya yaitu mengetik di atas bantal. Memang tidak mudah tetapi lumayan mengurangi bunyi. Namun dampaknya sungguh menyedihkan. Tidak sampai seminggu bantal kumal itu jebol berantakan.

Satu artikel selesai diketik. Saya pun segera membeli amplop, memasukkan naskah dan foto kopi KTP lalu pergi ke kantor pos. Doa dan harapan saya lambungkan ke langit. Harapannya satu: artikel dimuat.

Seminggu dua minggu tidak ada kabar. Saya pun kembali memompa semangat. Energi yang menipis saya coba kais kembali untuk membangun mimpi. Pelan-pelan mulai menulis lagi, meminjam mesin ketik, lalu mengirimkan tulisan ke redaksi. Begitu hingga berkali-kali.

Ternyata perjuangan untuk bisa menjadi penulis itu cukup panjang dan melelahkan. Pernah juga ada rasa putus asa. Namun entah energi dari mana, selalu saja ada dorongan untuk kembali mencoba. Hampir dua tahun saya belajar menulis dan mengirimkannya ke media tanpa ada kabar. Bukan ditolak, tapi tidak dimuat ha ha ha. Seingat saya tulisan yang saya kirim ke Harian Surya sudah 21 kali dan belum ada yang dimuat.

Suatu ketika di Surya saya membaca ada berita guru yang mogok mengajar. Entah ide dari mana, saya seperti mendapatkan pancaran gagasan. Saya pun segera mengolah ide yang ada ke tulisan. Saya bersemangat sekali meskipun kemungkinan untuk dimuat sangat tipis karena pengalaman yang ada memang belum satu pun artikel saya dimuat.

Perjuangan menulis, mengetik, dan mengirimkan ke koran selesai. Rasanya puas sekali. Saya memang belum yakin apakah akan dimuat tetapi setidaknya saya memiliki harapan. Ya, harapan untuk dimuat atau tidak dimuat. Saya sudah berusaha. Keputusan berikutnya ada di tangan redaksi dan takdir.

Awal tahun 1996 saya mutasi dari IAIN Surabaya ke IAIN Tulungagung. Meskipun sudah pulang ke Tulungagung yang akses informasi dan pengetahuan serba terbatas, saya tetap berusaha belajar menulis. Saya terus berjuang untuk bisa menjadi penulis yang namanya muncul di media massa. Sampai suatu hari tanggal 9 Oktober 1996 seorang kawan memberikan informasi bahwa artikel saya dimuat di Koran Surya. Ia mengetahuinya dari seorang familinya saat berada di Jombang. Ceritanya famili tersebut membaca Surya dan menemukan artikel dengan identitas penulis sebagai Mahasiswa IAIN Tulungagung.

Saya seperti kehilangan kesadaran. Segera saya menaiki sepeda pancal dari Plosokandang menuju agen-agen koran di kota. Tujuannya mencari Harian Surya edisi sehari sebelumnya. Satu demi satu agen bilang korannya habis atau stok tidak ada. Saya terus saja mengayuh sepeda menyusuri jalanan Tulungagung yang panas.

Rupanya nasib sedang baik. Di sebuah agen kecil yang ada di barat Hotel Narita saya mendapatkan koran yang saya cari. Segera koran saya buka, saya cari halaman opini, dan tertera di situ artikel yang saya buat plus nama dan identitas saya sebagai Mahasiswa IAIN Tulungagung.  

Jejak awal itu menjadi penanda saya menekuni dunia literasi sampai sekarang ini. Memang sekarang saya sudah jarang menulis di media massa cetak atau online, tetapi saya tetap menulis. Ya, menulis adalah dunia yang akan terus saya tekuni semampu saya karena ada begitu banyak berkah di dalamnya. Amin.

 

Trenggalek, 12-13 Februari 2022

30 komentar:

  1. luar biasa perjuangannya, izinkan saya belajar pada bapak.

    BalasHapus
  2. Cukup menginspirasi, bagi kami penulis pemula

    BalasHapus
  3. Kisah perjuangan yang luar biasa dan inspiratif Prof Ngainun Naim. Klo saya belum pernah menulis untuk surat kabar. Dulu mengawali menulis waktu kuliah S1 untuk ikut lomba-lomba karya tulis ilmiah. Setiap dapat info ada lomba karya tulis, langsung semangat buat artikel. Ada yang gagal dan ada juga yang dapat juara. Hingga di kemudian hari bergeser ke menulis buku pelajaran, tapi juga untuk ikut lomba. Alhamdulillah pernah juara 1 lomba penulisan buku pelajaran kimia di Kemenag RI dan dapat hadiah uang hampir seratus juta yg kemudian saya belikan rumah yg sekarang saya tempati.

    BalasHapus
  4. Keren prof... begitulah hidup ya, prof. Butuh proses. 🙏🙏🙏🙏👍👍👍👍

    BalasHapus
  5. Semangatnya semoga terus membara dan dapat diwariskan pada generasi muda.

    BalasHapus
  6. Betul-betul butuh perjuangan. Salut, Prof.

    BalasHapus
  7. Salut atas perjuangan Bapak. Mesin tik pinjam, meredam suara samali bantal jebol ... begitulah nasib di zaman dahulu. Ingat cerita tentang mesin tik, saya mengetik skripsi dengan mesin tik, salah sedikit saja mengetik ulang dari awal, melelahkan, tapi saya lihat haislnya sekarang, kok rapinya sama dengan ketiksn komputer, sepertinya tidak peecaya kalau saya dulu bisa seperti itu. He ... he ... Alhmdulillah anak-anak sekarang fasilitasnya sudah canggih, semoga semangat mereka juga canggih.

    BalasHapus
  8. Dan sekarang media yang mencari, superrr

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah, terimakasih sangat ya Bapak catatan inspiratirnya. Semoga tidak lelah berjuang dan istikamah. Amin.

    BalasHapus
  10. Luar biasa,👍👍👍👍

    BalasHapus
  11. Belajar banyak dari provinsi semoga saya juga bisa menjadi penulis seperti prov

    BalasHapus
  12. Perjuangan menulis yang luar biasa, akhirnya sekarang tinggal .emetik buahnya

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.