Membaca, Berproses, dan Menghormati Waktu

November 23, 2022


 

Ngainun Naim

 

Manusia yang baik itu memiliki pengetahuan, kesadaran, dan tindakan positif dalam hidupnya. Ia terus berusaha memperbaiki hidupnya dari waktu ke waktu.

Pengetahuan akan terus bertambah dengan membaca, berdiskusi, dan mengasah diri secara terus-menerus. Jangan sampai ada kata berhenti belajar sepanjang masih hidup. Berhenti menandakan adanya kesombongan dalam diri karena merasa sudah cukup. Belajar dan terus belajar menunjukkan adanya rasa belum cukup sehingga harus terus menambah asupan pengetahuan dalam dirinya.

Pengetahuan itu penting artinya tetapi sifatnya pasif. Ia bisa diibaratkan sebagai potensi. Ia akan memiliki makna jika diubah menjadi kesadaran. Perpaduan antara pengetahuan dan kesadaran pada akhirnya menjadi energi yang bisa digunakan untuk transformasi diri. Ya, energi untuk merubah diri menjadi manusia yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Inilah yang disebut dengan tindakan positif. Sebuah tindakan yang lahir karena dimilikinya pengetahuan dan kesadaran. Tindakan semacam ini yang bisa merubah diri menjadi lebih baik.

Membaca merupakan salah satu sumber penting belajar. Riset-riset yang ada menyebutkan bahwa membaca bukan sekadar bermanfaat dalam menambah pengetahuanseseorang  tetapi juga menjadi modal untuk lahirnya kesadaran diri. Akumulasi bacaan yang banyak membuka kotak pandora seseorang untuk menerima banyak khazanah pengetahuan dalam dirinya. Membaca adalah sarana penting untuk menambah pengetahuan, meningkatkan kesadaran, dan akhirnya menjadi energi gerak dalam hidup.

Saya kira tidak ada yang meragukan manfaat membaca, namun kita juga nyaris sepakat bahwa minat membaca masyarakat kita memang memprihatinkan. Membaca masih jauh dari kata “menjadi budaya” masyarakat Indonesia. Bahkan ada kesan bahwa membaca itu aktivitas elit. Hanya kaum terdidik saja yang pantas melakukannya.

Tentu kesan semacam ini tidak tepat. Membaca itu aktivitas lintas batas. Semuanya bisa melakukannya. Profesi apa pun akan semakin berkualitas jika diiringi dengan aktivitas membaca.

Saya sendiri menyukai aktivitas membaca meskipun tidak bisa melakukannya secara maksimal. Ada banyak alasannya. Intinya ya masih membaca setiap hari walaupun hanya beberapa halaman saja. Jika libur, nafsu membaca lumayan tersalurkan.

 

Koleksi Bertambah, Tapi Tidak Dibaca Tuntas

Kebiasaan membaca saya memiliki relasi erat dengan kebiasaan membeli buku. Saya membeli buku secara offline atau online. Jika bepergian ke sebuah kota, toko buku menjadi salah satu destinasi. Rasanya mengunjungi toko buku dan membeli, walaupun mungkin hanya sebuah buku, memberikan sensasi tersendiri.

Kebiasaan membeli buku ini berlangsung sudah cukup lama. Sejauh ingatan, saya mulai berjuang untuk membeli buku itu saat semester 1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1994. Saya sebut berjuang karena kala itu untuk bisa membeli sebuah buku sederhana saja saya harus menabung. Itu berarti juga mengurangi jatah makan. Jadi sungguh perjuangan dalam makna yang sesungguhnya (buat saya).

Kebiasaan membeli buku terus berlangsung sampai sekarang. Kadang sengaja pergi ke toko buku, kadang mampir karena sedang ke sebuah kota. Jujur kini saya sedih karena banyak toko buku gulung tikar. Gilasan zaman digital tampaknya membawa banyak korban. Salah satunya toko buku.

Seiring perkembangan zaman, alokasi waktu untuk membaca justru semakin berkurang. Padahal jumlah buku tidak berkurang. Justru terus bertambah. Kesibukan demi kesibukan terus menggerus peluang untuk membaca sampai tuntas. Jumlah buku yang dibeli dan jumlah buku yang dibaca tidak seimbang.

Koleksi buku yang saya miliki jumlahnya, menurut saya, lumayan banyak. Beberapa rak buku memenuhi bagian demi bagian rumah. Namun dari sekian ribu buku yang saya miliki, hanya sebagian kecil saja yang saya sudah membacanya sampai tuntas. Sisanya hanya sekadar berjejer gagah di rak-rak rumah. Buku demi buku itu baru saya baca karena ada kepentingan tertentu, misalnya untuk kepentingan menulis atau ceramah.

