Perjalanan, Buku, dan Membukukan Perjalanan

Juli 11, 2022

Buku catatan perjalanan
 

Ngainun Naim

 

Dulu saya sangat kagum dengan orang yang memiliki mobilitas sangat tinggi. Aktivitasnya padat merayap. Dalam sehari bisa berpindah tempat acara dua sampai tiga kali. Kehadirannya sangat diperlukan oleh banyak orang.

Tidak semua orang bisa semacam ini. Jumlah orang yang memiliki mobilitas tinggi karena kompetensi yang diakui hanya sebagian kecil saja. Mereka bisa mencapai kondisi semacam itu karena sebelumnya telah mengasah diri sampai memiliki kompetensi diri yang memadai.

Saya orang yang menyukai belajar. Sejauh yang saya yakini, belajar adalah cara efektif untuk menjadi orang yang terus mengasah diri. Tanpa belajar kita akan menjadi orang yang beku. Kita akan menjadi orang yang merasa sudah tahu. Padahal sesungguhnya tidak banyak yang kita ketahui.

Belajar bisa dilakukan lewat banyak cara. Bisa lewat lembaga pendidikan formal, kursus, lewat media sosial, atau dengan membaca buku. Lewat cara apa pun muaranya adalah menjadi orang yang terus berproses untuk menjadi lebih berkualitas.

 

Membaca Saat Perjalanan

Saat perjalanan tidak selalu indah seperti bayangan. Pada perjalanan yang cukup jauh, rasa jenuh kerap mendera. Rasanya tujuan tidak segera sampai.

Pada kondisi semacam ini membaca buku menjadi kegiatan yang penting untuk dipertimbangkan. Lewat membaca maka setidaknya ada dua manfaat yang bisa diperoleh, yaitu pengetahuan bertambah dan kejenuhan teratasi. Tentu dibutuhkan kesiapan diri untuk memanfaatkan waktu dengan membaca.

Bisa jadi waktu tersedia tetapi tidak ada hasrat untuk membaca. Bisa juga waktu ada,  hasrat ada tetapi tidak membawa bahan untuk dibaca. Aktivitas membaca sesungguhnya berkaitan dengan banyak faktor yang saling berkait-kelindan.

Faktor yang penting agar bisa membaca saat perjalanan adalah menyediakan buku untuk dibaca. Pilih saja buku ringan. Membaca saat perjalanan jangan sampai menambah beban pikiran. Akibatnya, beban hidup semakin berat.

 

Menuliskan Perjalanan

Perjalanan memberikan pengalaman hidup yang sangat berharga. Selama perjalanan tersedia banyak aspek yang bisa ditulis. Menulis pengalaman perjalanan adalah upaya untuk mengabadikan pesan dan pengalaman.

Gambar itu penting tetapi sifatnya personal. Jangankan orang lain, kita sendiri bisa lupa konteks waktu dan peristiwa dari gambar. Tentu berbeda dengan gambar dan cerita. Keduanya bisa melengkapi.

Kemampuan menulis pengalaman perjalanan tidak akan muncul begitu saja. Dibutuhkan banyak faktor pendukung. Salah satunya adalah kebiasaan membaca.

Membaca itu memperkaya khazanah pemikiran. Ketika seseorang menulis, khazanah bacaannya akan ikut memproduksi ide dan kalimat. Begitu seterusnya sampai sebuah tulisan selesai. Oh ya, tulisan pendek ini merupakan akumulasi dari kebiasaan membaca, menulis, dan melakukan perjalanan.

 

Tulungagung, 11 Juli 2022

14 komentar:

  1. Mantap prof.. Sangat menginspirasi

    BalasHapus
  2. Terima kasih Prof. Ngainun yg terus menginsirasi.

    BalasHapus
  3. Mencerahkan kan. Terima kasih Prof

    BalasHapus
  4. Perjalanan merupakan bagian dari sejarah ya Prof. Namun jika tidak diabadikan dalam tulisan, apa artinya?

    BalasHapus
  5. Bagus tulisannya pak, sangat menginspirasi

    BalasHapus
  6. Poin yang paling saya suka. Harus terus belajar agar tidak menjadi orang yang beku

    BalasHapus
  7. Sangat menginspirasi buat saya, bapak dosen🙏

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.