Menulis Sebagai Klangenan

Desember 06, 2022


 

Ngainun Naim

 

Saya menulis catatan ringan semacam ini didasari oleh rasa suka. Pokoknya kalau sudah menulis, saya rasanya seperti menemukan kebahagiaan. Ini bisa saya rasakan, tetapi sulit untuk dijelaskan.

Tulisan sejenis ini saya buat nyaris setiap hari. Saya menulisnya di sela-sela kesibukan yang padat. Tidak banyak. Paling 3-4 paragraf. Rata-rata ya hanya satu halaman. Namun saya melakukannya dengan sepenuh jiwa.

Karena hanya beberapa paragraf, satu tulisan bisa selesai dalam beberapa hari. Bisa dua hari, bisa juga satu minggu, tergantung kondisi.

Ketika kesibukan begitu padat, ketika persoalan sedemikian pelik, menulis catatan ringan adalah oase. Ia bisa mengobati dahaga yang tak terlukiskan. Menulis seolah mengajak rekreasi keluar dari segenap persoalan yang sedang mendera.

Bukan berarti persoalan selesai. Tentu tidak. Persoalan akan tetap persoalan sepanjang tidak diselesaikan. Persoalan akan selesai ketika memang dicarikan jalan keluar.

Namun paling tidak, secara psikologis, menulis itu meredakan ketegangan. Menulis memberikan sensasi untuk sejenak melupakan persoalan. Diri yang terhibur bisa memberikan perspektif berbeda terhadap masalah.

Itulah salah satu alasan kenapa saya terus menulis catatan semacam ini. Apakah saya tidak menulis ilmiah yang sarat catatan kaki? Tentu saja tetap. Itu bagian dari tugas pokok saya sebagai seorang dosen. Jadi ya tetap saja menulis.

Sebagai seorang dosen dengan jabatan tertentu, saya harus rutin menghasilkan karya tulis dalam bentuk buku atau artikel jurnal. Tentu ini bukan pekerjaan ringan. Namun sepanjang dilakukan secara baik, Insyallah semua akan berjalan sesuai harapan. Persoalan ada yang kurang atau berbeda dengan harapan, itu sesungguhnya hal yang biasa dalam hidup.

Kunci pentingnya adalah komitmen. Tanpa komitmen, tidak akan ada hasil. Komitmen bukan hanya ucapan lisan tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan. Komitmen menulis berarti tetap harus menulis setiap hari. Bukan soal sedikit atau banyak, tetapi soal bagaimana memegang komitmen dan mewujudkannya, berapa pun yang mampu dihasilkan.

Banyak orang yang memiliki semangat tinggi untuk menulis tetapi rendah komitmen dirinya. Saat ikut pelatihan menulis, misalnya, semangatnya menggebu-nggebu. Ia membayangkan dirinya bisa menulis dengan mudah. Ia kadang tidak bepikir bahwa menulis itu prosesnya Panjang dan acapkali melelahkan.

Ketika acara selesai dan kembali ke kehidupan yang sesungguhnya, semangat menurun dan komitmen hilang. Bisa menulis tinggal mimpi. Setidaknya pernah memiliki cita-cita untuk menjadi penulis.

Realitas ini tentu kurang bagus namun tetap perlu diapresiasi. Sangat mungkin mereka yang masuk kelompok ini memang menghadapi persoalan yang sulit diungkapkan jika harus menulis. Bisa jadi persoalan yang sifatnya substantif, bisa juga persoalan yang sifatnya teknis.

Secara intrinsik sesungguhnya kelompok semacam ini memiliki potensi untuk menumbuhkembangkan budaya menulis. Jika mendapatkan kesempatan dan lingkungan yang mendukung, sangat mungkin mereka yang berada dalam kondisi semacam ini menjadi penulis yang tangguh. Dalam beberapa kasus, saya menemukan kawan yang potensi menulisnya baru terasah secara luar biasa ketika menemukan faktor pendukung yang memadai.

Saya sendiri terus belajar tentang menulis. Selain membaca dan melakukan analisis tulisan demi tulisan, saya belajar menulis dengan terus menulis. Sepanjang mampu saya akan terus menulis. Saya meyakini menulis itu memiliki banyak sekali manfaat, khususnya buat saya sendiri. Justru karena itulah saya akan terus menulis. Semoga diberikan kemampuan untuk melaksanakannya.

 

Tulungagung, 6-12-2022

14 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.