Satu sisi ini merupakan kebahagiaan dan kebanggaan. Kebahagiaan karena memiliki buku merupakan bagian dari mimpi saya sejak muda. Kebanggaan karena orang yang memiliki koleksi buku dalam jumlah tertentu terbatas jumlahnya. Bayangkan, saat banyak orang ingin memiliki koleksi buku, saya sudah memilikinya. Jadi ini merupakan anugerah hidup yang harus saya syukuri.

Sesungguhnya saya memiliki impian untuk membaca sampai tuntas satu demi satu buku yang saya miliki. Saya bayangkan betapa indahnya dan betapa saya akan mendapatkan wawasan yang sangat luas. Namun saya segera sadar bahwa kecil kemungkinannya saya bisa membaca sampai tamat semua buku yang saya miliki. Bagaimana mungkin bisa tamat jika buku lama saja belum selesai dibaca sudah datang buku-buku baru?

Saya tetiba teringat nasihat dosen saya saat kuliah dulu. Beliau menjelaskan bahwa memiliki buku itu sangat penting. Sebuah buku belum tentu dicetak ulang. Kadang penerbitnya sudah gulung tikar. Jadi di sinilah memiliki buku menjadi kebutuhan penting. Soal kapan membaca, tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kesempatan. Saat kebutuhan dan kesempatan datang, sebuah buku pasti akan dibaca.

Saya beberapa kali membuktikan kebenaran nasihat beliau. Suatu ketika saya diminta mengisi sebuah kegiatan. Tentu saya belajar keras. Buku-buku yang ada saya cek. Beruntung saya memiliki dua buku lama yang saya beli puluhan tahun lalu. Buku ini saya cermati, baca, dan tandai. Saat menulis makalah, buku ini sungguh sangat membantu.

Belajar ke Pak Quraish Shihab

Bagi umat Muslim Indonesia, khususnya kalangan pelajar, nama Prof. Dr. M. Quraish Shihab tentu bukan nama yang asing. Ahli tafsir Indonesia ini aktif menulis buku, mengajar, dan mengisi ceramah di banyak tempat. Produktivitasnya jarang ada yang menandingi. Buku demi buku terus saja lahir seolah tanpa jeda. Padahal usia beliau sudah tidak muda lagi.

Ketidaktahuan saya tentang pakar tafsir Indonesia tersebut tertolong oleh sebuah buku tebal karya Mauluddin Anwar, Latief Siregar, dan Hadi Mustofa. Buku dengan judul Cahaya, Cinta, dan Canda M. Quraish Shihab ini tebalnya 340 halaman. Tentu ini bukan buku yang tipis. Saya membutuhkan waktu sekitar seminggu untuk menuntaskan buku terbitan Lentera Hati Jakarta tahun 2015 ini.

Buku ini bukan buku ilmiah. Ini buku sederhana yang berkisah tentang sisi kemanusiaan Pak Quraish, namun untuk menuntaskannya tetap saja membutuhkan waktu yang lama. Persoalannya ada dua, yaitu waktu dan cara membaca. Waktu yang saya miliki cukup terbatas. Saya hanya membaca di sela-sela kegiatan yang lumayan padat merayat. Cara membaca saya juga membuat lama menyelesaikannya. Buku semacam ini biasanya saya baca dari awal sampai akhir. Makanya waktunya lama.

Dari buku ini saya mendapatkan informasi yang sangat penting, yaitu tentang pentingnya pendidikan. Jika kini Pak Quraish dikenal sebagai ilmuwan yang mumpuni dalam bidang tafsir maka hal itu tidak bisa dilepaskan dari peranan penting orang tuanya. Ayah Pak Quraish, Prof. Abdurrahman Shihab, memiliki perhatian khusus pada pendidikan anak-anaknya. Perhatian ini diwujudkan dalam ikhtiarnya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Beliau mendidik dengan disiplin anak-anaknya. Begitu pentingnya pendidikan sampai diibaratkan jika terpaksa harus menjual gigi pun akan dilakukan oleh orang tua Pak Quraish demi keberlangsungan pendidikan anak-anaknya(12).

Sungguh komitmen yang sangat tinggi dari orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Komitmen itu diwujudkan secara nyata dalam mendidik semua anaknya. Namanya anak tidak selalu sesuai dengan harapan orang tua. Kadang mereka juga melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan harapan orang tua. Pada kondisi semacam ini, Ibu Pak Quraish tidak mengutuk anak-anaknya, melainkan mendoakan semoga Allah memberinya petunjuk (24).

