Mbah Toha, Olahraga, Air Putih, dan Kesehatan

Mei 16, 2022


 

Ngainun Naim

 

Saya bukan orang yang bergelut dalam bidang kesehatan. Profesi saya tidak berkaitan dengan kesehatan atau medis. Isi tulisan ini juga bukan ilmiah yang teruji secara akademis. Tulisan ini hanyalah rekaman pengalaman silaturrahim yang semoga bisa memberikan manfaat, khususnya buat saya.

Tulisan ini berkisah tentang seorang famili. Versi lain tulisan ini dimuat di: https://thr.kompasiana.com/ngainun-naim.berbagi/6282623dbb44866d516e6a72/mbah-toha-olahraga-air-putih-dan-kesehatan. Tujuannya adalah agar tulisan ini bisa dibaca oleh banyak orang karena segmen pembaca web ini dan Kompasiana secara umum tidak sama.

Rumahnya sekian ratus meter dari rumah orang tua saya. Saya memanggil beliau dengan Mbah Toha karena posisinya yang secara geneaologis lebih muda dibandingkan Mbah saya, meskipun secara usia lebih muda dari Bapak saya.

Kini usia beliau kisaran 72 atau 73 tahun. Saya hanya memperkirakan berdasarkan ingatan berinteraksi dengan beliau. Fisik beliau masih terlihat bugar untuk orang seusianya. Bicaranya juga masih tegas seperti saat usia muda dulu.

Lama sekali saya tidak bertemu beliau. Pandemi menjadi salah satu alasan. Alasan lainnya ya karena tempat tinggal saya sekarang beda kabupaten dengan beliau sehingga intensitas dan kesempatan bertemu semakin jarang.

Dulu saat masih sekolah saya nyaris setiap hari ke rumah beliau. Selain karena faktor famili, juga karena ada dua hal yang memantik saya ke rumah beliau: tenes meja dan koran Karya Darma.

Tenes meja merupakan olah raga yang saya sukai. Selain biayanya murah, olah raga ini cukup menggembirakan. Di halaman rumah Mbah Toha ada meja tenes yang siap dipakai saat sore menjelang. Saya biasanya datang bersama satu atau beberapa teman yang kemudian menjadi lawan tanding. Biasanya teman-teman yang menang dan seringkali saya yang kalah ha ha ha.

Koran Karya Darma biasanya saya baca usai bermain tenes meja. Orang tua saya tidak (mampu) untuk berlangganan koran. Demi memuaskan minat baca yang mulai tumbuh, saya sering—nyaris tiap hari—berkunjung ke rumah Mbah Toha. Beliau berlangganan Karya Darma. Dalam perkembangannya, ketika saya mulai merintis karir sebagai penulis, koran ini menjadi “medan kompetisi”. Puluhan artikel saya berhasil terbit. Saya terus menulis dan mengirimkan artikel atau resensi buku ke koran ini sampai akhirnya koran yang terbit di Surabaya ini gulung tikar.

 

Rajin Olahraga

Mbah Toha rajin berolahraga sejak usia muda sampai sekarang. Dulu beliau sering bermain tenes meja dengan saya. Tentu saja saya tidak berusaha menang, meskipun kalau berusaha mungkin juga tidak akan menang. Saya tahu dirilah he he he.

Ketika dulu Bapak saya masih sehat, beliau berdua sering olah raga naik sepeda berdua. Rupanya ada kesamaan antara Bapak saya dan Mbah Toha, yaitu lebih suka naik sepeda berdua saja. Tidak ikut grup. Katanya pada suatu ketika, ikut grup itu ada bahayanya. Jika fisik sudah lelah idealnya berhenti. Ya, berhenti untuk beristirahat. Jangan sampai dipaksa untuk terus mengayuh sepeda saat fisik sudah lelah.

Jika ikut grup, biasanya ada gengsinya. Kawan yang sesungguhnya sudah lelah akan memaksakan diri untuk terus bersama mengayuh. Biasanya malu atau gengsi. Kadang juga di-bully oleh kawan yang lainnya kalau berhenti.

Ini jelas berbahaya. Kita acapkali membaca di media atau mendengar cerita tentang bagaimana seseorang meninggal dunia saat olah raga bersepeda atau setelah olahraga bersepeda. Fisik manusia memiliki keterbatasan. Ketika dipaksakan, tentu berbahaya bagi kesehatan.

Bapak saya dan Mbah Toha usianya terpaut beberapa tahun. Asumsi saya terpaut sekitar 6-7 tahun. Bapak lebih tua. Namun beliau berdua cukup akrab. Secara nasab Mbah Toha jelas lebih tua, meskipun secara usia lebih muda dari Bapak.

Kini, Bapak saya sudah berpulang menghadap Allah. Mbah Toha alhamdulillah masih segar bugar. Beliau masih rajin berolahraga. Tentu olahraganya disesuaikan dengan usia beliau. Beliau tidak lagi berolahraga berat seperti saat muda dulu. Olah raga yang kini dilakukan bertujuan menjaga kebugaran agar tubuh tetap segar dan sehat.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari istri beliau saat silaturrahmi pada idul fitri lalu, Mbah Toha kini sering berolahraga jalan kaki. Tidak di sekitar rumah tetapi di persawahan di lereng bukit yang lokasinya sekitar 3 kilo dari rumah. Beliau mengendarai sepeda motor menuju lokasi. Setelah diparkir beliau segera jalan cepat. Kadang satu jam, kadang lebih. Tergantung kondisi.

 

Minum Air Putih

Bagi orang-orang yang seusia, beliau termasuk sehat wal-afiat. Tidak ada keluhan penyakit yang berarti. Beberapa teman seangkatan beliau sudah berpulang atau sakit-sakitan. Memang soal usia itu menjadi rahasia dan takdir Allah SWT. Namun demikian sebagai manusia kita seharusnya berusaha untuk merawat kesehatan secara baik. Gaya hidup sehat sebaiknya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Saya tidak tahu persis tentang gaya hidup Mbah Toha. Informasi dari Mbah Bat—istri beliau—bahwa Mbah Toha itu sangat suka minum air putih. Sehari bisa lebih dari target minimal 2 liter sebagaimana disarankan para pakar kesehatan. Kebiasaan minum kopi atau teh sudah lama beliau tinggalkan. Gaya hidup sehat ini tampaknya menjadi salah satu faktor yang membuat beliau tetap sehat sampai sekarang.

 

Trenggalek, 7-4-2022

4 komentar:

  1. Pengalaman yang menarik Prof. Sangat sependapat, bila olah raga tetap penting di usia tua sekalipun. Tinggal menyesuaikan kemampuan fisik dan jenis olah raganya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Pri yang sudah membaca dan meninggalkan jejak

      Hapus
  2. Fuad Munajat IAIN Kudus23 Mei 2022 03.39

    Salam Prof. Naim
    Alhamdulillah, saya senang sekali bisa membaca blog ini setelah dapat alamatnya saat FGD di Salatiga, kemarin.
    Betul sekali, yang ditulis di sini dan sering diabaikan sebagian besar dosen yang kerjanya duduk di belakang meja. Kesehatan adalah energi kehidupan seperti pertalite dan pertamax buat sepeda motor. Mudah-mudahan saya bisa berolahraga dan menjaga pola hidup sehat dan juga mulai "meluangkan waktu" untuk menulis. Mohon doanya Prof......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam. Terima kasih Pak Fuad berkenan membaca catatan sederhana ini.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.