Tetap Produktif Menulis Saat Sakit

Januari 16, 2023

Foto diambil dari FB Pak Agung Nugroho
 

Ngainun Naim

 

Ngaji kitab kuning model pondok pesantren sekarang ini semakin terbuka diikuti oleh masyarakat luas. Jika dulu ngaji kitab kuning itu eksklusif mereka yang tinggal di pondok pesantren atau tinggal di lokasi yang memungkinkan untuk hadir secara fisik, kini kesempatan ngaji tidak harus secara fisik. Banyak kiai yang mengaji kitab kuning direkam dan disebarkan via YouTube, facebook, instagram, dan media sosial lainnya.

Tentu ini fenomena yang bagus sekali. Masyarakat bisa belajar ngaji saat memiliki kesempatan. Bisa jadi saat istirahat, malam menjelang tidur, atau saat-saat lain yang memungkinkan. Jadi tidak harus datang ke lokasi ngaji secara langsung.

Ada KH Mustofa Bisri, KH Marzuki Mustamar, KHM Nurul Huda, dan banyak lagi lainnya. Tidak susah mencarinya di media sosial. Tinggal ketik kata kunci dan telusuri.

Jika memang berminat mengaji, beli kitab kuningnya. Ikuti pengajiannya. Simak, catat, dan renungkan pengajian yang diikuti agar hidup semakin berarti.

Salah seorang kiai yang saya ikuti pengajiannya adalah KHM Nurul Huda, Pengasuh PP A-Taslim Demak. Di channel YouTube beliau, ada banyak kitab yang beliau baca. Salah satunya adalah Tafsir Jalalain. https://www.youtube.com/watch?v=y2eNL51XfQc.

Saat ngaji Tafsir Jalalain di YouTube beliau menjelaskan bahwa kita ini harus memperbanyak bersyukur. Ada begitu banyak nikmat yang acapkali kurang atau bahkan tidak kita perhatikan. Padahal nikmat itu adalah anugerah hidup yang luar biasa.

Saya terdiam. Kalimat ini terlihat sederhana namun anehnya bagi saya rasanya kok nendang banget. Bersyukur itu begitu mudah untuk diucapkan namun rasanya berat sekali untuk dijalankan.

KHM Nurul Huda dawuh bahwasanya segala sesuatu yang diberikan oleh Allah itu harus disyukuri. Bisa ngaji itu harus disyukuri. Tidak semua orang bisa dan sempat. Karena itu wujud rasa syukur itu adalah dengan istiqamah mengaji.

Setelah saya renungkan, bisa menulis itu juga merupakan anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Banyak orang yang sangat pandai tetapi tidak memiliki kesempatan menulis. Banyak orang yang ingin menulis tetapi berhenti sebatas sebagai keinginan. Bisa menulis, karena itu, harus disyukuri dengan menulis.

Kesehatan itu juga anugerah hidup yang harus disyukuri. Nikmat sehat itu sungguh luar biasa. Saat sehat seharusnya waktu dimanfaatkan sebaik mungkin dengan melakukan berbagai kebajikan.

Ada sangat banyak kebajikan yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan silaturrahim. Hadis Nabi jelas menyebut manfaat silaturrahim ini, di antaranya menambah rezeki dan memperpanjang umur.

Saya sendiri bukan orang yang ahli silaturrahim. Hanya berusaha memanfaatkan kesempatan yang memungkinkan untuk silaturrahim. Itu pun tidak selalu. Hanya kadang-kadang saja jika keadaan memungkinkan.

 Menjenguk Pak Agung Nugroho

Saat ada kegiatan di Solo pada 12 Januari 2023 saya bertekad untuk silaturrahim. Di rencana saya selama kegiatan saya akan berusaha menuju rumah tiga orang teman dengan naik ojek online. Pokoknya datang, ketemu sebentar, lalu pamit. Bisa ketemu itu sudah merupakan anugerah.

Manusia berencana, Allah yang menentukan. Rencana silaturrahim hanya berhasil ke satu orang saja, yaitu Pak Agung Nugroho Catur Saputro. Beliau sahabat baik di komunitas menulis Sahabat Pena Kita. Saat ini beliau sedang proses penyembuhan sakit Fistula Ani.

Saya datang bersama Prof. Dr. Syamsun Ni'am, M.Ag. Kebetulan ada waktu luang. Rumah Pak Agung berjarak sekitar enam kilo dari lokasi kegiatan yang saya ikuti.

Tidak sulit mencari rumah Pak Agung yang merupakan dosen di UNS Surakarta tersebut. Taksi online berhenti tepat di depan rumah Pak Agung. Istri Pak Agung langsung membukakan pagar begitu kami datang.

Pak Agung Nugroho masih berbaring lemas di dipan. Saya dan Cak Ni'am langsung menghampiri beliau. Kami pun berbincang hangat tentang banyak hal.

Saya dan Cak Ni'am menyemangati dan mendoakan agar Pak Agung Nugroho segera pulih. Tidak ada yang ingin sakit. Namun saat harus menerima takdir sakit, semua harus dijalani dengan sabar.

Pak Agung Nugroho merupakan dosen yang cukup produktif dalam menulis. Sitasinya di goohlescholar cukup banyak. Saat saya cek, kutipannya sangat banyak: 1802. Jumlah ini menunjukkan bahwa Pak Agung Nugroho rajin menulis dan karyanya banyak dikutip. Perpaduan yang pas.

Waktu terbatas membuat kami berdua tidak bisa berlama-lama. Saat pamit Pak Agung Nugroho memberikan kenangan dua buah buku karya beliau. Judulnya Spiritualisme Lapar dalam Ibadah Puasa, Mencari Mutiara Hikmah di Balik Kemuliaan Bulan Ramadan (Yogyakarta: KBM, 2023) dan buku dengan judul Berpikir untuk Pendidikan (Yogyakarta: KBM, 2022).

Produktivitas menulis Pak Agung Nugroho menjadi pelecut bagi saya untuk terus berproses menulis. Pak Agung Nugroho memberikan pelajaran hidup yang sangat berarti bagi saya. Kondisi fisik yang kurang prima tidak menghentikan beliau untuk berkarya. Buku demi buku beliau rutin terbit setiap tahun.

Komitmen berkarya adalah kunci penting. Saya perlu banyak belajar ke Pak Agung Nugroho. Semoga beliau segera pulih dan terus berkarya. Amin.

 

Tulungagung, 14 Januari 2023

4 komentar:

  1. Masya Allah inspiratif. Terima kasih atas tulisan tulisan Prof Naim yang selalu memotivasi. (abdisita )

    BalasHapus
  2. Terima kasih Prof. Naim sll menginspirasi. Selalu silaturahmi dg menulis.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.