Didikan orang tua memiliki pengaruh sangat besar terhadap diri Pak Quraish. Hasil didikan itu dijadikan dasar ketika beliau mendidik kelima orang anaknya. Sebagaimana orang tuanya, Pak Quraish sangat disiplin dalam urusan ibadah dan belajar. Bagi Pak Quraish, dua hal ini menjadi landasan hidup yang harus dipegang secara teguh. Tentang apa keinginan anak, Pak Quraish tidak mematok secara kaku. Beliau merupakan seorang ayah yang demokratis. Tugas orang tua, menurut beliau, adalah mengarahkan, mendiskusikan, dan memberikan dukungan terhadap pilihan yang baik. Ketika sebuah pilihan sudah diambil maka yang dilakukan selanjutnya adalah ikhtiar lahir dan batin demi suksesnya pilihan tersebut (131).

 

Menghormati Waktu

Usia bukan hambatan bagi Pak Quraish untuk berkarya. Sejauh ini saya tidak banyak mengetahui bagaimana beliau bisa menghasilkan karya. Juga bagaimana beliau menjalani kehidupannya.

Lewat buku ini saya belajar tentang pentingnya menghormati waktu. Menulis bagi Pak Quraish bukan sekadar menuangkan ide, gagasan, dan pemikiran saja. Lebih dari itu, ada aspek penting yang menjadi dasar dari aktivitas menulis, yaitu menghormati waktu.

Saya tertegun membaca bagian yang berkaitan dengan menghormati waktu ini. Jujur saya bukan orang yang bisa memanfaatkan waktu secara baik. Aktivitas sehari-hari saya ya biasa saja. Sering juga waktu berlalu begitu saja tanpa aktivitas yang bermanfaat. Padahal waktu yang telah berlalu tidak akan bisa kembali. Ia akan terus pergi tanpa ada yang bisa menghalangi. Justru kita yang ditinggalkan yang tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu.

Lewat buku ini, dan hanya dalam satu paragraf kecil, saya menemukan “lentera”. Saya tertampar dan tertantang. Tertampar karena acapkali kurang menyadari makna penting waktu. Tertantang karena saya harus meneladani Pak Quraish Shihab, meskipun saya pasti hanya “remah rengginang” yang kurang bermakna di hadapan tokoh besar tersebut. Namun demikian saya akan mencoba sebatas kemampuan untuk meneladani sisi-sisi positif beliau. Semoga.

 

Tulungagung, 22-23 November 2022

 

 

28 komentar:

  1. Terima kasih untuk inspirasinya Prof Ngainun. Hal yang sama juga saya alami, koleksi buku terus bertambah tapi buku yang dibaca tidak bertambah signifikan.

    BalasHapus
  2. Tamparan dan tantangan yang inspiratif prof

    BalasHapus
  3. Betul, Prof. Sy sdh mengalamix. Koleksi bertambah tp bacaan tdk pernah tuntas.

    BalasHapus
  4. Terima kasih ilmunya pak prof. Semoga sehat dan sukses selalu. Aamiin 🤲

    BalasHapus
  5. Yang penting, koleksi bertambah dulu, smabil membaca sesuai waktu yang dimiliki, di samping proses kreatif yang lain.

    BalasHapus
  6. Says suka yang ini "Perpaduan antara pengetahuan dan kesadaran pada akhirnya menjadi energi yang bisa digunakan untuk transformasi diri. Ya, energi untuk merubah diri menjadi manusia yang semakin baik dari waktu ke waktu."

    BalasHapus
  7. Terimakasih untuk tulisan yang bermanfaat ini Prof🙏. Khususnya bagaimana setiap insan menghormati waktu untk diisi hal2 yang positif.

    BalasHapus
  8. Makasih Prof.. Yang masih saya lakukan membeli namun belum membacanya... Baru suka hobi membeli saja...

    BalasHapus
  9. mari kita kelola waktu dengan baik agar mampu berkarya seperti bapak KH. Qurais shihab.

    BalasHapus
  10. Kalau Prof Ngainun ini remah rengginang...aku apa ya??🤦🤦 Terimakasih, Prof. Ikut tertampar dan tertantang 💪💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak Penyuluh. Temannya remah rengginanglah he he he

      Hapus
  11. Tulisan yang selalu memberikan inspirasi
    Prof.memang luar bias👍👍

    BalasHapus
  12. Terima kasih memberikan pemantik yang luar biasa, Prof.

    BalasHapus
  13. alhamdulillah, terimakasih prof, saya jadi malu karena masih banyak waktu saya yang tersia-sia hingga lupa untuk membaca. Semoga tulisan prof selalu hadir untuk mengingatkan saya yang sering alpha ini

    BalasHapus
  14. Harus menghormati waktu. Ini perlu latihan terus-menerus

    BalasHapus
  15. Terimakasih tulisan indahnya prof. Sebagai anak muda, saya sgt tertampar dgn ketekunan prof dalam dunia literasi. Semoga bisa menjadi motivasi. Sehat selalu prof.

    BalasHapus
  16. Terkadang saya menghibur diri saat tidak sempat membaca buku dengan alasan, membaca artikel di grup WA sudah termasuk membaca. Hehe....

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.